Pengembangan Multimedia Interaktif Mawaris

Anda bisa menyimak dan mengunduh abstrak judul skripsi di bagian bawah.

Abstrak

Pengembangan Multimedia Interaktif Mawaris Untuk Mata Pelajaran Agama Islam Kelas XII Di SMA Islam Terpadu Abu Bakar Yogyakarta

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan multimedia interaktif Mawaris yang layak digunakan siswa kelas XII di SMA Islam Terpadu Abu Bakar Yogyakarta. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Hannafin & Peck. Kelayakan produk diketahui melalui validasi yang dilakukan oleh ahli materi dan ahli media. Uji coba dilaksanakan sebanyak dua kali dengan jumlah 12 siswa pada uji coba produk skala terbatas dan 18 siswa pada uji coba produk skala lebih luas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket. Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil validasi oleh ahli media yang memperoleh nilai 77 dari nilai tertinggi 88 sehingga termasuk klasifikasi sangat baik, sedangkan validasi ahli materi memperoleh 69 dari nilai tertinggi 76 termasuk kategori layak, uji coba produk skala terbatas termasuk dalam klasifikasi baik dan uji coba skala lebih luas termasuk dalam klasifikasi sangat baik. Hasil keseluruhan penilaian terhadap multimedia interaktif Mawaris adalah layak digunakan oleh siswa. Kata kunci: multimedia interaktif, mawaris.

