10 Cara Menentukan Novelty Penelitian agar Skripsi Memiliki Kebaruan

Menentukan topik skripsi tidak cukup hanya dengan menemukan masalah yang menarik untuk diteliti. Mahasiswa juga perlu mempertimbangkan apakah penelitian tersebut memiliki kebaruan atau novelty yang dapat membedakannya dari penelitian terdahulu. Kebaruan menjadi salah satu aspek penting karena penelitian akademik sebaiknya memberikan kontribusi tertentu, baik melalui objek, metode, variabel, teori, data, maupun sudut pandang yang digunakan.

Banyak mahasiswa masih menganggap bahwa novelty penelitian skripsi berarti harus menemukan topik yang benar-benar belum pernah diteliti oleh siapa pun. Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat. Kebaruan dapat muncul melalui pengembangan penelitian yang sudah ada, penerapan teori pada konteks berbeda, penggunaan metode yang berbeda, pengujian variabel tertentu pada objek baru, atau pembaruan data berdasarkan kondisi terkini.

Kesulitan menentukan novelty biasanya muncul karena mahasiswa belum mengetahui posisi penelitian yang akan dilakukan dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. Padahal, kebaruan tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat judul penelitian. Mahasiswa perlu membaca literatur, membandingkan penelitian, mengidentifikasi research gap, dan memahami keterbatasan penelitian terdahulu.

Novelty penelitian skripsi juga perlu memiliki alasan akademik yang jelas. Perbedaan objek saja belum tentu cukup jika tidak ada alasan mengapa objek tersebut penting untuk dikaji. Begitu pula penggunaan variabel baru tidak otomatis menjadi novelty apabila tidak didukung teori atau hasil penelitian terdahulu yang relevan.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu menentukan novelty melalui proses yang sistematis. Artikel ini membahas 10 cara yang dapat digunakan untuk menemukan dan merumuskan kebaruan penelitian sehingga skripsi tidak sekadar mengulang penelitian sebelumnya. Dengan memahami langkah-langkah tersebut, mahasiswa dapat menyusun penelitian yang lebih terarah, memiliki kontribusi, dan lebih mudah dijelaskan ketika melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing.

Cara membuat kesimpulan

 Memahami Konsep Novelty dalam Penelitian Skripsi

Novelty dalam penelitian dapat dipahami sebagai unsur kebaruan yang ditawarkan oleh suatu penelitian dibandingkan dengan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Kebaruan tersebut menunjukkan adanya aspek tertentu yang berbeda, dikembangkan, diperbarui, atau dikaji melalui perspektif yang belum banyak digunakan. Dalam skripsi, novelty membantu menjelaskan alasan mengapa penelitian masih relevan untuk dilakukan meskipun topik serupa sudah pernah diteliti.

Kebaruan tidak selalu berbentuk penemuan teori baru. Untuk penelitian tingkat skripsi, novelty dapat berada pada konteks penelitian, karakteristik objek, lokasi, periode penelitian, variabel, metode, instrumen, atau kombinasi beberapa aspek. Hal terpenting adalah mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan tersebut secara logis dan menunjukkan kontribusinya terhadap penelitian yang sudah ada.

Sebagai contoh, penelitian mengenai penggunaan aplikasi pembelajaran mungkin sudah banyak dilakukan. Namun, penelitian tersebut dapat memiliki kebaruan apabila mengkaji aplikasi yang baru digunakan, kelompok pengguna dengan karakteristik berbeda, atau kondisi pembelajaran tertentu yang belum banyak diteliti. Kebaruan harus dijelaskan berdasarkan literatur sehingga tidak hanya berupa klaim bahwa penelitian tersebut berbeda.

Novelty juga memiliki hubungan erat dengan research gap. Research gap menunjukkan kesenjangan yang ditemukan dalam penelitian terdahulu, sedangkan novelty menjelaskan kebaruan atau kontribusi yang ditawarkan untuk merespons kesenjangan tersebut. Dengan kata lain, gap dapat membantu mahasiswa menemukan alasan penelitian dilakukan, sementara novelty membantu menjelaskan apa yang baru dari penelitian tersebut.

