Skripsi Scoping Review: Pengertian, Tahapan, dan Cara Melakukannya

Menyusun skripsi tidak selalu harus dilakukan dengan mengumpulkan data langsung melalui kuesioner, wawancara, observasi, atau eksperimen. Dalam bidang tertentu, peneliti dapat memperoleh pemahaman ilmiah dengan memetakan berbagai penelitian yang sudah tersedia. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk tujuan tersebut adalah scoping review.

Skripsi scoping review menjadi pilihan yang menarik ketika mahasiswa ingin mengetahui sejauh mana penelitian mengenai suatu topik telah berkembang. Metode ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi konsep, karakteristik penelitian, jenis bukti, metode yang digunakan, serta berbagai tema yang muncul dari literatur yang tersedia. Karena cakupannya dapat dibuat cukup luas, scoping review juga dapat membantu menemukan area penelitian yang masih terbuka untuk dikaji lebih lanjut.

Meskipun sama-sama menggunakan literatur sebagai sumber informasi, scoping review bukan sekadar kegiatan membaca dan merangkum jurnal. Ada proses sistematis yang perlu dilakukan mulai dari merumuskan pertanyaan penelitian, menentukan kriteria sumber, melakukan pencarian, menyaring artikel, mengekstraksi data, hingga memetakan hasil penelitian. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami konsep dan prosedurnya sebelum menggunakan pendekatan ini dalam skripsi.

Co-authorship analysis

Pengertian Scoping Review

Scoping review adalah metode kajian literatur yang digunakan untuk memetakan secara sistematis berbagai bukti atau penelitian yang tersedia dalam suatu bidang tertentu. Pendekatan ini dapat memberikan gambaran mengenai luasnya literatur, konsep yang digunakan, karakteristik penelitian, jenis sumber bukti, serta topik-topik yang telah maupun belum banyak diteliti.

Fokus scoping review biasanya lebih luas dibandingkan systematic review yang berusaha menjawab pertanyaan penelitian yang sangat spesifik. Jika systematic review dapat digunakan untuk mengetahui apakah suatu intervensi memberikan efek tertentu, scoping review dapat digunakan untuk memetakan berbagai penelitian yang membahas intervensi, konsep, populasi, konteks, maupun metode penelitian yang berkaitan dengan suatu bidang.

Dalam skripsi, pendekatan ini dapat digunakan ketika peneliti belum memiliki gambaran menyeluruh mengenai suatu topik. Hasil pemetaan dapat menjadi dasar untuk memahami perkembangan bidang penelitian sekaligus menentukan celah penelitian yang masih dapat dikembangkan.

Baca juga: Jasa Konsultasi Skripsi agar Cepat Lulus

Tujuan Scoping Review dalam Skripsi

Scoping review memiliki tujuan yang cukup luas sehingga dapat diterapkan pada berbagai bidang ilmu. Pendekatan ini tidak hanya digunakan untuk mencari jawaban atas satu pertanyaan, tetapi juga untuk mengetahui bagaimana suatu topik telah diteliti dan bukti seperti apa yang tersedia.

Tujuan yang dapat dicapai melalui scoping review antara lain:

  • Memetakan jumlah dan karakteristik penelitian yang tersedia.
  • Mengidentifikasi konsep utama dalam suatu bidang.
  • Mengetahui jenis metode penelitian yang telah digunakan.
  • Mengidentifikasi populasi atau objek yang banyak diteliti.
  • Mengetahui konteks penelitian yang telah dikaji.
  • Menggambarkan perkembangan topik berdasarkan periode publikasi.
  • Menemukan tema yang sering muncul dalam penelitian.
  • Mengidentifikasi kesenjangan atau area yang masih terbatas.
  • Menentukan peluang penelitian lanjutan.

Tujuan tersebut membuat scoping review cukup relevan untuk mahasiswa yang mengambil topik penelitian baru atau berkembang. Misalnya, mahasiswa ingin mengetahui bagaimana kecerdasan buatan diterapkan dalam pembelajaran. Alih-alih langsung menguji satu aplikasi, mahasiswa dapat melakukan scoping review untuk memetakan jenis teknologi, bidang pembelajaran, kelompok pengguna, manfaat, kendala, dan metode penelitian yang telah digunakan.

