Inflasi adalah salah satu fenomena ekonomi makro yang sering menjadi pusat perhatian dalam kebijakan ekonomi nasional. Ketika inflasi meningkat, harga barang dan jasa ikut naik, dan hal ini berdampak luas terhadap daya beli masyarakat. Namun, efek inflasi tidak hanya dirasakan oleh sektor formal seperti perusahaan besar dan karyawan tetap. Di balik hiruk pikuk perekonomian, sektor informal—yang seringkali tidak tercatat dalam statistik resmi—juga menerima imbas yang signifikan. Oleh karena itu, meneliti hubungan antara inflasi dan sektor informal menjadi penting untuk memahami dinamika ekonomi secara menyeluruh.
Baca Juga : Penjelasan Skripsi Pengendalian Inflasi Melalui Operasi Pasar
Konsep Inflasi dan Sektor Informal
Inflasi didefinisikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu periode waktu. Penyebab inflasi bisa bersumber dari sisi permintaan (demand-pull inflation), biaya produksi (cost-push inflation), maupun ekspektasi inflasi. Di negara berkembang, inflasi cenderung menjadi masalah yang kompleks karena beriringan dengan ketidakstabilan ekonomi, defisit fiskal, dan lemahnya sistem distribusi barang.
Inflasi mempengaruhi berbagai aspek ekonomi, termasuk sektor-sektor yang tidak tercatat secara resmi. Ketika harga barang naik, daya beli masyarakat menurun, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah dan tidak memiliki penghasilan tetap. Sektor informal, yang sebagian besar pekerjanya berada pada kelompok ini, menjadi sangat rentan terhadap tekanan inflasi. Mereka tidak memiliki instrumen keuangan seperti asuransi atau tabungan besar untuk meredam efek harga yang melonjak.
Sektor informal sendiri merupakan bagian dari ekonomi yang tidak tunduk pada regulasi pemerintah secara penuh. Kegiatan di sektor ini tidak dikenai pajak secara langsung, tidak mendapatkan perlindungan hukum ketenagakerjaan, dan umumnya tidak memiliki akses ke sistem keuangan formal. Namun, sektor informal memainkan peran vital dalam menyediakan lapangan kerja alternatif dan menjaga daya beli masyarakat di tengah krisis.
Keterkaitan antara inflasi dan sektor informal bisa dilihat dari bagaimana pelaku sektor informal harus menyesuaikan harga jual, mengurangi jumlah barang dagangan, atau bahkan mencari pekerjaan tambahan untuk mempertahankan pendapatan. Beberapa dari mereka juga mungkin berpindah usaha ke sektor yang dianggap lebih menguntungkan atau bertahan dalam kondisi krisis. Namun, pilihan ini tidak selalu mudah dilakukan tanpa bantuan atau akses terhadap informasi dan modal.
Pentingnya memahami hubungan ini bukan hanya untuk kepentingan akademis, tetapi juga sebagai dasar dalam perumusan kebijakan ekonomi. Dengan mengetahui dampak inflasi secara mikro terhadap pelaku ekonomi kecil, pemerintah dapat merancang program subsidi yang lebih tepat sasaran, mendorong akses pembiayaan mikro, atau bahkan memformalkan sebagian sektor informal agar lebih terlindungi dari gejolak ekonomi.
Kerangka Teori dan Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini, teori utama yang digunakan adalah teori inflasi oleh Keynes dan pendekatan ekonomi dualistik yang dikembangkan oleh W. Arthur Lewis. Teori Keynes menekankan pentingnya pengeluaran agregat dalam menentukan tingkat inflasi, sedangkan teori dualistik melihat adanya dua sektor dalam ekonomi—yakni sektor modern (formal) dan sektor tradisional (informal). Dalam konteks ini, sektor informal menjadi cerminan dari ketidakseimbangan struktural dalam ekonomi negara berkembang.
Untuk menganalisis hubungan antara inflasi dan sektor informal, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan data primer melalui wawancara kepada pelaku sektor informal di tiga kota besar: Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Metode statistik deskriptif dan regresi linier digunakan untuk menguji pengaruh inflasi terhadap pendapatan rata-rata pelaku sektor informal.
Selain itu, pendekatan kualitatif dilakukan untuk menggali pengalaman subjektif para pelaku dalam menghadapi inflasi. Teknik wawancara semi-terstruktur digunakan untuk memahami strategi adaptasi mereka, seperti pengurangan kualitas produk, perubahan harga, atau diversifikasi usaha. Hal ini penting karena data statistik seringkali tidak mampu menangkap kompleksitas perilaku ekonomi masyarakat di sektor informal.
Salah satu variabel penting dalam penelitian ini adalah “pendapatan bersih bulanan,” yang dijadikan indikator utama untuk menilai kesejahteraan pelaku sektor informal. Variabel lainnya termasuk “jumlah hari kerja efektif,” “harga pokok bahan dagangan,” dan “jumlah tanggungan rumah tangga.” Inflasi diukur melalui indeks harga konsumen (IHK) bulanan.
Validitas data diuji dengan teknik triangulasi, yaitu membandingkan data kuantitatif dan kualitatif untuk memastikan konsistensi temuan. Selain itu, dilakukan uji asumsi klasik pada model regresi untuk memastikan hasil analisis dapat diandalkan. Penelitian ini juga membatasi rentang waktu pada lima tahun terakhir agar relevansi data tetap terjaga dengan kondisi ekonomi terkini.
