Menyusun skripsi dengan metode literature review membutuhkan lebih dari sekadar mengumpulkan jurnal dan menuliskan kembali isi penelitian terdahulu. Mahasiswa perlu memahami bagaimana berbagai sumber ilmiah dapat digunakan untuk membangun suatu pembahasan yang utuh, menemukan pola penelitian, membandingkan hasil studi, hingga menunjukkan bagian yang masih belum banyak diteliti. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk tujuan tersebut adalah narrative literature review.
Narrative literature review merupakan bentuk kajian pustaka yang menyajikan hasil penelitian terdahulu melalui uraian naratif. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggabungkan berbagai sumber dengan perspektif, metode, dan karakteristik penelitian yang berbeda selama semuanya memiliki relevansi dengan topik yang dikaji. Fleksibilitas tersebut membuat narrative review banyak digunakan untuk memberikan pemahaman yang luas mengenai perkembangan suatu konsep atau fenomena.
Dalam konteks skripsi, pemahaman terhadap narrative literature review menjadi penting karena mahasiswa sering kali masih menganggap kajian pustaka sebagai kumpulan teori dan rangkuman jurnal. Padahal, kajian literatur yang baik harus menunjukkan hubungan antarsumber, menjelaskan persamaan dan perbedaan temuan, serta memberikan interpretasi terhadap perkembangan penelitian. Oleh karena itu, kemampuan melakukan sintesis literatur menjadi salah satu kunci dalam menghasilkan skripsi berbasis narrative literature review yang kuat.

Pengertian Narrative Literature Review
Narrative literature review adalah metode kajian literatur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, membandingkan, dan menyintesis hasil penelitian terdahulu dalam bentuk uraian naratif. Kajian ini berfokus pada pemahaman terhadap suatu topik berdasarkan berbagai sumber ilmiah yang telah tersedia.
Berbeda dari penelitian yang memperoleh data secara langsung dari responden atau objek penelitian, narrative literature review menggunakan informasi yang sudah dipublikasikan sebagai bahan utama analisis. Sumber tersebut dapat berupa artikel jurnal, buku ilmiah, prosiding, laporan penelitian, karya akademik, maupun sumber ilmiah lain yang relevan dengan fokus penelitian.
Penyajian secara naratif berarti hasil kajian tidak sekadar ditampilkan dalam bentuk daftar penelitian. Peneliti perlu menghubungkan berbagai temuan sehingga membentuk suatu alur pembahasan yang logis. Misalnya, beberapa penelitian dapat menunjukkan bahwa suatu faktor memberikan pengaruh positif, sementara penelitian lainnya menunjukkan hasil yang berbeda. Perbedaan tersebut kemudian dianalisis berdasarkan konteks penelitian, karakteristik responden, metode yang digunakan, atau faktor lain yang mungkin menjelaskan variasi hasil.
Dengan demikian, narrative literature review dapat dipahami sebagai proses membaca, mengevaluasi, membandingkan, dan mengintegrasikan berbagai penelitian terdahulu untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai suatu permasalahan.
Baca juga: Jasa Konsultasi Skripsi agar Cepat Lulus
Fungsi Narrative Literature Review dalam Skripsi
Narrative literature review memiliki fungsi penting dalam membangun dasar akademik suatu penelitian. Kajian yang dilakukan dapat membantu mahasiswa memahami bagaimana suatu topik telah dibahas oleh peneliti sebelumnya serta bagaimana pengetahuan mengenai topik tersebut berkembang.
Kajian literatur juga dapat digunakan untuk menjelaskan konsep dan teori yang menjadi dasar penelitian. Dengan membaca berbagai sumber, mahasiswa dapat mengetahui definisi suatu konsep dari berbagai perspektif, menemukan teori yang paling sesuai, dan memahami bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam penelitian terdahulu.
