Kemampuan berbahasa yang baik dan benar merupakan bagian penting dalam dunia pendidikan, terutama dalam keterampilan menulis. Di balik tulisan yang enak dibaca dan mudah dipahami, tersembunyi dua elemen krusial: ejaan dan tanda baca. Keduanya sering kali dianggap sepele, namun memiliki pengaruh signifikan terhadap makna dan kualitas tulisan. Ketika siswa belum memahami pentingnya ejaan dan tanda baca, maka kemungkinan besar mereka akan menghasilkan karya tulis yang membingungkan atau bahkan menimbulkan salah tafsir.
Baca Juga : Standar Format PowerPoint dalam Presentasi Ilmiah dan Sidang Skripsi
Latar Belakang dan Rumusan Masalah
Dalam dunia pendidikan, kualitas kemampuan menulis siswa sangat dipengaruhi oleh penguasaan aturan kebahasaan, termasuk di dalamnya ejaan dan tanda baca. Ejaan mencakup penulisan huruf kapital, pemenggalan kata, penulisan kata serapan, dan sebagainya, sedangkan tanda baca mencakup koma, titik, tanda tanya, tanda seru, hingga tanda hubung. Tanpa pemahaman yang baik terhadap kedua aspek ini, teks yang dihasilkan siswa dapat menjadi sulit dimengerti.
Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa banyak siswa masih melakukan kesalahan dalam aspek ini, baik karena kurangnya pemahaman maupun kurangnya perhatian terhadap detail. Padahal, pemahaman ejaan dan tanda baca bukan hanya soal teknis, tapi menyangkut logika bahasa dan kemampuan berpikir sistematis. Ini menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara kemampuan berbahasa dengan kemampuan berpikir kritis.
Skripsi ini berangkat dari kenyataan di lapangan bahwa banyak tugas tulisan siswa, seperti esai, cerpen, bahkan laporan praktikum, masih mengandung kesalahan dalam ejaan dan tanda baca. Hal ini menjadi cerminan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah masih belum maksimal dalam menanamkan pentingnya aturan kebahasaan yang baik.
Rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain: (1) Jenis kesalahan ejaan dan tanda baca apa saja yang paling sering dilakukan oleh siswa? (2) Apa penyebab utama dari kesalahan tersebut? (3) Bagaimana strategi pembelajaran bahasa Indonesia dapat ditingkatkan untuk mengatasi permasalahan ini?
Dengan merumuskan masalah secara jelas, peneliti dapat menyusun arah penelitian secara sistematis dan menemukan solusi yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif di dunia pendidikan.
Tujuan dan Metode Penelitian
Tujuan utama dari skripsi ini adalah untuk menganalisis kesalahan ejaan dan tanda baca yang dilakukan oleh siswa dalam penulisan tugas-tugas akademik. Lebih jauh lagi, penelitian ini ingin mengidentifikasi pola kesalahan serta menyelidiki faktor-faktor penyebabnya. Selain itu, skripsi ini bertujuan untuk memberikan saran perbaikan dalam strategi pembelajaran bahasa Indonesia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan sumber data utama berupa karya tulis siswa, seperti esai atau karangan bebas yang dikumpulkan dari beberapa kelas. Analisis dilakukan secara manual maupun dengan bantuan aplikasi pengolah teks, dengan memeriksa setiap kata dan tanda baca yang digunakan.
Peneliti juga melakukan wawancara singkat dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk mengetahui sejauh mana pengajaran ejaan dan tanda baca diterapkan di kelas. Selain itu, peneliti juga menyebarkan angket kepada siswa untuk mengetahui pemahaman mereka terhadap materi kebahasaan tersebut.
Teknik analisis data dilakukan melalui klasifikasi jenis kesalahan, frekuensi kesalahan, serta analisis mendalam terhadap penyebabnya. Kesalahan-kesalahan tersebut kemudian dibandingkan dengan aturan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) untuk mengetahui sejauh mana penyimpangannya.
Dari metode ini, diharapkan hasil penelitian mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai kondisi nyata penggunaan ejaan dan tanda baca di kalangan siswa. Dengan pendekatan kualitatif, aspek-aspek subjektif seperti sikap siswa terhadap bahasa pun bisa diangkat ke permukaan.

Temuan Kesalahan Ejaan Siswa
Penelitian menemukan bahwa kesalahan ejaan yang paling sering dilakukan siswa meliputi:
- Penggunaan huruf kapital yang tidak tepat, terutama dalam penulisan nama orang, nama tempat, dan awal kalimat.
- Pemenggalan kata yang tidak sesuai, seperti penggunaan imbuhan yang dipisah dari kata dasar secara salah (misal: “di sekolah” vs “disekolah”).
- Kesalahan penulisan kata serapan, terutama dari bahasa asing seperti “komunikasi”, “teknologi”, yang sering ditulis dengan variasi fonetik.
- Penulisan kata ulang tanpa tanda penghubung, misalnya “anak anak” yang seharusnya ditulis “anak-anak”.