Karakteristik Scoping Review

Salah satu karakteristik utama scoping review adalah cakupan literaturnya yang relatif luas. Peneliti tidak hanya berfokus pada satu jenis penelitian, tetapi dapat mempertimbangkan berbagai sumber yang relevan dengan pertanyaan kajian sesuai protokol yang telah ditentukan.

Scoping review juga memiliki proses pencarian dan seleksi yang sistematis. Walaupun pertanyaannya lebih luas, peneliti tetap harus menjelaskan database yang digunakan, kata kunci pencarian, kriteria inklusi dan eksklusi, proses penyaringan, serta metode ekstraksi data.

Karakteristik lainnya adalah hasil penelitian biasanya disajikan dalam bentuk pemetaan. Pemetaan dapat berupa tabel, diagram, pengelompokan tema, distribusi tahun publikasi, karakteristik populasi, jenis intervensi, atau kategori metodologi.

Dengan karakteristik tersebut, scoping review lebih menekankan pemetaan dan pemahaman terhadap lanskap penelitian daripada menghasilkan satu kesimpulan mengenai efektivitas suatu intervensi.

Perbedaan Scoping Review dan Systematic Review

Scoping review dan systematic review sering dianggap sama karena keduanya menggunakan prosedur pencarian literatur yang sistematis. Padahal, terdapat perbedaan pada tujuan, cakupan pertanyaan, hasil yang diharapkan, dan cara sintesisnya.

Aspek Scoping Review Systematic Review
Fokus Memetakan cakupan penelitian Menjawab pertanyaan spesifik
Pertanyaan penelitian Relatif luas Lebih terarah
Tujuan Menggambarkan lanskap bukti Menilai dan mensintesis bukti
Jenis literatur Dapat cukup beragam Biasanya lebih terfokus
Hasil Pemetaan, kategori, dan tema Kesimpulan berdasarkan bukti
Penilaian kualitas Tidak selalu menjadi fokus utama Umumnya menjadi bagian penting
Sintesis Banyak menggunakan pemetaan naratif atau deskriptif Dapat menggunakan sintesis naratif atau statistik

Perbedaan tersebut tidak berarti scoping review lebih mudah daripada systematic review. Scoping review tetap membutuhkan prosedur yang transparan dan sistematis. Tantangannya justru dapat muncul karena jumlah literatur yang ditemukan sangat banyak dan memiliki karakteristik yang beragam.

Kapan Skripsi Cocok Menggunakan Scoping Review?

Scoping review cocok digunakan ketika topik penelitian memiliki cakupan yang luas dan peneliti ingin memahami bagaimana bidang tersebut telah berkembang. Pendekatan ini juga berguna ketika terminologi dalam suatu bidang masih beragam sehingga peneliti perlu memetakan istilah dan konsep yang digunakan.

Metode ini dapat dipertimbangkan ketika penelitian sebelumnya memiliki desain yang beragam. Misalnya, pada suatu topik terdapat penelitian kuantitatif, kualitatif, studi kasus, survei, eksperimen, dan kajian konseptual. Scoping review dapat membantu mengelompokkan berbagai bukti tersebut berdasarkan karakteristiknya.

Pendekatan ini juga bermanfaat ketika tujuan utama penelitian adalah menemukan research gap. Hasil pemetaan dapat menunjukkan bagian mana yang sudah banyak diteliti dan bagian mana yang masih minim bukti.

Tahapan Scoping Review

Penyusunan skripsi dengan metode scoping review perlu dilakukan melalui tahapan yang terencana. Prosedurnya dapat mengikuti kerangka metodologis yang sesuai dengan pedoman scoping review yang digunakan oleh peneliti dan institusi akademik.

  • Menentukan Topik Penelitian

Topik merupakan dasar dari seluruh proses scoping review. Peneliti perlu menentukan bidang yang ingin dipetakan sebelum mulai mencari artikel.