Fungsi lainnya adalah membantu menemukan research gap. Research gap tidak selalu berarti belum ada penelitian mengenai suatu topik. Kesenjangan dapat muncul karena hasil penelitian sebelumnya tidak konsisten, objek penelitian masih terbatas, konteks penelitian berbeda, atau terdapat aspek tertentu yang belum mendapatkan perhatian memadai.
Narrative literature review juga membantu peneliti menghindari penelitian yang terlalu mirip dengan penelitian terdahulu. Dengan memahami penelitian yang sudah dilakukan, mahasiswa dapat menentukan posisi penelitian yang akan dilakukan dan menjelaskan kontribusi yang ingin diberikan.
Karakteristik Narrative Literature Review
Narrative literature review memiliki karakteristik yang cukup khas. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pencarian sumber, tetapi juga pada kemampuan peneliti dalam menginterpretasikan dan menyatukan berbagai informasi menjadi pembahasan yang koheren.
Karakteristik tersebut membuat narrative literature review berbeda dari kegiatan membaca jurnal untuk mencari kutipan. Peneliti harus mampu melihat hubungan yang lebih luas di antara penelitian yang dikaji.
Beberapa karakteristik penting dapat dilihat pada tabel berikut.
| Aspek | Karakteristik Narrative Literature Review |
|---|---|
| Fokus | Memahami suatu topik atau fenomena secara luas |
| Sumber | Berbagai literatur ilmiah yang relevan |
| Penyajian | Naratif dan tematik |
| Analisis | Membandingkan, menginterpretasikan, dan menyintesis |
| Pemilihan sumber | Fleksibel tetapi tetap berdasarkan relevansi |
| Hasil kajian | Gambaran perkembangan pengetahuan dan temuan penelitian |
| Research gap | Dapat diidentifikasi dari perbedaan atau keterbatasan penelitian |
| Fleksibilitas | Relatif tinggi |
Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa pendekatan naratif memberikan ruang yang cukup besar bagi peneliti untuk menentukan cara mengorganisasi literatur. Namun, fleksibilitas tersebut tetap harus disertai alasan yang jelas agar kajian tidak menjadi subjektif dan tidak terarah.
Perbedaan Narrative Literature Review dengan Kajian Pustaka Biasa
Istilah kajian pustaka sering digunakan untuk menyebut berbagai kegiatan yang berhubungan dengan literatur. Namun, narrative literature review memiliki orientasi analisis yang lebih jelas dibandingkan sekadar menyajikan teori dan penelitian terdahulu.
Kajian pustaka dalam skripsi pada umumnya menjadi bagian dari landasan teori. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian konsep, teori yang digunakan, variabel penelitian, serta hasil penelitian terdahulu. Sementara itu, narrative literature review lebih menekankan proses menyatukan berbagai sumber menjadi suatu interpretasi atau narasi mengenai topik tertentu.
Perbedaan tersebut dapat dilihat dari cara peneliti memperlakukan sumber. Dalam kajian yang hanya bersifat deskriptif, penelitian A, B, dan C mungkin dijelaskan secara terpisah. Dalam narrative literature review, ketiga penelitian tersebut dibandingkan dan dihubungkan untuk mengetahui pola atau perbedaan temuan.
Artinya, inti narrative literature review bukan pada seberapa banyak jurnal yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa baik peneliti memahami dan mensintesis informasi dari jurnal tersebut.
Perbedaan Narrative Literature Review dan Systematic Literature Review
Narrative literature review dan systematic literature review sama-sama menggunakan penelitian terdahulu sebagai sumber utama. Meskipun demikian, keduanya memiliki perbedaan dalam tingkat struktur, proses pencarian, seleksi sumber, dan cara sintesis.
Narrative review umumnya memberikan fleksibilitas yang lebih besar kepada peneliti dalam menentukan literatur yang relevan. Sementara itu, systematic literature review menggunakan prosedur yang lebih terstruktur untuk mengidentifikasi, menyaring, dan mengevaluasi penelitian yang akan dimasukkan.