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Mayoritas masyarakat di Indonesia adalah beragama Islam. Berdasarkan data dari sensus terakhir yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 dalam bps.go.id, jumlah penduduk yang beragama Islam adalah sebanyak 207.176.162 dari total 237.641.326 penduduk Indonesia atau sebanyak 87,18 persen penduduk Indonesia. Walaupun demikian, bukan berarti nilai-nilai Islam khususnya hukum pembagian waris yang telah ditentukan dalam ajaran agama Islam dilaksanakan sesuai aturan oleh umat Islam. Pada saat ini, banyak yang lebih memilih cara yang mudah untuk pembagian waris dan melupakan hukum waris yang telah diatur dalam ajaran agama Islam. Padahal, hukum waris yang merupakan salah satu ciri khas dari agama Islam telah diatur secara adil. Pembagian harta waris yang dilakukan tidak sesuai dengan ajaran agama Islam dapat menimbulkan berbagai masalah yang juga dapat merusak hubungan kekeluargaan. Dalam Ispranoto (2015), mengatakan bahwa terjadi keributan antara Ibu dan tiga anak kandungnya karena warisan lahan yang ditinggalkan oleh seorang suami dari Ibu tersebut. Hal ini terjadi ketika Ibu tersebut merasa diwarisi lahan oleh suaminya sebelum meninggal. Suami dari Ibu tersebut telah membagi-bagi lahan sebelum meninggal. Ketika sang suami meninggal dan Ibu tersebut ingin mengambil hak tanah yang diberikan kepadanya, tiga anak dari Ibu itu tidak mengizinkannya. Kemudian terjadilah keributan di keluarga tersebut. Kejadian tersebut merupakan salah satu dampak tidak diterapkannya hukum waris secara 2 benar. Apabila harta warisan dibagi sesuai dengan aturan hukum waris, maka tidak akan terjadi hal yang demikian. Penyimpangan-penyimpangan lain dalam pembagian warisan juga kerap terjadi di negara yang penduduknya mayoritas Islam ini. Pembagian harta warisan seakan-akan dianggap tidak penting oleh masyarakat dan dianggap mudah dengan mengesampingkan hukum waris, padahal pembagian warisan telah diatur dalam hukum waris secara rinci dan mendasar. Penyimpangan lainnya yang sering terjadi seperti, membagi waris ketika masih hidup, menyamakan bagian laki-laki dan perempuan, harta milik bersama atau dikuasai salah satu suami/istri, merasa paling berhak atas harta warisan, membuat kesepakatan untuk membagi waris, dan sebagainya. Kesalahan dalam membagi waris seperti membagi waris ketika seseorang masih hidup dapat menimbulkan permasalahan ketika orang tersebut meninggal. Secara aturan dalam ajaran Islam, hal tersebut juga dilarang. Tidak ada pembagian waris yang dilakukan selama seseorang yang menjadi pemilik harta masih hidup. Pembagian harta warisan hanya dapat dilakukan ketika orang tersebut telah meninggal. Apabila orang tersebut ingin membagikan hartanya, yang dapat dilakukan adalah hibah atau wasiat dan bukanlah pembagian warisan. Penerima hibah atau wasiat memiliki ketentuan yang berbeda dengan pembagian waris. Hibah dapat diberikan kepada siapa saja dan dilakukan sebelum ada tanda-tanda kematian, sedangkan wasiat dilakukan ketika sudah ada tanda-tanda kematian dan hanya dapat diberikan kepada yang bukan ahli waris. Wasiat juga hanya dapat menggunakan 1/3 dari keseluruhan harta yang dimiliki sehingga masih terdapat 2/3 harta untuk dibagi kepada ahli waris ketika pemilik harta tersebut meninggal. Jelas 3 bahwa harta warisan hanya dapat dibagi ketika seseorang pemilik harta telah meninggal. Namun demikian, banyak yang mengesampingkannya dengan membagi warisan sebelum meninggal dan menganggap hal tersebut bukan menjadi masalah. Permasalahan lainnya adalah pembagian harta waris sama rata antara bagian untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Hal ini banyak terjadi di masyarakat, padahal telah baku aturan bahwa bagian untuk anak perempuan adalah separuh atau setengah dari bagian laki-laki. Terkadang juga terjadi pembuatan kesepakatan untuk menentukan berapa warisan yang akan diterima oleh tiap-tiap penerima harta waris. Pertimbangan-pertimbangan tertentu membuat seseorang tidak memperhatikan hukum waris. Pembagian harta waris hanya merupakan salah satu aturan agama Islam yang sering dilakukan penyimpangan terhadapnya pada saat ini. Apabila ditelusuri lebih jauh akan dapat lebih banyak diketahui pula bahwasannya banyak sekali terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan ajaran agama Islam. Walaupun penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, namun ternyata itu tidak menjadi jaminan bahwa pelaksanaan ajaran Islam sesuai dengan yang disyariatkan atau yang diperintahkan. Pendidikan beragama Islam merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai agama Islam yang sesungguhnya. Selain untuk meningkatkan pengetahuan, pendidikan agama Islam juga penting untuk meningkatkan kualitas seorang muslim sesuai ajaran Islam. Tujuan dari pendidikan agama Islam adalah terciptanya manusia yang memiliki karakter Islami dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari. Pendidikan 4 agama Islam dapat diberikan melalui keluarga, lingkungan, hingga dunia pendidikan baik formal maupun nonformal. Pentingnya pendidikan agama Islam juga mendapat perhatian dari pemerintah. Telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 pada bab XII Pasal 20, yaitu: (1) Di sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama, orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran tersebut atau tidak. (2) Cara penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah negeri diatur dalam peraturan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, bersama-sama dengan Menteri Agama. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 12 Ayat 1a disebutkan bahwa, setiap siswa pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya. Dengan ditetapkannya undang-undang tersebut, maka tiap satuan pendidikan atau sekolah harus menyelenggarakan pendidikan agama Islam di dalamnya. Aturan ini pun juga telah dilaksanakan oleh tiap satuan pendidikan pada saat ini. Dapat dilihat bahwa sekolah-sekolah yang ada pada saat ini terdapat mata pelajaran Agama Islam yang diajarkan di sekolah tersebut. Pelaksanaan pembelajaran agama Islam telah lama berlangsung, namun dalam pelaksanaannya proses pembelajaran dan hasil belajar siswa tidak selalu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal ini dikarenakan adanya aspek yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik. Berhasilnya pelaksanaan proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik dipengaruhi beberapa aspek (Winarno et al, 2009: 2), yaitu pengajar yang profesional dan berkualitas dengan kualifikasi yang telah diamanahkan oleh Undang-Undang Guru dan Dosen, penggunaan metode belajar yang menarik dan bervariasi, perilaku 5 belajar peserta didik yang positif, kondisi dan suasana belajar yang kondusif untuk belajar, dan penggunaan media pembelajaran yang tepat dalam mendukung proses belajar. Media dan metode pembelajaran merupakan unsur yang saling berkaitan. Pemilihan suatu metode pembelajaran akan mempengaruhi jenis media yang digunakannya. Walaupun masih ada beberapa aspek lain yang harus diperhatikan pula. Media pembelajaran akan sangat mendukung proses pembelajaran, karena menurut Hujair (2013: 7) salah satu fungsi media pembelajaran adalah untuk memberi suasana belajar yang menyenangkan, tidak tertekan, santai, dan menarik, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Menurut hasil wawancara yang dilakukan pada tahap analisis kebutuhan dengan Ibu Nur Hasanah, M.Pd.I, salah satu guru pengampu mata pelajaran Agama Islam di SMA Islam Terpadu Abu Bakar Yogyakarta, terdapat materi yang sulit diajarkan kepada siswanya, yaitu materi waris dan pembagiannya (Mawaris). Materi tersebut merupakan materi sulit diajarkan karena materi yang kompleks namun waktu pembelajaran singkat. Mawaris dinilai menjadi materi yang sulit untuk diajarkan dan sulit dipahami oleh siswa, dibuktikan dengan hasil belajar siswa pada topik bahasan Mawaris menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum lulus mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan beberapa siswa.Siswa merasa kesulitan dalam mempelajari Mawaris karena materi yang harus dipelajari sangat banyak dan kurang menarik bagi siswa. Selain itu sebagian siswa merasa malu ketika harus bertanya mengenai materi yang kurang dipahami. 6 Mawaris sulit untuk diajarkan oleh guru kepada siswa karena memiliki lingkup yang kompleks. Selain itu, kesulitan guru dalam menyampaikan materi kepada siswa disebabkan beberapa faktor, seperti terbatasnya waktu, siswa yang pasif, serta sumber belajar dan media pembelajaran. Waktu yang diberikan untuk mengajarkan materi Mawaris hanya 2 x 45 menit. Materi Mawaris yang begitu kompleks sangat sulit untuk diajarkan dalam waktu yang singkat. Padahal siswa memiliki kemampuan memahami materi yang berbeda-beda, ada yang dapat dengan mudah memahami materi dan ada yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Dalam waktu yang disediakan, guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk dapat menjelaskan materi secara mendalam. Guru hanya dapat menjelaskan materi secara umum dan memberikan sedikit latihan kepada siswa, sehingga siswa mudah lupa terhadap materi yang diajarkan. Faktor berikutnya adalah siswa yang pasif ketika proses pembelajaran berlangsung. Guru pengampu mata pelajaran Agama Islam telah menerapkan metode ceramah dalam pembelajaran dan diakhiri dengan sesi tanya jawab. Namun, hal ini menjadi kelemahan bagi siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran dan tidak memiliki rasa percaya diri untuk menanyakan hal yang kurang dipahaminya. Dengan demikian, siswa yang pasif akan tertinggal dalam pemahaman materi. Faktor lainnya yang mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran adalah sumber belajar dan media pembelajaran. Guru sebagai sumber belajar memiliki peran yang sangat penting dalam pembelajaran, yaitu