Topik sebaiknya cukup luas untuk menghasilkan pemetaan yang bermakna, tetapi tidak terlalu luas hingga sulit dikelola. Contohnya, topik “teknologi dalam pendidikan” terlalu luas untuk sebuah skripsi. Topik tersebut dapat dipersempit menjadi “pemanfaatan artificial intelligence dalam pembelajaran perguruan tinggi”.

Pembatasan topik dapat dilakukan berdasarkan populasi, konsep, konteks, jenis teknologi, bidang ilmu, atau periode penelitian.

  • Merumuskan Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian dalam scoping review perlu disusun agar mampu menggambarkan cakupan literatur. Pertanyaannya dapat diarahkan pada konsep, populasi, konteks, karakteristik penelitian, atau jenis bukti yang tersedia.

Contohnya, pertanyaan penelitian dapat berbunyi: “Bagaimana karakteristik penelitian mengenai penggunaan artificial intelligence dalam pembelajaran perguruan tinggi?” Pertanyaan tersebut membuka ruang untuk memetakan berbagai jenis penelitian tanpa membatasi kajian pada satu jenis intervensi.

Pertanyaan yang jelas akan mempermudah peneliti menentukan strategi pencarian dan kriteria artikel. Sebaliknya, pertanyaan yang terlalu umum dapat menghasilkan literatur yang terlalu banyak dan sulit dianalisis.

  • Menentukan Kerangka Pertanyaan

Peneliti dapat menggunakan kerangka khusus untuk membantu menyusun pertanyaan scoping review. Salah satu kerangka yang banyak digunakan dalam kajian scoping adalah PCC, yaitu Population, Concept, dan Context.

Population berkaitan dengan kelompok atau populasi yang menjadi perhatian penelitian. Concept mengacu pada fenomena, intervensi, teknologi, pengalaman, atau konsep utama yang ingin dipetakan. Context menunjukkan lingkungan atau situasi tempat fenomena tersebut dikaji.

Contohnya, dalam penelitian mengenai penggunaan kecerdasan buatan untuk pembelajaran perguruan tinggi, mahasiswa atau dosen dapat menjadi bagian dari population, artificial intelligence dalam pembelajaran menjadi concept, sedangkan perguruan tinggi menjadi context.

  • Menentukan Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Kriteria inklusi digunakan untuk menentukan artikel yang dapat dimasukkan ke dalam kajian. Kriteria ini harus berhubungan langsung dengan pertanyaan penelitian.

Kriteria dapat mencakup tahun publikasi, bahasa artikel, jenis publikasi, populasi, konsep, konteks, serta ketersediaan teks lengkap. Sementara itu, kriteria eksklusi digunakan untuk mengeluarkan artikel yang tidak sesuai dengan tujuan kajian.

Penentuan kriteria harus dilakukan secara konsisten. Peneliti perlu menghindari perubahan kriteria hanya karena ingin memasukkan atau mengeluarkan artikel tertentu.

  • Menyusun Strategi Pencarian Literatur

Strategi pencarian menjadi bagian penting dalam scoping review. Peneliti perlu menentukan database yang sesuai dengan bidang penelitian dan menyusun kombinasi kata kunci yang relevan.

Penggunaan sinonim sangat membantu karena istilah akademik dapat berbeda antara satu penelitian dan penelitian lainnya. Misalnya, topik pembelajaran daring dapat menggunakan istilah online learning, e-learning, digital learning, virtual learning, atau distance learning.

Operator Boolean seperti AND dan OR dapat digunakan untuk menyusun pencarian yang lebih terarah. Peneliti juga perlu mendokumentasikan strategi pencarian agar proses penelitian dapat dipahami dan direplikasi.

  • Melakukan Pencarian Artikel

Setelah strategi pencarian disusun, peneliti dapat mencari artikel melalui database yang telah ditentukan. Hasil pencarian biasanya akan menghasilkan sejumlah besar dokumen yang masih perlu disaring.

Peneliti perlu mencatat jumlah artikel yang ditemukan dari setiap database. Artikel duplikat juga perlu diidentifikasi agar satu penelitian tidak dihitung lebih dari satu kali.