Systematic review biasanya memiliki strategi pencarian yang terdokumentasi secara rinci dan kriteria inklusi serta eksklusi yang lebih eksplisit. Narrative review dapat menggunakan prinsip seleksi yang lebih fleksibel, tetapi peneliti tetap perlu menjelaskan alasan pemilihan sumber.
| Aspek | Narrative Literature Review | Systematic Literature Review |
|---|---|---|
| Pendekatan | Naratif dan interpretatif | Sistematis dan terstruktur |
| Fleksibilitas | Relatif tinggi | Relatif lebih terbatas |
| Strategi pencarian | Dapat lebih fleksibel | Harus dirancang secara sistematis |
| Seleksi literatur | Berdasarkan relevansi dan pertimbangan peneliti | Mengikuti kriteria yang ditetapkan |
| Sintesis | Narasi dan tema | Sintesis sistematis |
| Tujuan | Memberikan pemahaman luas mengenai topik | Menjawab pertanyaan penelitian secara sistematis |
Pemilihan pendekatan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada kemudahan. Mahasiswa perlu mempertimbangkan tujuan penelitian dan mengikuti pedoman metodologi yang berlaku di perguruan tinggi masing-masing.
Cara Menyusun Skripsi Narrative Literature Review
Menyusun skripsi dengan narrative literature review membutuhkan perencanaan yang baik. Prosesnya dimulai dari menentukan ruang lingkup kajian hingga menyusun sintesis yang dapat menjawab rumusan masalah.
Hal yang perlu diperhatikan adalah setiap tahap harus saling berhubungan. Literatur yang dicari harus sesuai dengan pertanyaan penelitian, analisis harus menggunakan literatur yang telah dipilih, dan kesimpulan harus berasal dari hasil sintesis yang dilakukan.
Berikut alur yang dapat digunakan untuk menyusun narrative literature review.
1. Menentukan topik yang spesifik
Topik menjadi fondasi utama penelitian. Topik yang terlalu luas dapat membuat peneliti kesulitan menentukan batasan literatur, sedangkan topik yang terlalu sempit dapat membuat sumber yang tersedia menjadi terbatas.
Misalnya, topik “teknologi dalam pendidikan” masih terlalu luas untuk dikaji secara mendalam. Topik tersebut dapat diarahkan menjadi “pemanfaatan kecerdasan buatan dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa”. Fokus yang lebih spesifik akan membantu proses pencarian literatur.
2. Merumuskan rumusan masalah
Rumusan masalah harus menjelaskan hal yang ingin diketahui melalui kajian literatur. Pertanyaan dapat diarahkan pada perkembangan suatu konsep, faktor yang memengaruhi fenomena, dampak suatu kebijakan, atau perbedaan hasil penelitian terdahulu.
Rumusan masalah yang jelas akan menjadi filter ketika peneliti menemukan banyak artikel. Artikel yang tidak membantu menjawab rumusan masalah dapat dikesampingkan meskipun memiliki kata kunci yang sama.
3. Menentukan kata kunci pencarian
Kata kunci harus disusun berdasarkan konsep utama dalam penelitian. Peneliti dapat menggunakan kombinasi istilah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Sebagai contoh, penelitian tentang keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran digital dapat menggunakan istilah seperti “student engagement”, “digital learning”, “online learning”, “student participation”, dan istilah lain yang masih berkaitan.
Penggunaan beberapa variasi istilah dapat membantu memperluas pencarian tanpa membuat hasil menjadi terlalu jauh dari fokus penelitian.
4. Menentukan sumber literatur
Literatur sebaiknya diperoleh dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Jurnal ilmiah menjadi salah satu sumber penting karena memuat hasil penelitian yang telah melalui proses publikasi akademik.
Selain jurnal, peneliti dapat menggunakan buku akademik untuk menjelaskan teori dasar. Sumber lain dapat digunakan apabila relevan dan memiliki kredibilitas yang memadai.
Peneliti sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu database. Pencarian dari beberapa sumber akademik dapat membantu memperoleh perspektif yang lebih beragam.