Memahami konsep ini penting agar mahasiswa tidak merasa harus menemukan sesuatu yang sepenuhnya belum pernah ada. Penelitian akademik dapat memberikan kontribusi dengan mengembangkan, menguji kembali, memperluas, atau menerapkan pengetahuan yang sudah ada pada kondisi tertentu. Dengan pemahaman tersebut, proses menentukan novelty penelitian skripsi menjadi lebih realistis dan terarah.

Baca juga: Jasa Konsultasi Skripsi agar Cepat Lulus

 Mengapa Novelty Penting dalam Penelitian Skripsi?

Novelty penting karena menunjukkan posisi penelitian yang akan dilakukan di antara penelitian terdahulu. Ketika mahasiswa dapat menjelaskan aspek kebaruan dengan baik, pembaca dapat memahami alasan penelitian tersebut perlu dilakukan. Hal ini juga membantu memperkuat latar belakang karena penelitian tidak hanya didasarkan pada fenomena, tetapi juga memiliki hubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Tanpa novelty yang jelas, sebuah penelitian berisiko terlihat hanya sebagai pengulangan dari penelitian sebelumnya. Pengulangan penelitian sebenarnya dapat dilakukan, terutama untuk menguji konsistensi hasil pada konteks tertentu. Namun, mahasiswa perlu menjelaskan alasan akademik mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan kembali dan apa yang membedakannya dari penelitian sebelumnya.

Novelty juga membantu mahasiswa menentukan batas penelitian. Ketika mengetahui aspek yang ingin dibuat berbeda, mahasiswa dapat lebih mudah memilih objek, variabel, metode, dan sumber data. Misalnya, jika kebaruan terletak pada objek penelitian, maka mahasiswa dapat mempertahankan variabel dan metode yang sudah digunakan tetapi menerapkannya pada karakteristik responden yang berbeda.

Dalam proses bimbingan, dosen pembimbing juga sering meminta mahasiswa menjelaskan kebaruan penelitian. Pertanyaan seperti “apa yang baru dari penelitian ini?” atau “apa perbedaannya dengan penelitian terdahulu?” membutuhkan jawaban yang didukung oleh literatur. Karena itu, novelty sebaiknya dipikirkan sejak tahap awal, bukan baru dicari ketika proposal sudah hampir selesai.

Novelty penelitian skripsi pada akhirnya dapat membantu memperjelas kontribusi penelitian. Kontribusi tersebut dapat berupa pengetahuan tambahan, pengujian model, pemahaman terhadap fenomena tertentu, rekomendasi praktis, atau penerapan metode pada konteks yang berbeda. Semakin jelas kontribusinya, semakin kuat alasan akademik penelitian tersebut untuk dilakukan.

 10 Cara Menentukan Novelty Penelitian agar Skripsi Memiliki Kebaruan

Menentukan novelty membutuhkan proses membaca, membandingkan, dan menganalisis penelitian terdahulu. Mahasiswa dapat menggunakan langkah-langkah berikut untuk menemukan kebaruan yang realistis dan sesuai dengan kemampuan penelitian tingkat skripsi.

  1. Menentukan topik penelitian yang spesifik
    Langkah awal adalah menentukan topik yang ingin diteliti. Topik sebaiknya berasal dari bidang yang sesuai dengan jurusan dan memiliki fenomena atau masalah yang dapat diamati. Topik yang terlalu luas akan menyulitkan mahasiswa menemukan posisi penelitian karena literatur yang harus dibandingkan sangat banyak.

    Sebagai contoh, topik “teknologi digital” terlalu luas. Topik tersebut dapat dipersempit menjadi penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran, penerimaan aplikasi pembayaran digital, atau pengalaman pengguna dalam sistem informasi akademik.

  2. Mengumpulkan penelitian terdahulu
    Setelah topik ditentukan, cari penelitian terdahulu yang relevan. Gunakan jurnal ilmiah, prosiding, skripsi, tesis, atau sumber akademik lain yang dapat dipercaya. Pilih penelitian yang benar-benar memiliki hubungan dengan variabel, objek, teori, atau fenomena yang akan diteliti.