Dokumentasi pencarian sangat berguna ketika peneliti menyusun bagian metode penelitian. Catatan tersebut dapat menjelaskan bagaimana literatur diperoleh dan bagaimana jumlah artikel berkurang selama proses seleksi.

  • Melakukan Screening Literatur

Screening dilakukan untuk menentukan artikel yang sesuai dengan kriteria penelitian. Proses ini dapat dilakukan melalui pemeriksaan judul dan abstrak sebelum dilanjutkan dengan pemeriksaan teks lengkap.

Artikel yang judul dan abstraknya tidak relevan dapat dikeluarkan. Artikel yang terlihat relevan kemudian diperiksa secara lebih mendalam untuk memastikan seluruh kriteria inklusi terpenuhi.

Peneliti perlu mencatat alasan pengeluaran artikel pada tahap teks lengkap. Hal tersebut membantu menjaga transparansi dan memudahkan penyusunan alur seleksi literatur.

  • Mengekstraksi Data

Setelah artikel terpilih, peneliti perlu mengambil informasi penting dari setiap sumber. Proses ini disebut data charting atau ekstraksi data.

Informasi yang dikumpulkan dapat disesuaikan dengan tujuan penelitian. Contoh format ekstraksi dapat meliputi:

Informasi Keterangan
Penulis Nama penulis penelitian
Tahun Tahun publikasi
Negara Lokasi penelitian
Tujuan Tujuan penelitian
Populasi Kelompok yang diteliti
Konsep Fenomena atau konsep utama
Metode Desain penelitian
Konteks Lingkungan penelitian
Temuan utama Hasil penting
Research gap Keterbatasan atau peluang penelitian

Tabel tersebut membantu peneliti melihat karakteristik seluruh artikel secara lebih terstruktur. Formatnya dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan pertanyaan penelitian.

  • Menganalisis dan Memetakan Data

Analisis dalam scoping review umumnya berfokus pada pemetaan informasi yang ditemukan. Peneliti dapat mengelompokkan artikel berdasarkan tahun publikasi, negara, populasi, metode, tema, konsep, atau konteks.

Misalnya, dari 50 artikel yang dianalisis, peneliti menemukan bahwa sebagian besar penelitian dilakukan di perguruan tinggi dan hanya sedikit yang membahas pendidikan sekolah menengah. Temuan tersebut dapat menjadi informasi penting mengenai distribusi penelitian dalam bidang yang dikaji.

Analisis juga dapat menunjukkan perkembangan topik. Jika jumlah penelitian meningkat secara signifikan pada periode tertentu, peneliti dapat membahas kemungkinan bahwa bidang tersebut sedang berkembang dan memiliki perhatian akademik yang semakin besar.

  • Menyajikan Hasil Scoping Review

Hasil scoping review perlu disajikan secara sistematis agar pembaca dapat memahami gambaran literatur dengan mudah. Tabel dan diagram dapat digunakan untuk memperlihatkan karakteristik artikel yang ditemukan.

Pembahasan tidak sebaiknya berhenti pada penyajian jumlah artikel. Peneliti perlu menjelaskan pola yang ditemukan dari pemetaan tersebut.

Contohnya, jika penelitian paling banyak menggunakan metode survei, peneliti dapat menjelaskan dominasi pendekatan tersebut. Jika penelitian kualitatif masih terbatas, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu peluang penelitian lanjutan.

  • Mengidentifikasi Research Gap

Research gap menjadi salah satu hasil yang dapat diperoleh melalui scoping review. Namun, gap tidak seharusnya dibuat hanya karena peneliti ingin menemukan topik baru.

Gap perlu didasarkan pada hasil pemetaan literatur. Misalnya, sebagian besar penelitian membahas manfaat penggunaan teknologi, sedangkan penelitian mengenai risiko, hambatan, atau kesiapan pengguna masih terbatas.

Research gap juga dapat muncul dari ketimpangan populasi, lokasi, konteks, metode, atau perspektif teoritis. Peneliti kemudian dapat menggunakan temuan tersebut sebagai dasar untuk memberikan rekomendasi penelitian berikutnya.

