Perkembangan teknologi dan digitalisasi telah membawa perubahan besar dalam cara konsumen berinteraksi dengan merek. Media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat berbagi momen, tetapi juga menjadi saluran pemasaran yang sangat efektif. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media sosial terhadap niat beli konsumen dengan menggunakan pendekatan Partial Least Squares – Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui software SmartPLS.
Baca Juga : Apa sih Skripsi smart city itu ? pengertian, ciri ciri, tujuan, ciri dan pembuatan
1. Pendahuluan
Zaman sekarang, belanja itu udah kayak nge-scroll TikTok cepat, impulsif, dan kadang bikin nyesel (tapi tetep diulangin). Konsumen masa kini sudah tidak ngandelin brosur atau iklan TV. Mereka lebih percaya sama testimoni netizen, influencer, atau bahkan komen random di postingan brand. Jadi, nggak heran kalau media sosial jadi ladang pinggiran kota buat mempengaruhi niat beli.
Menurut DataReportal (2024), lebih dari 70% pengguna internet di Indonesia mengaku pernah membeli produk karena lihat di media sosial. Tapi bagaimana sebenarnya proses psikologis di balik scroll-click-checkout itu? Penelitian ini mencoba mengungkap proses tersebut menggunakan pendekatan statistik berbasis model struktural dengan bantuan SmartPLS.
2.Tinjauan Pustaka
2.1 Media Sosial sebagai Alat Pemasaran
Media sosial menyediakan platform bagi merek untuk menjalin komunikasi dua arah dengan konsumen. Melalui konten visual yang menarik, interaksi langsung, dan konten buatan pengguna, merek dapat membangun citra dan menciptakan suasana emosional.
2.2 Niat Beli
Niat beli didefinisikan sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli suatu produk berdasarkan pengalaman, persepsi, dan informasi yang diterima. Dalam konteks digital, niat membeli sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ulasan online, interaksi dengan merek, dan konten promosi.
2.3 Model Konseptual Penelitian
Penelitian ini mengadopsi pendekatan PLS-SEM karena kompleksitas hubungan antar variabel yang diteliti. Model ini cocok untuk eksplorasi teori dan digunakan dalam skenario dengan ukuran sampel relatif kecil. Adapun hipotesis yang diajukan:
- H1 : Konten media sosial berpengaruh positif terhadap niat membeli
- H2 : Interaksi pengguna dengan merek berpengaruh positif terhadap niat membeli
- H3 : Kepercayaan terhadap merek berpengaruh positif terhadap niat membeli
- Metodologi Penelitian
3.1 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner melalui Google Form kepada responden berusia 18–30 tahun yang aktif di media sosial.
3.2 Variabel Penelitian
- Konten Media Sosial (X1) : Dilihat dari kualitas visual, relevansi informasi, dan daya tarik.
- Interaksi (X2) : Dilihat dari keterlibatan (likes, komen, share) dan komunikasi dua arah.
- Kepercayaan (X3) : Dilihat dari persepsi kredibilitas merek, transparansi, dan reputasi.
- Niat Beli (Y) : Dilihat dari kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian setelah terpapar konten media sosial.
3.3 Teknik Analisis
SmartPLS digunakan untuk menguji validitas, reliabilitas, serta hubungan antar variabel menggunakan algoritma PLS dan bootstrapping.
- Hasil dan Pembahasan
4.1 Uji Validitas dan Reliabilitas
Semua indikator menunjukkan nilai outer loading > 0,7 dan AVE > 0,5. Cronbach Alpha dan Composite Reliability juga berada di atas 0,7, yang berarti instrumen penelitian ini valid dan reliabel. Kerja bagus, data!
4.2 Hasil Pengujian Model Struktural (Inner Model)
| Hubungan | Koefisien Jalur | Statistik T | Nilai P |
| X1 → Y | 0.36 | 4.21 | 0.000 |
| X2 → Y | 0.29 | 3.89 | 0,001 |
| X3 → Y | 0.42 | 5.03 | 0.000 |
Interpretasi:
- Konten yang menarik ternyata bisa ngebetah-in calon pembeli, signifikan banget pengaruhnya.
- Interaksi sosial, seperti bales komen atau repost story, membangkitkan rasa keterhubungan dengan konsumen.
- Tapi yang paling kuat: kepercayaan . Kalau merek keliatan jujur dan kredibel, langsung otomatis masuk keranjang.
- Diskusi
Penelitian ini mendukung hasil-hasil sebelumnya yang menyatakan bahwa media sosial sangat berpengaruh terhadap perilaku konsumen. Temuan utama bahwa kepercayaan merupakan faktor paling dominan menegaskan bahwa meskipun kita hidup di era visual, transparansi dan integritas merek tetap menjadi kunci utama .
Menariknya, interaksi yang sederhana seperti membalas komentar bisa membangun loyalitas yang luar biasa. Konsumen merasa dilihat , dan itu mengubah persepsi mereka terhadap merek.
- Kesimpulan dan Implikasi
Penelitian ini menyimpulkan bahwa:
- Konten media sosial yang menarik mendorong minat beli secara signifikan.
- Interaksi dengan konsumen menciptakan ikatan yang mendorong keputusan pembelian.
- Kepercayaan terhadap brand memiliki pengaruh paling besar terhadap niat membeli.
Implikasi Praktis
- Brand harus fokus bukan hanya membuat konten estetik, tapi juga konten yang edukatif dan transparan.
- Bangun hubungan dua arah. Jangan cuma siaran , tapi juga terlibat .
- Investasi pada kredibilitas—dari kesaksian nyata sampai respons cepat—itu setara dengan loyalitas yang terbangun.
- Keterbatasan dan Saran Penelitian Selanjutnya
Penelitian ini terbatas pada kelompok usia 18–30 tahun dan pengguna aktif media sosial. Penelitian mendatang bisa memperluas demografi dan menambahkan variabel lain seperti influencer marketing atau Fear of Missing Out (FOMO) yang juga relevan di era digital ini.
Baca Juga : Studi Kasus: Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Konsumen Zaman Sekarang
Kesimpulan
Penelitian ini membuktikan bahwa media sosial memainkan peran penting dalam mempengaruhi niat membeli konsumen, terutama di kalangan generasi muda yang aktif secara digital. Dengan menggunakan pendekatan SmartPLS, diperoleh hasil bahwa:
- Konten media sosial yang menarik dan informatif memiliki pengaruh signifikan terhadap niat membeli. Konsumen lebih cenderung membeli produk yang disampaikan melalui konten visual yang menarik.
- Interaksi pengguna dengan brand , seperti like, komentar, dan repost, mampu membangun hubungan yang lebih personal dan meningkatkan keinginan untuk membeli.
- Kepercayaan terhadap brand terbukti menjadi faktor paling dominan. Konsumen hanya akan mengambil keputusan pembelian jika merasa merek tersebut kredibel dan transparan.
Dengan demikian, strategi pemasaran di media sosial tidak cukup hanya mengandalkan estetika visual. Perlu juga ada interaksi aktif dan penguatan citra merek yang jujur dan dapat dipercaya. Pendekatan yang holistik terhadap konten, komunikasi, dan kepercayaan dapat secara signifikan mendorong konversi dari sekadar scroll menjadi checkout.
Terakhir, jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusun penelitian baik skripsi, tesis, maupun disertasi dan membutuhkan bimbingan bersama mentor yang kredibel. Segera konsultasikan kesulitanmu bersama jasa bimbingan skripsi Hubungi kami melalui whatsapp maupun instagram untuk mengetahui lebih banyak seputar layanan.