    Jangan hanya mengumpulkan banyak referensi tanpa membaca isinya. Beberapa penelitian yang benar-benar relevan akan lebih bermanfaat daripada puluhan artikel yang hanya memiliki kesamaan kata dalam judul.

  3. Membandingkan hasil penelitian
    Bandingkan hasil dari beberapa penelitian untuk melihat apakah terdapat persamaan atau perbedaan. Perbedaan hasil dapat menjadi petunjuk penting dalam menemukan kebaruan.

    Misalnya, satu penelitian menemukan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan, sementara penelitian lain menemukan pengaruh yang tidak signifikan. Perbedaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menguji kembali hubungan tersebut pada konteks tertentu.

  4. Mengidentifikasi research gap
    Research gap dapat menjadi salah satu sumber utama novelty. Setelah membaca beberapa penelitian, cari bagian yang belum konsisten, belum banyak dikaji, atau masih memiliki keterbatasan.

    Gap dapat muncul dalam hasil penelitian, objek, metode, variabel, teori, lokasi, maupun periode penelitian. Mahasiswa kemudian dapat menentukan apakah gap tersebut dapat dijawab melalui penelitian yang dirancang.

  5. Menemukan perbedaan objek penelitian
    Kebaruan dapat diperoleh melalui penerapan penelitian pada objek yang berbeda. Misalnya, penelitian terdahulu mengenai penggunaan aplikasi dilakukan pada mahasiswa, sedangkan penelitian baru mengkaji pengguna dari kelompok lain.

    Namun, perbedaan objek harus memiliki alasan yang jelas. Mahasiswa perlu menjelaskan karakteristik objek baru dan mengapa kondisi tersebut menarik atau penting untuk dikaji.

  6. Menggunakan konteks atau lokasi yang berbeda
    Lokasi penelitian juga dapat menjadi sumber kebaruan apabila terdapat karakteristik tertentu yang relevan. Penelitian mengenai digitalisasi UMKM, misalnya, dapat memberikan perspektif berbeda jika dilakukan pada wilayah dengan karakteristik usaha atau tingkat adopsi teknologi yang berbeda.

    Perbedaan lokasi tidak otomatis menjadi novelty. Mahasiswa perlu menunjukkan alasan mengapa konteks lokasi tersebut dapat menghasilkan informasi atau pemahaman yang berbeda.

  7. Mengembangkan variabel penelitian
    Novelty juga dapat muncul dari penggunaan variabel tambahan yang memiliki dasar teori. Jika penelitian sebelumnya hanya menguji dua variabel, mahasiswa dapat mempertimbangkan variabel lain yang secara teoritis berpotensi menjelaskan hubungan tersebut.

    Penambahan variabel harus dilakukan secara hati-hati. Jangan menambahkan variabel hanya agar judul terlihat lebih kompleks. Setiap variabel harus memiliki alasan, indikator, teori, dan hubungan yang dapat dijelaskan.

  8. Menggunakan metode penelitian yang berbeda
    Metode juga dapat menjadi sumber kebaruan. Sebuah fenomena yang sebelumnya banyak diteliti secara kuantitatif dapat dikaji secara kualitatif apabila tujuan penelitian membutuhkan pemahaman pengalaman atau proses secara lebih mendalam.

    Begitu pula sebaliknya, fenomena yang sebelumnya banyak dibahas secara deskriptif dapat diuji menggunakan pendekatan kuantitatif apabila terdapat dasar teori yang mendukung.

  9. Menggunakan data atau periode penelitian yang lebih baru
    Perubahan kondisi dapat membuat hasil penelitian terdahulu perlu dikaji kembali. Perkembangan teknologi, perubahan perilaku masyarakat, perubahan kebijakan, atau kondisi ekonomi dapat memengaruhi fenomena yang diteliti.

    Jika penelitian terdahulu menggunakan data beberapa tahun sebelumnya, penelitian baru dapat menggunakan data yang lebih aktual dengan alasan bahwa kondisi objek telah mengalami perubahan. Kebaruan seperti ini perlu dijelaskan dengan baik agar tidak sekadar menjadi pengulangan.