  • Menyusun Pembahasan Skripsi

Bagian pembahasan perlu menginterpretasikan hasil pemetaan secara akademik. Peneliti dapat menjelaskan pola utama, kecenderungan penelitian, temuan yang berbeda, serta area yang masih kurang diteliti.

Pembahasan juga perlu dikaitkan dengan teori dan penelitian relevan. Dengan demikian, hasil scoping review tidak hanya menjadi daftar artikel, tetapi memberikan pemahaman mengenai perkembangan bidang yang sedang dikaji.

Peneliti sebaiknya menghindari pembahasan yang terlalu deskriptif. Kalimat yang hanya menjelaskan “artikel A membahas ini dan artikel B membahas itu” perlu dikembangkan menjadi analisis mengenai hubungan dan pola di antara penelitian tersebut.

Kesalahan yang Sering Dilakukan

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap scoping review sebagai kegiatan mengumpulkan jurnal sebanyak-banyaknya. Padahal, jumlah artikel bukan satu-satunya ukuran kualitas kajian. Artikel harus memiliki hubungan yang jelas dengan pertanyaan penelitian dan memenuhi kriteria yang telah ditentukan.

Kesalahan lain adalah membuat pertanyaan penelitian terlalu luas. Topik yang tidak dibatasi dapat menghasilkan ribuan artikel sehingga mahasiswa kesulitan melakukan screening dan ekstraksi data secara mendalam.

Peneliti juga dapat melakukan kesalahan ketika tidak mendokumentasikan proses pencarian. Database, kata kunci, tanggal pencarian, jumlah hasil, dan proses seleksi sebaiknya dicatat sejak awal.

Kesalahan berikutnya adalah mengubah kriteria inklusi dan eksklusi secara sembarangan. Perubahan kriteria tanpa alasan metodologis dapat menimbulkan bias dan membuat proses penelitian sulit dipertanggungjawabkan.

Kesalahan yang tidak kalah penting adalah menyamakan scoping review dengan systematic review. Meskipun memiliki prosedur yang sama-sama sistematis, tujuan dan bentuk sintesis keduanya berbeda.

konsultasi skripsi

Tips Praktis Menyusun Skripsi Scoping Review

Penyusunan skripsi akan lebih terarah apabila peneliti membuat protokol sebelum pencarian literatur dilakukan. Protokol dapat berisi pertanyaan penelitian, database, kata kunci, kriteria inklusi dan eksklusi, serta rencana ekstraksi dan analisis data.

Gunakan matriks literatur sejak awal. Setiap artikel yang masuk dapat langsung dicatat agar peneliti tidak perlu membuka kembali banyak artikel ketika menyusun bab hasil dan pembahasan.

Kelola referensi dengan perangkat lunak manajemen referensi apabila jumlah sumber cukup banyak. Cara ini dapat membantu mengatur metadata artikel dan mengurangi risiko kesalahan dalam penulisan sitasi.

Peneliti juga sebaiknya melakukan pencarian dengan beberapa kombinasi kata kunci. Istilah yang berbeda dapat menghasilkan artikel yang berbeda sehingga strategi pencarian yang terlalu sempit berpotensi melewatkan penelitian relevan.

Jangan hanya berfokus pada artikel yang mendukung dugaan awal. Scoping review bertujuan memetakan literatur secara objektif sehingga penelitian dengan hasil berbeda tetap perlu diperhatikan selama memenuhi kriteria.

Rekomendasi Penerapan Scoping Review untuk Skripsi

Scoping review dapat menjadi pilihan yang tepat bagi mahasiswa yang ingin mempelajari bidang penelitian yang luas, berkembang, atau memiliki terminologi yang beragam. Pendekatan ini juga cocok ketika tujuan penelitian adalah memetakan karakteristik bukti yang tersedia daripada menguji satu hubungan sebab-akibat.

Sebelum menentukan metode, mahasiswa sebaiknya mendiskusikannya dengan dosen pembimbing. Hal ini penting karena setiap program studi atau perguruan tinggi dapat memiliki ketentuan berbeda mengenai penggunaan scoping review sebagai metode skripsi.