5. Menentukan kriteria literatur
Kriteria diperlukan untuk menentukan artikel mana yang layak digunakan. Kriteria dapat meliputi relevansi topik, tahun publikasi, karakteristik objek penelitian, jenis artikel, bahasa, dan kualitas publikasi.
Contohnya, mahasiswa dapat menetapkan bahwa artikel yang digunakan harus membahas topik yang sesuai dengan rumusan masalah, diterbitkan dalam periode tertentu, serta memiliki informasi metodologi dan hasil penelitian yang jelas.
Kriteria tersebut sebaiknya dicatat sejak awal. Dengan begitu, proses pemilihan sumber menjadi lebih konsisten.
6. Membaca literatur secara kritis
Membaca artikel untuk literature review tidak berarti membaca setiap bagian dengan tingkat perhatian yang sama. Peneliti perlu mengidentifikasi informasi yang berkaitan langsung dengan pertanyaan penelitian.
Bagian penting yang dapat diperhatikan antara lain tujuan penelitian, teori yang digunakan, metode penelitian, karakteristik objek, hasil, keterbatasan, dan rekomendasi penelitian.
Peneliti juga perlu memperhatikan apakah kesimpulan yang dibuat oleh penulis benar-benar didukung oleh hasil penelitian. Cara membaca seperti ini membantu menghasilkan analisis yang lebih kritis.
7. Membuat matriks literatur
Matriks literatur dapat digunakan untuk menyimpan informasi penting dari setiap sumber. Tabel ini juga membantu mahasiswa melihat hubungan antarpublikasi.
| Penulis | Tahun | Fokus | Metode | Temuan Utama | Relevansi |
|---|---|---|---|---|---|
| Peneliti A | 2023 | Pembelajaran digital | Kuantitatif | Meningkatkan keterlibatan | Tinggi |
| Peneliti B | 2024 | Media pembelajaran | Kualitatif | Dipengaruhi kualitas media | Tinggi |
| Peneliti C | 2022 | Teknologi pendidikan | Studi kasus | Memiliki beberapa kendala penerapan | Sedang |
Matriks tersebut tidak harus dimasukkan seluruhnya ke dalam skripsi. Fungsinya terutama untuk membantu peneliti mengorganisasi sumber selama proses analisis.
8. Mengelompokkan penelitian berdasarkan tema
Setelah literatur terkumpul, penelitian terdahulu sebaiknya dikelompokkan berdasarkan tema. Pengelompokan dapat menggunakan aspek seperti faktor penyebab, manfaat, hambatan, dampak, teori, karakteristik objek, atau hasil penelitian.
Pengelompokan tematik membuat tulisan lebih mengalir. Peneliti dapat membahas beberapa artikel dalam satu pembahasan apabila semuanya memiliki fokus yang serupa.
Cara ini juga membantu peneliti menemukan pola. Misalnya, beberapa penelitian mungkin sama-sama menunjukkan manfaat suatu teknologi, tetapi hanya sebagian yang membahas hambatan penerapannya.
9. Melakukan perbandingan antartemuan
Perbandingan menjadi bagian penting dalam narrative review. Peneliti perlu melihat apakah penelitian terdahulu menghasilkan kesimpulan yang konsisten atau justru berbeda.
Jika terdapat perbedaan, jangan langsung menganggap salah satu penelitian keliru. Perbedaan hasil dapat terjadi karena perbedaan karakteristik responden, lokasi penelitian, instrumen, metode analisis, periode penelitian, atau konteks yang digunakan.
Pembahasan mengenai alasan perbedaan tersebut dapat membuat kajian menjadi lebih mendalam.
10. Melakukan sintesis literatur
Sintesis merupakan proses menggabungkan berbagai hasil penelitian menjadi pemahaman yang lebih menyeluruh. Sintesis bukan berarti menjumlahkan hasil penelitian, tetapi menemukan hubungan dan makna dari berbagai temuan.
