Perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan bukan hanya isu sosial, tapi juga psikologis yang memiliki dampak jangka panjang. Dalam konteks psikologi pendidikan, fenomena perundungan menjadi penting karena berpengaruh langsung terhadap perkembangan mental, emosional, dan akademik peserta didik. Oleh karena itu, skripsi yang mengangkat tema “psikologi pendidikan dan perundungan” hadir bukan sekadar mengungkap data, tetapi menjadi upaya ilmiah untuk mengurai masalah dan mencari solusi.
Baca Juga : Penjelasan Skripsi Psikologi Pendidikan dan Efektivitas Belajar Daring
Psikologi Pendidikan dan Relevansinya terhadap Fenomena Perundungan
Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu yang mempelajari bagaimana individu belajar dalam konteks pendidikan, serta bagaimana intervensi psikologis dapat meningkatkan proses dan hasil belajar. Dalam skripsi ini, psikologi pendidikan dijadikan lensa untuk memahami mengapa dan bagaimana perundungan terjadi, serta apa dampaknya bagi perkembangan peserta didik.
Anak-anak dan remaja yang menjadi korban perundungan umumnya menunjukkan gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, penurunan motivasi belajar, bahkan munculnya ide bunuh diri. Dari perspektif psikologi pendidikan, ini merupakan sinyal bahaya yang tak boleh diabaikan, karena kesehatan mental siswa berkaitan erat dengan performa akademik dan kehidupan sosial mereka di sekolah.
Selain itu, pelaku perundungan juga sering kali memiliki latar belakang psikologis tertentu, seperti kurangnya empati, model peran yang negatif di lingkungan rumah, atau bahkan pernah menjadi korban perundungan sebelumnya. Dalam skripsi ini, penulis memanfaatkan teori-teori seperti social learning theory dan attachment theory untuk menganalisis perilaku pelaku bullying.
Psikologi pendidikan juga menyediakan dasar untuk intervensi. Misalnya, penerapan pendekatan kognitif-behavioral untuk membangun regulasi emosi pada siswa, atau penggunaan pembelajaran sosial-emosional (SEL) dalam kurikulum untuk meningkatkan empati dan keterampilan interpersonal siswa. Semua ini bisa menjadi strategi pencegahan dan penanganan perundungan di sekolah.
Dengan demikian, pembahasan awal skripsi ini menekankan bahwa memahami bullying tidak cukup dari aspek hukum atau tata tertib sekolah saja. Harus ada pendekatan psikologis yang menyeluruh, yang melihat siswa sebagai individu yang sedang berkembang dan membutuhkan dukungan.
Konteks Perundungan di Sekolah dan Implikasinya
Perundungan bukan fenomena baru, tapi bentuk dan dampaknya telah berevolusi seiring perkembangan zaman. Di era digital ini, perundungan bisa terjadi secara daring (cyberbullying), yang sering kali lebih sulit dideteksi karena terjadi di luar pantauan guru atau orang tua. Oleh karena itu, skripsi ini memotret berbagai bentuk bullying yang terjadi di sekolah-sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dari hasil observasi dan wawancara, ditemukan bahwa banyak siswa tidak memahami bahwa tindakan mereka tergolong bullying. Misalnya, memberi julukan yang menyakitkan hati, mengecualikan teman dari grup kelas, atau menyebar gosip melalui media sosial. Semua ini dianggap “cuma bercanda”, padahal dampaknya bisa sangat dalam bagi korban.
Implikasi dari perundungan ini sangat luas. Korban mengalami penurunan rasa percaya diri, kehilangan semangat belajar, dan menarik diri dari pergaulan. Bahkan, beberapa siswa menunjukkan gejala gangguan psikosomatis seperti sakit kepala atau perut setiap kali harus ke sekolah. Kondisi ini jelas mengganggu proses belajar-mengajar.
Namun, tidak hanya korban yang terdampak. Siswa yang menjadi pelaku pun biasanya memiliki kebutuhan psikologis yang belum terpenuhi. Misalnya, mereka mencari kekuasaan atau pengakuan karena merasa tak mendapatkannya di rumah atau kelas. Inilah mengapa penulis skripsi menekankan pentingnya pendekatan preventif daripada sekadar represif (hukuman).
Lebih lanjut, penulis menyarankan perlunya pelatihan guru dan staf sekolah untuk mengenali tanda-tanda perundungan serta membangun budaya sekolah yang aman dan suportif. Karena sejatinya, sekolah seharusnya menjadi tempat berlindung, bukan tempat bertarung.

Tujuan dan Metodologi Penelitian
Penelitian dalam skripsi ini dirancang untuk menjawab beberapa pertanyaan kunci:
-
Apa saja bentuk perundungan yang paling umum terjadi di sekolah menengah?