  10. Menggabungkan beberapa aspek secara relevan
    Novelty dapat pula muncul melalui kombinasi beberapa aspek yang sebelumnya belum banyak digunakan secara bersamaan. Misalnya menggabungkan variabel tertentu dengan objek dan konteks yang berbeda.

    Namun, kombinasi tersebut harus tetap memiliki dasar teori. Mahasiswa perlu memastikan bahwa setiap aspek saling berhubungan dan dapat dianalisis dengan metode yang sesuai.

Kesepuluh cara tersebut dapat digunakan secara terpisah maupun dikombinasikan. Mahasiswa tidak harus menggunakan seluruhnya dalam satu skripsi. Pilih bentuk kebaruan yang paling sesuai dengan research gap, kemampuan, sumber data, dan tujuan penelitian.

Contoh Sederhana Menentukan Novelty Penelitian Skripsi

Misalnya terdapat beberapa penelitian mengenai pengaruh kualitas sistem terhadap kepuasan pengguna aplikasi. Penelitian sebelumnya dilakukan pada aplikasi akademik dan marketplace dengan metode kuantitatif. Mahasiswa dapat mencari peluang kebaruan dengan melihat apakah hubungan tersebut telah banyak dikaji pada jenis aplikasi lain.

Jika ditemukan bahwa aplikasi pelayanan publik tertentu masih jarang dikaji, mahasiswa dapat mempertimbangkan objek tersebut. Kebaruannya bukan sekadar karena nama aplikasinya berbeda, tetapi karena penelitian dilakukan pada konteks pelayanan publik yang memiliki karakteristik pengguna dan kebutuhan berbeda.

Contoh lain dapat ditemukan pada penelitian tentang media pembelajaran digital. Jika penelitian sebelumnya lebih banyak mengukur hasil belajar, mahasiswa dapat melihat peluang untuk mengkaji pengalaman atau persepsi pengguna apabila terdapat gap yang mendukung. Dengan cara tersebut, novelty penelitian skripsi dibangun berdasarkan kebutuhan akademik, bukan sekadar mencari perbedaan judul.

 Cara Memastikan Novelty Penelitian Benar-Benar Memiliki Kebaruan

Setelah menemukan calon novelty, mahasiswa perlu memastikan bahwa kebaruan tersebut benar-benar memiliki dasar. Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap penelitian memiliki novelty hanya karena judul, lokasi, atau objeknya berbeda dari penelitian sebelumnya. Padahal, perbedaan tersebut belum tentu memberikan kontribusi apabila tidak ada alasan akademik yang menjelaskan pentingnya perbedaan tersebut.

Langkah pertama adalah melakukan perbandingan secara sistematis dengan penelitian terdahulu. Mahasiswa dapat membuat tabel yang berisi nama peneliti, tahun, objek, variabel, teori, metode, hasil, keterbatasan, dan rekomendasi penelitian. Dari tabel tersebut, perbedaan penelitian akan lebih mudah terlihat dan mahasiswa dapat menentukan posisi penelitiannya.

Beberapa aspek yang dapat dibandingkan untuk memastikan novelty antara lain:

  • Perbedaan objek atau karakteristik responden.
  • Perbedaan lokasi atau konteks penelitian.
  • Perbedaan periode pengambilan data.
  • Perbedaan variabel yang digunakan.
  • Perbedaan teori atau model penelitian.
  • Perbedaan metode penelitian.
  • Perbedaan instrumen atau teknik pengumpulan data.
  • Perbedaan hasil penelitian terdahulu.
  • Perbedaan fenomena atau kondisi yang diteliti.
  • Pengembangan model atau hubungan antarvariabel.

Setelah perbedaan ditemukan, mahasiswa perlu menjelaskan mengapa perbedaan tersebut penting. Misalnya, penelitian sebelumnya dilakukan sebelum adanya perubahan teknologi tertentu, sedangkan penelitian baru dilakukan ketika teknologi tersebut sudah banyak digunakan. Dalam kondisi tersebut, kebaruan dapat dikaitkan dengan perubahan konteks yang berpotensi memengaruhi hasil penelitian.