Sebagai contoh, penelitian A menemukan bahwa pembelajaran digital meningkatkan motivasi mahasiswa. Penelitian B menemukan bahwa manfaat tersebut bergantung pada kualitas interaksi dengan dosen. Penelitian C menemukan adanya kendala berupa keterbatasan akses teknologi.
Ketiga temuan tersebut dapat disintesis menjadi pemahaman bahwa pembelajaran digital berpotensi meningkatkan motivasi, tetapi efektivitasnya tidak hanya ditentukan oleh penggunaan teknologi. Faktor interaksi dan kesiapan fasilitas juga dapat memengaruhi hasil penerapan.
11. Menemukan research gap
Research gap dapat ditemukan setelah peneliti memahami keseluruhan literatur. Gap dapat berupa hasil penelitian yang tidak konsisten, objek yang belum banyak diteliti, konteks yang berbeda, teori yang belum banyak diterapkan, atau metode yang masih memiliki keterbatasan.
Peneliti perlu menghindari pernyataan seperti “belum ada penelitian” apabila pencarian literatur belum dilakukan secara memadai. Lebih aman menggunakan argumentasi berdasarkan pola literatur yang ditemukan.
Misalnya, “sebagian besar penelitian yang ditemukan berfokus pada mahasiswa secara umum, sedangkan kajian pada kelompok mahasiswa dengan karakteristik tertentu masih terbatas.” Pernyataan tersebut lebih akademis karena menunjukkan dasar dari kesimpulan yang dibuat.
Cara Menulis Pembahasan Narrative Literature Review
Pembahasan narrative literature review sebaiknya disusun berdasarkan tema, bukan berdasarkan urutan artikel. Pola ini membuat pembaca memahami suatu isu secara menyeluruh.
Satu paragraf dapat menggabungkan beberapa penelitian yang memiliki hasil serupa. Setelah itu, paragraf berikutnya dapat membahas penelitian yang memiliki temuan berbeda atau memberikan perspektif tambahan.
Contohnya, pembahasan dapat dimulai dengan menjelaskan bahwa sejumlah penelitian menunjukkan adanya manfaat teknologi dalam pembelajaran. Setelah itu, peneliti menjelaskan penelitian yang menemukan keterbatasan atau hasil berbeda. Selanjutnya, kedua kelompok temuan tersebut dibandingkan untuk memperoleh interpretasi yang lebih komprehensif.
Pola seperti ini membuat tulisan tidak terasa seperti “jurnal A mengatakan…, jurnal B mengatakan…, jurnal C mengatakan…”. Sebaliknya, pembaca akan melihat adanya argumentasi yang dibangun dari berbagai sumber.
Kesalahan yang Sering Dilakukan
Kesalahan yang paling umum adalah menjadikan literature review sebagai rangkuman jurnal. Pola tersebut biasanya terlihat dari paragraf yang masing-masing hanya membahas satu penelitian tanpa adanya perbandingan atau hubungan antarsumber.
Kesalahan lainnya adalah mengumpulkan terlalu banyak artikel tanpa memperhatikan relevansinya. Jumlah referensi yang banyak tidak otomatis membuat skripsi menjadi lebih baik apabila sebagian besar sumber tidak mendukung rumusan masalah.
Pemilihan sumber yang tidak kredibel juga dapat melemahkan kajian. Peneliti sebaiknya memeriksa identitas jurnal, penulis, tahun publikasi, penerbit, serta kesesuaian isi sebelum menggunakan suatu sumber.
Kesalahan berikutnya adalah terlalu bergantung pada sumber sekunder. Jika memungkinkan, mahasiswa sebaiknya membaca artikel penelitian asli agar memahami konteks dan hasil penelitian secara langsung.
Mahasiswa juga sering lupa membahas keterbatasan penelitian terdahulu. Padahal, keterbatasan dapat menjadi informasi penting untuk menemukan research gap dan menentukan arah penelitian berikutnya.
Tips Praktis agar Narrative Literature Review Lebih Kuat
Gunakan sistem pencatatan sejak awal. Setiap kali menemukan artikel yang relevan, catat informasi bibliografis dan poin pentingnya agar tidak perlu mencarinya kembali ketika penulisan sudah berlangsung.