-
Bagaimana kondisi psikologis siswa yang menjadi korban, pelaku, dan saksi perundungan?
-
Apakah terdapat hubungan antara dukungan sosial dan resiliensi terhadap dampak perundungan?
-
Seberapa besar peran guru BK dan lingkungan sekolah dalam mencegah dan menangani bullying?
Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis menggunakan pendekatan kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada 200 siswa SMP dan SMA. Instrumen yang digunakan antara lain skala bullying, skala resiliensi, dan skala dukungan sosial. Data dianalisis menggunakan regresi linear dan uji korelasi.
Di samping itu, dilakukan juga wawancara mendalam terhadap 10 siswa (5 korban dan 5 pelaku), serta 3 guru BK. Tujuannya adalah memperkaya data kuantitatif dengan narasi dan pengalaman nyata dari lapangan.
Metode ini dipilih karena dapat menggambarkan fenomena secara luas (melalui data statistik) sekaligus mendalam (melalui wawancara). Kombinasi ini membuat hasil skripsi menjadi lebih berbobot dan kontekstual.
Temuan Penelitian dan Implikasi Praktis
Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan menarik:
1. Bentuk Perundungan yang Dominan
-
Bullying verbal (ejekan, hinaan) adalah yang paling banyak terjadi, diikuti oleh eksklusi sosial, lalu cyberbullying.
-
Pelaku sering kali menganggap tindakan tersebut lucu atau “biasa di kalangan teman”.
2. Dampak Psikologis pada Korban
-
Korban perundungan memiliki skor rendah pada skala resiliensi dan motivasi belajar.
-
Banyak korban mengalami gejala stres dan kecemasan.
3. Hubungan Dukungan Sosial dan Resiliensi
-
Dukungan dari teman sebaya dan keluarga berperan besar dalam menurunkan dampak negatif bullying.
-
Siswa dengan tingkat resiliensi tinggi lebih mampu pulih secara emosional.
4. Peran Sekolah
-
Sekolah yang memiliki program anti-bullying dan guru BK yang aktif terbukti lebih rendah tingkat kejadian perundungannya.
-
Sayangnya, masih banyak guru yang belum dilatih khusus untuk menangani bullying secara psikologis.
5. Strategi Intervensi
-
Saran skripsi meliputi pelatihan regulasi emosi, peningkatan keterampilan sosial, dan kampanye kesadaran bullying di sekolah.
-
Dibutuhkan kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa untuk menciptakan lingkungan yang mendukung.
Kontribusi Skripsi dan Relevansinya
Skripsi ini memberikan kontribusi ilmiah dan praktis dalam dunia psikologi pendidikan, khususnya dalam isu bullying. Dari sisi teori, penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya bahwa bullying bukan hanya persoalan disiplin, tapi juga kesehatan mental.
Pertama, skripsi ini mendorong pentingnya integrasi pendidikan sosial-emosional ke dalam kurikulum. Bukan sekadar pelajaran tambahan, tapi bagian dari pembentukan karakter siswa sejak dini.
Kedua, skripsi ini membuka wacana baru mengenai pentingnya student peer support di sekolah, di mana siswa saling menjadi pendengar dan pelindung bagi temannya sendiri. Program semacam ini telah terbukti efektif di beberapa negara maju.
Ketiga, dari sisi kebijakan pendidikan, hasil skripsi ini bisa dijadikan referensi dalam merumuskan SOP penanganan bullying di sekolah-sekolah. Penanganan yang responsif dan berbasis psikologis dinilai lebih manusiawi daripada hanya mengandalkan hukuman.

Kesimpulan
Melalui skripsi ini, terbukti bahwa psikologi pendidikan memiliki peran penting dalam memahami dan menangani fenomena perundungan. Perundungan bukanlah hal sepele, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan mental dan keberhasilan belajar siswa.
Dengan mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, penulis berhasil menggambarkan kompleksitas masalah perundungan, serta memberikan saran strategis yang aplikatif. Mulai dari pendidikan emosi, pelatihan guru, hingga dukungan sosial untuk korban.
Akhirnya, skripsi ini bukan hanya menjadi laporan ilmiah yang selesai ketika diujikan. Tetapi juga menjadi suara bagi mereka yang selama ini diam karena dibungkam oleh rasa takut. Mari kita jadikan sekolah tempat yang ramah dan bebas dari perundungan—karena setiap anak berhak merasa aman untuk belajar dan bertumbuh.
Terakhir, jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusun penelitian baik skripsi, tesis, maupun disertasi dan membutuhkan bimbingan bersama mentor yang kredibel. Segera konsultasikan kesulitanmu bersama jasa bimbingan skripsi Hubungi kami melalui whatsapp maupun instagram untuk tahu lebih banyak seputar layanan.