- Penggabungan kata yang tidak sesuai kaidah, seperti “terimakasih” (yang seharusnya “terima kasih”) atau “apapun” (yang seharusnya “apa pun”).
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun siswa terbiasa menulis, masih banyak yang belum memahami kaidah ejaan yang berlaku. Sebagian besar kesalahan terjadi karena pengaruh dari komunikasi informal sehari-hari, seperti di media sosial dan pesan singkat.
Temuan Kesalahan Tanda Baca dan Penyebabnya
Kesalahan penggunaan tanda baca yang ditemukan antara lain:
- Koma yang salah tempat atau tidak digunakan sama sekali, terutama dalam kalimat majemuk atau anak kalimat.
- Penggunaan titik di tengah kalimat, karena siswa sering menyamakan titik sebagai jeda, bukan akhir kalimat.
- Penggunaan tanda tanya dan seru secara berlebihan, yang umum ditemukan dalam narasi atau dialog buatan siswa.
- Ketiadaan tanda kutip pada kalimat langsung, yang menyulitkan pembaca dalam memahami struktur narasi.
- Penggunaan tanda baca ganda, seperti “??” atau “!!” yang meniru gaya media sosial.
Penyebab kesalahan tersebut antara lain:
- Kurangnya latihan intensif di kelas, karena materi ejaan dan tanda baca sering dianggap “pelajaran ringan”.
- Minimnya umpan balik dari guru, sehingga siswa tidak tahu kesalahannya.
- Pengaruh budaya digital, di mana gaya tulis informal menjadi kebiasaan.
- Ketidaksesuaian antara teori di buku teks dan praktik siswa, karena materi kadang terlalu kaku dan tidak aplikatif.
- Kurangnya minat siswa membaca teks yang benar secara gramatikal, sehingga tidak ada contoh nyata sebagai acuan.
Implikasi dan Rekomendasi
Berdasarkan temuan tersebut, terdapat sejumlah implikasi yang perlu diperhatikan oleh guru, kurikulum, dan pihak sekolah. Pertama, pengajaran bahasa Indonesia harus menempatkan ejaan dan tanda baca sebagai materi inti, bukan sekadar pelengkap. Materi ini sebaiknya diajarkan secara kontekstual, misalnya melalui analisis teks populer atau tugas menulis kreatif.
Kedua, guru harus memberikan umpan balik spesifik dan berkelanjutan terhadap tulisan siswa, termasuk membahas kesalahan kecil sekalipun. Umpan balik yang bersifat formatif akan lebih efektif dalam membentuk kebiasaan menulis yang benar daripada hanya mengandalkan nilai akhir.
Ketiga, sekolah perlu menyediakan materi pembelajaran tambahan yang menyenangkan dan interaktif, seperti game kebahasaan, kuis daring, atau konten TikTok edukatif (biar Gen Z relate, ya kan?). Hal ini penting agar siswa tidak merasa bahwa belajar ejaan itu membosankan.
Rekomendasi lain yang dapat dipertimbangkan:
- Guru mengajak siswa membuat “klinik bahasa” kecil-kecilan di kelas.
- Siswa diajak membuat buku kumpulan cerita pendek yang dinilai berdasarkan ejaan dan tanda baca.
- Sekolah rutin mengadakan lomba menulis antarkelas dengan penilaian berbasis PUEBI.
Baca Juga : Skripsi Kriptografi: Penerapan Tanda Tangan Digital Berbasis Kurva Eliptik
Kesimpulan
Skripsi mengenai ejaan dan tanda baca siswa membuka mata kita bahwa kesalahan kecil dalam bahasa bisa berdampak besar terhadap makna dan kualitas tulisan. Penelitian ini menunjukkan bahwa meski siswa telah mengenal ejaan dan tanda baca sejak SD, penerapannya masih jauh dari sempurna. Banyak kesalahan terjadi akibat kurangnya perhatian, latihan, dan contoh konkret dalam pembelajaran sehari-hari.
Dengan pendekatan yang tepat dan metode pembelajaran yang kontekstual, pemahaman siswa terhadap ejaan dan tanda baca dapat ditingkatkan secara signifikan. Hal ini tentu akan berdampak positif pada kualitas komunikasi tulisan mereka, baik dalam konteks akademik maupun di luar itu.
Sebagai penutup, mari kita sadari bahwa menulis dengan benar itu bukan soal perfeksionis, tapi soal menghargai pembaca. Dan tugas guru serta institusi pendidikan adalah menjembatani kesadaran itu lewat strategi pembelajaran yang menyenangkan, relevan, dan aplikatif. Karena pada akhirnya, ejaan dan tanda baca bukan hanya soal titik dan koma—tapi soal cara berpikir dan berbahasa yang berkelas.
Terakhir, jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusun penelitian baik skripsi, tesis, maupun disertasi dan membutuhkan bimbingan bersama mentor yang kredibel. Segera konsultasikan kesulitanmu bersama jasa bimbingan skripsi Hubungi kami melalui whatsapp maupun instagram untuk tahu lebih banyak seputar layanan.