Pisahkan antara informasi yang berasal dari sumber dan interpretasi pribadi. Sumber digunakan sebagai dasar bukti, sedangkan analisis peneliti digunakan untuk menjelaskan hubungan dan makna dari temuan tersebut.
Gunakan subtema untuk mengatur pembahasan. Misalnya, jika topik membahas penggunaan teknologi dalam pendidikan, pembahasan dapat dikelompokkan menjadi manfaat, faktor keberhasilan, hambatan penerapan, dan dampaknya terhadap hasil belajar.
Perbarui literatur secara berkala selama proses penyusunan. Penelitian baru yang relevan dapat memberikan perspektif tambahan dan membuat kajian menjadi lebih aktual.
Periksa kembali setiap referensi yang digunakan. Pastikan nama penulis, tahun publikasi, judul, dan sumber tercatat secara konsisten sesuai gaya sitasi yang ditentukan kampus.
Rekomendasi Penerapan untuk Skripsi
Narrative literature review dapat menjadi pilihan yang tepat ketika penelitian bertujuan memberikan gambaran luas dan mendalam mengenai suatu fenomena. Pendekatan ini sangat berguna untuk topik yang memiliki banyak perspektif dan penelitian dengan metode yang beragam.
Mahasiswa dapat menerapkannya pada bidang pendidikan, kesehatan, manajemen, teknologi informasi, komunikasi, sosial, ekonomi, dan berbagai bidang lain. Namun, penerapannya tetap harus disesuaikan dengan karakteristik masalah penelitian dan aturan metodologi yang berlaku di institusi.
Sebelum menentukan narrative literature review sebagai metode skripsi, mahasiswa sebaiknya berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Hal ini penting karena setiap program studi dapat memiliki ketentuan berbeda mengenai bentuk penelitian yang dapat digunakan sebagai skripsi.
Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa penelitian memiliki kontribusi yang jelas. Walaupun menggunakan penelitian terdahulu sebagai sumber utama, skripsi tetap harus menunjukkan nilai analitis melalui sintesis, interpretasi, identifikasi gap, atau rekomendasi yang dihasilkan.
Baca juga: Metode Penelitian Studi Literatur: Jenis dan Tahapan yang Perlu Dilakukan
Kesimpulan
Skripsi narrative literature review merupakan penelitian yang menggunakan berbagai sumber ilmiah untuk memahami dan menyintesis pengetahuan mengenai suatu topik. Pendekatan ini memiliki karakteristik berupa penyajian naratif, fleksibilitas dalam pemilihan literatur, analisis kritis, perbandingan temuan, dan sintesis informasi.
Penyusunan narrative literature review perlu dilakukan secara terarah melalui penentuan topik, perumusan masalah, pencarian literatur, penetapan kriteria sumber, pembacaan kritis, pembuatan matriks, pengelompokan tema, perbandingan hasil, hingga sintesis dan identifikasi research gap.
Hal terpenting dalam metode ini bukanlah banyaknya jurnal yang digunakan, melainkan kemampuan peneliti dalam menghubungkan berbagai sumber menjadi argumentasi yang logis. Dengan proses analisis yang baik, narrative literature review dapat menghasilkan skripsi yang informatif, kritis, dan memiliki dasar akademik yang kuat.
SkripsiYuk! siap membantu Anda melalui layanan konsultasi akademik untuk penyusunan instrumen penelitian, operasionalisasi variabel, penyusunan kuesioner, pedoman wawancara, uji validitas dan reliabilitas, hingga pendampingan metodologi penelitian. Dengan bimbingan yang tepat, proses penyusunan skripsi, tesis, disertasi, maupun publikasi ilmiah dapat berjalan lebih efektif, sistematis, dan sesuai kaidah akademik. Segera konsultasikan kebutuhan Anda melalui WhatsApp atau Instagram untuk mendapatkan informasi program pendampingan yang sesuai.