Mahasiswa juga perlu memastikan bahwa novelty didukung oleh research gap. Jika terdapat penelitian terdahulu yang memberikan hasil berbeda, mahasiswa dapat menjelaskan bahwa penelitian baru dilakukan untuk menguji hubungan tersebut pada konteks tertentu. Jika gap berasal dari keterbatasan objek, mahasiswa perlu menjelaskan alasan pemilihan objek baru.

Hal penting lainnya adalah memastikan adanya sumber literatur yang cukup. Novelty tidak boleh dibuat berdasarkan asumsi pribadi. Klaim bahwa suatu topik “belum pernah diteliti” harus dilakukan dengan pencarian literatur yang memadai. Lebih aman menggunakan pernyataan seperti “masih terbatas pada konteks tertentu” apabila pencarian literatur menunjukkan bahwa penelitian serupa memang sudah ada tetapi belum banyak dilakukan pada konteks yang dipilih.

Novelty yang baik juga harus realistis untuk ukuran skripsi. Mahasiswa tidak perlu memaksakan kebaruan yang terlalu kompleks jika sumber daya dan waktu terbatas. Kebaruan sederhana tetapi memiliki alasan akademik yang jelas akan lebih baik daripada kebaruan yang terlihat besar tetapi sulit dibuktikan atau dilaksanakan.

konsultasi skripsi

 Kesalahan Menentukan Novelty dan Cara Menuliskannya dalam Proposal

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan mahasiswa adalah menganggap mengganti lokasi penelitian sudah cukup untuk menjadi novelty. Perbedaan lokasi memang dapat menjadi unsur kebaruan, tetapi harus terdapat alasan mengapa karakteristik lokasi tersebut relevan dengan masalah penelitian. Jika hanya memindahkan lokasi tanpa memberikan perspektif baru, kebaruan yang ditawarkan menjadi kurang kuat.

Kesalahan lainnya adalah menambahkan variabel secara sembarangan. Mahasiswa terkadang melihat penelitian terdahulu menggunakan dua variabel kemudian menambahkan satu variabel agar terlihat berbeda. Cara tersebut kurang tepat jika variabel tambahan tidak memiliki dasar teori atau tidak berkaitan dengan masalah penelitian.

Mahasiswa juga sering menuliskan novelty secara terlalu umum. Kalimat seperti “penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya” belum menjelaskan letak perbedaannya. Novelty sebaiknya ditulis dengan menunjukkan secara jelas aspek yang dikembangkan, penelitian terdahulu yang menjadi pembanding, dan alasan mengapa pengembangan tersebut penting.

Untuk menuliskan novelty dalam proposal, mahasiswa dapat mengikuti pola berikut:

  • Jelaskan topik atau masalah yang telah banyak diteliti.
  • Tunjukkan temuan atau pendekatan yang dominan dalam penelitian terdahulu.
  • Jelaskan keterbatasan atau gap yang masih ditemukan.
  • Tunjukkan aspek yang akan dikembangkan dalam penelitian.
  • Jelaskan kontribusi atau manfaat dari kebaruan tersebut.
  • Pastikan pernyataan didukung oleh referensi yang relevan.

Sebagai contoh, mahasiswa dapat menjelaskan bahwa penelitian terdahulu mengenai penerimaan teknologi banyak menggunakan objek mahasiswa. Penelitian yang akan dilakukan kemudian mengkaji kelompok pengguna berbeda karena karakteristik penggunaan teknologinya memiliki kondisi yang berbeda. Penjelasan tersebut masih perlu didukung oleh literatur dan alasan teoritis yang relevan.

Novelty juga dapat ditulis pada bagian latar belakang, terutama setelah mahasiswa membahas penelitian terdahulu. Pada bagian tersebut, mahasiswa dapat menunjukkan perkembangan penelitian dan menjelaskan posisi penelitian yang akan dilakukan. Dengan alur tersebut, pembaca dapat memahami hubungan antara fenomena, research gap, dan kebaruan penelitian.