sebagai fasilitator yang memfasilitasi segala kebutuhan belajar siswa. Guru memiliki keterbatasan dalam menjalankan perannya, sehingga perlu adanya sumber belajar lain dan didukung dengan menggunakan media pembelajaran. Sumber belajar yang digunakan selama 7 ini adalah buku cetak dan belum ada media yang digunakan untuk menunjang pembelajaran. Berdasarkan kendala-kendala yang telah diuraikan diatas, dapat diketahui bahwa diperlukan pengembangan media yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran baik individu maupun kelompok. Dengan dikembangkannya media tersebut, siswa dapat mempelajari materi secara mandiri sehingga tidak ada keterbatasan waktu dalam memahami materi sesuai dengan kemampuan dirinya. Selain itu, tenaga pendidik seperti guru juga dimudahkan dengan dikembangkannya media yang sesuai kebutuhan materi tersebut, sehingga perannya sebagai fasilitator dalam pembelajaran menjadi maksimal. Media yang akan dikembangkan berupa multimedia pembelajaran interaktif berbasis komputer. Menurut Winarno et al (2009: 6), pembelajaran dengan menggunakan atau memanfaatkan multimedia interaktif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Multimedia interaktif dapat membawa dampak dan manfaat bagi siswa dalam belajar sehingga pembelajaran dapat lebih efektif, efisien, dan menyenangkan. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Banyak masyarakat yang belum paham akan pembagian harta warisan. 2. Mawaris menjadi salah satu materi yang sulit untuk diajarkan dalam ruang kelas karena materinya yang kompleks. 8 3. Kurangnya pemahaman siswa mengenai materi hukum Mawaris yang dibuktikan dengan rendahnya hasil belajar siswa. 4. Metode pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi. 5. Waktu yang tersedia untuk kegiatan pembelajaran tidak mencukupi kebutuhan. 6. Terbatasnya sumber dan media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. C. Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka batasan masalah dalam penelitian ini terdapat pada permasalahan terbatasnya media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. D. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana langkah-langkah pengembangan multimedia interaktif yang layak digunakan sebagai media pembelajaran Mawaris untuk pelajaran Agama Islam kelas XII? E. Tujuan Pengembangan Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah menghasilkan produk berupa multimedia interaktif yang layak digunakan sebagai media pembelajaran Mawaris untuk pelajaran Agama Islam kelas XII. F. Manfaat Pengembangan Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh manfaat sebagai berikut: 9 1. Manfaat teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan khususnya keilmuan Teknologi Pendidikan pada kawasan pengembangan khususnya pengembangan multimedia interaktif Mawaris untuk kelas XII SMA. 2. Manfaat praktis a. Bagi Siswa 1) Dapat lebih termotivasi dalam mempelajari ilmu Mawaris. 2) Mempermudah dalam memahami materi yang kompleks. 3) Mendapatkan bahan ajar yang dapat digunakan tanpa terikat waktu. 4) Membantu siswa dalam kegiatan belajar baik secara individu maupun kelompok. b. Bagi Guru Membantu guru dalam memberikan materi Mawaris dengan lebih menarik kepada siswa. c. Bagi Sekolah Memberikan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran Agama Islam untuk kelas XII d. Bagi Peneliti Hasil penelitian yang dilakukan dapat menjadi referensi untuk mengembangkan media pembelajaran untuk kedepannya. e. Bagi Masyarakat Memberikan sebuah layanan untuk mempelajari ilmu pembagian warisan dan dapat diterapkan dalam kehidupan. 10 G. Asumsi Pengembangan Asumsi pengembangan multimedia interaktif Mawaris ini adalah sebagai berikut: 1. Multimedia interaktif Mawaris disusun sebagai media pembelajaran alternatif yang dapat digunakan untuk pembelajaran mandiri maupun pembelajaran di dalam kelas. 2. Siswa akan semakin tertarik untuk mempelajari materi Mawaris dengan adanya multimedia interaktif. 3. Multimedia interaktif Mawaris menjadi alternatif pemecahan masalah dalam pembelajaran. H. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan Penulis akan mengembangkan produk media berupa multimedia pembelajaran interaktif yang dikemas dalam bentuk kepingan CD (Compact Disk) pada mata pelajaran Agama Islam topik bahasan Mawaris. Produk yang akan dihasilkan memiliki spesifikasi sebagai berikut: 1. Multimedia pembelajaran interaktif yang dikembangkan berupa kepingan CD yang dapat digunakan dengan bantuan komputer. 2. Multimedia pembelajaran interaktif ini berisi materi mata pelajaran Agama Islam topik bahasan Mawaris. 3. Sajian materi diberikan dengan model penjabaran materi yang dilanjutkan dengan studi kasus.

Anda bisa mengunduh Pengembangan Multimedia Interaktif Mawaris Untuk Mata Pelajaran Agama Islam Kelas XII Di SMA Islam Terpadu Abu Bakar Yogyakarta atau memesan jasa skripsi serupa di skripsiyuk.com.

Open chat
Konsultasi SkripsiYukiD!