Pastikan pertanyaan penelitian, strategi pencarian, kriteria seleksi, serta teknik analisis sesuai dengan tujuan penelitian. Konsistensi antara seluruh komponen tersebut akan membuat metodologi penelitian lebih kuat.

Untuk topik yang sangat luas, pembatasan berdasarkan populasi, konsep, konteks, periode publikasi, atau bidang tertentu dapat membantu membuat penelitian lebih realistis. Pembatasan tersebut bukan berarti mengurangi nilai penelitian, tetapi membantu peneliti menghasilkan pemetaan yang lebih fokus dan dapat dikelola.

Contoh Sederhana Skripsi dengan Scoping Review

Seorang mahasiswa dapat mengambil topik “Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Pembelajaran di Perguruan Tinggi”. Pertanyaan penelitian dapat diarahkan untuk mengetahui bagaimana karakteristik penelitian mengenai penggunaan artificial intelligence dalam pembelajaran perguruan tinggi.

Mahasiswa kemudian menentukan database dan kata kunci yang sesuai. Artikel yang ditemukan diseleksi berdasarkan kriteria tertentu, misalnya penelitian yang membahas penerapan artificial intelligence dalam konteks pendidikan tinggi dan diterbitkan pada rentang tahun yang telah ditentukan.

Setelah artikel terpilih, informasi seperti penulis, tahun, negara, metode, jenis artificial intelligence, populasi, konteks penggunaan, manfaat, kendala, dan temuan utama dimasukkan ke dalam matriks ekstraksi.

Hasil akhirnya dapat menunjukkan bahwa penelitian mengenai artificial intelligence paling banyak membahas personalisasi pembelajaran dan evaluasi, sedangkan aspek etika atau kesiapan institusi masih relatif terbatas. Temuan tersebut kemudian dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi penelitian sekaligus memberikan rekomendasi bagi penelitian selanjutnya.

Baca juga: Analisis Data Studi Literatur: Teknik dan Tahapan yang Dapat Digunakan

Kesimpulan

Skripsi scoping review merupakan pendekatan penelitian yang digunakan untuk memetakan literatur secara sistematis dan memberikan gambaran mengenai perkembangan suatu bidang. Metode ini dapat mengidentifikasi konsep, populasi, konteks, metode penelitian, tema, serta jenis bukti yang tersedia dalam literatur.

Scoping review berbeda dengan systematic review meskipun keduanya sama-sama menggunakan prosedur pencarian dan seleksi literatur secara sistematis. Scoping review cenderung memiliki pertanyaan yang lebih luas dan berorientasi pada pemetaan, sedangkan systematic review biasanya berfokus pada pertanyaan yang lebih spesifik dan sintesis bukti untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Penerapannya dalam skripsi membutuhkan proses yang terencana, mulai dari menentukan topik, merumuskan pertanyaan, menetapkan kerangka penelitian, menyusun kriteria inklusi dan eksklusi, mencari literatur, melakukan screening, mengekstraksi data, menganalisis hasil, memetakan temuan, hingga mengidentifikasi research gap.

Kualitas skripsi dengan pendekatan ini sangat bergantung pada konsistensi metodologi dan ketelitian peneliti dalam mengelola literatur. Dengan strategi pencarian yang jelas, kriteria seleksi yang konsisten, pencatatan yang rapi, serta analisis yang kritis, scoping review dapat menghasilkan gambaran penelitian yang bermanfaat sekaligus menjadi dasar untuk mengembangkan penelitian berikutnya.

SkripsiYuk! siap membantu Anda melalui layanan konsultasi akademik untuk penyusunan instrumen penelitian, operasionalisasi variabel, penyusunan kuesioner, pedoman wawancara, uji validitas dan reliabilitas, hingga pendampingan metodologi penelitian. Dengan bimbingan yang tepat, proses penyusunan skripsi, tesis, disertasi, maupun publikasi ilmiah dapat berjalan lebih efektif, sistematis, dan sesuai kaidah akademik. Segera konsultasikan kebutuhan Anda melalui WhatsApp atau Instagram untuk mendapatkan informasi program pendampingan yang sesuai.