Mahasiswa sebaiknya tidak menunggu sampai bagian akhir proposal untuk memikirkan novelty. Kebaruan perlu dirancang sejak menentukan topik dan melakukan pencarian literatur. Dengan begitu, judul, rumusan masalah, tujuan, variabel, metode, dan instrumen penelitian dapat disusun secara konsisten dengan novelty yang ditawarkan.

Menyusun Peta Kebaruan sebelum Menulis Skripsi

Salah satu cara praktis untuk memperjelas novelty penelitian skripsi adalah membuat peta kebaruan. Peta tersebut dapat berupa tabel yang membandingkan beberapa penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan. Tuliskan aspek utama seperti objek, variabel, metode, teori, lokasi, dan hasil penelitian agar perbedaannya dapat terlihat dengan jelas.

Misalnya terdapat lima penelitian terdahulu dengan variabel dan metode yang hampir sama. Dari perbandingan tersebut, mahasiswa mungkin menemukan bahwa seluruh penelitian menggunakan objek tertentu, sementara kelompok pengguna lain belum banyak dikaji. Temuan tersebut dapat menjadi dasar untuk mengembangkan penelitian baru apabila terdapat alasan teoritis dan praktis yang mendukung.

Peta kebaruan juga dapat membantu mahasiswa menjawab pertanyaan dosen pembimbing mengenai posisi penelitian. Ketika diminta menjelaskan apa yang baru dari penelitian, mahasiswa dapat menunjukkan perbandingan tersebut secara sistematis. Cara ini jauh lebih kuat daripada hanya menyampaikan bahwa penelitian berbeda karena objek atau lokasi penelitian tidak sama.

 Baca juga: 75+ Contoh Judul Skripsi Eksperimen 2026 untuk Berbagai Bidang

Kesimpulan

Novelty penelitian skripsi merupakan unsur kebaruan yang menunjukkan kontribusi atau perbedaan penelitian dibandingkan dengan penelitian terdahulu. Kebaruan tidak harus berupa penemuan teori yang sepenuhnya baru. Novelty dapat berasal dari perbedaan objek, lokasi, konteks, variabel, metode, teori, periode data, instrumen, maupun pengembangan hubungan antarvariabel yang memiliki dasar akademik.

Sepuluh cara yang telah dibahas dapat membantu mahasiswa menentukan kebaruan secara lebih sistematis. Prosesnya dimulai dari menentukan topik, membaca penelitian terdahulu, membandingkan hasil, menemukan research gap, melihat perbedaan objek dan konteks, mengembangkan variabel, mempertimbangkan metode, menggunakan data terbaru, hingga menggabungkan aspek tertentu secara relevan. Setelah itu, novelty perlu diuji kembali agar benar-benar memiliki dasar dan dapat dilaksanakan dalam penelitian.

Pada akhirnya, novelty yang baik bukanlah sekadar sesuatu yang berbeda, tetapi sesuatu yang memiliki alasan dan kontribusi. Mahasiswa perlu mampu menjelaskan apa yang sudah diketahui dari penelitian sebelumnya, bagian mana yang masih memiliki kesenjangan, serta apa yang ditawarkan oleh penelitian baru. Dengan proses tersebut, novelty penelitian skripsi dapat menjadi dasar yang kuat untuk menyusun proposal dan menghasilkan penelitian yang lebih terarah.

SkripsiYuk! siap membantu Anda melalui layanan konsultasi akademik untuk penyusunan instrumen penelitian, operasionalisasi variabel, penyusunan kuesioner, pedoman wawancara, uji validitas dan reliabilitas, hingga pendampingan metodologi penelitian. Dengan bimbingan yang tepat, proses penyusunan skripsi, tesis, disertasi, maupun publikasi ilmiah dapat berjalan lebih efektif, sistematis, dan sesuai kaidah akademik.Segera konsultasikan kebutuhan Anda melalui WhatsApp atau Instagram untuk mendapatkan informasi program pendampingan yang sesuai.