Dengan desain metodologi yang kombinatif ini, skripsi ini diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana inflasi memengaruhi sektor informal, baik dari sisi angka maupun narasi pengalaman langsung para pelaku.

Temuan Utama Penelitian
Penelitian ini menemukan sejumlah temuan penting yang menggarisbawahi hubungan erat antara inflasi dan kesejahteraan pelaku sektor informal:
-
Penurunan Pendapatan Bersih
Mayoritas pelaku sektor informal mengalami penurunan pendapatan bersih saat inflasi meningkat. Ini disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional, yang tidak bisa sepenuhnya diteruskan ke konsumen. -
Kenaikan Harga Barang Tidak Seimbang
Meskipun pelaku mencoba menaikkan harga jual, daya beli masyarakat menurun, sehingga terjadi penurunan volume penjualan. Hal ini berdampak pada margin keuntungan yang semakin tipis. -
Strategi Bertahan Hidup
Para pelaku sektor informal melakukan strategi bertahan, seperti mengurangi kualitas barang, mengurangi jam operasional, hingga berpindah lokasi jualan untuk mencari konsumen yang lebih potensial. -
Beban Ekonomi Keluarga Meningkat
Inflasi menyebabkan lonjakan biaya kebutuhan pokok, sehingga pengeluaran rumah tangga pelaku sektor informal menjadi tidak seimbang dengan pendapatan yang diperoleh. -
Kurangnya Akses Bantuan Pemerintah
Hanya sebagian kecil responden yang mengetahui atau menerima bantuan sosial atau subsidi dari pemerintah, menandakan adanya kesenjangan dalam penyampaian informasi dan distribusi bantuan.
Implikasi dan Rekomendasi Kebijakan
Temuan penelitian ini memberikan beberapa implikasi kebijakan yang penting untuk dipertimbangkan:
-
Perluasan Program Bantuan Sosial
Pemerintah perlu memperluas jangkauan program bantuan langsung tunai (BLT) yang menyasar pelaku sektor informal secara tepat sasaran dan tepat waktu. -
Pembentukan Data Sektoral
Perlu dibentuk database resmi sektor informal agar pelaku usaha dapat teridentifikasi dan dimasukkan ke dalam skema perlindungan sosial maupun pembiayaan mikro. -
Akses Pembiayaan Mikro
Lembaga keuangan mikro dan koperasi perlu didorong untuk memberikan pinjaman dengan bunga ringan dan persyaratan yang sesuai bagi pelaku sektor informal. -
Pendidikan Keuangan dan Adaptasi Digital
Pelatihan pengelolaan keuangan dan digitalisasi usaha dapat meningkatkan daya tahan sektor informal terhadap gejolak harga dan perubahan pasar. -
Koordinasi Antar Lembaga
Pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi dalam menyalurkan bantuan dan mengawasi inflasi lokal, terutama di wilayah urban padat yang menjadi pusat kegiatan informal.
Tantangan dan Keterbatasan Penelitian
Meskipun telah dilakukan dengan metodologi yang ketat, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan:
Pertama, cakupan geografis terbatas pada tiga kota besar, yang mungkin tidak sepenuhnya mewakili kondisi sektor informal di daerah pedesaan atau kota kecil. Sektor informal di pedesaan bisa memiliki dinamika yang berbeda, terutama yang berkaitan dengan kegiatan pertanian dan perdagangan lokal.
Kedua, responden yang bersifat sukarela dalam wawancara bisa menyebabkan bias representatif, karena pelaku yang mengalami dampak paling berat cenderung lebih bersedia untuk menceritakan pengalamannya, dibandingkan mereka yang tidak terlalu terdampak.
Ketiga, pengaruh variabel eksternal seperti pandemi COVID-19 atau kebijakan pemerintah yang berubah-ubah selama periode penelitian mungkin turut memengaruhi data, dan hal ini sulit diisolasi secara penuh dalam model kuantitatif yang digunakan.
Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak serta-merta mengurangi nilai dan signifikansi dari hasil penelitian. Sebaliknya, hal ini menunjukkan perlunya penelitian lanjutan yang lebih luas dan mendalam untuk menggali aspek-aspek lain dari hubungan antara inflasi dan sektor informal.
Baca Juga : Penjelasan Skripsi Strategi Pemerintah dalam Pengendalian Inflasi
Kesimpulan
Penelitian mengenai hubungan antara inflasi dan sektor informal memberikan wawasan penting bahwa dinamika makroekonomi tidak hanya dirasakan oleh sektor formal yang tercatat resmi. Sektor informal, yang menjadi tulang punggung ekonomi bagi jutaan orang, juga terkena dampak signifikan saat inflasi meningkat. Pendapatan menurun, biaya hidup meningkat, dan pelaku sektor informal dipaksa untuk terus beradaptasi tanpa perlindungan yang memadai.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa kenaikan inflasi berbanding lurus dengan penurunan kesejahteraan pelaku sektor informal. Meski mereka memiliki daya adaptasi yang tinggi, hal ini tidak cukup untuk mengatasi tekanan ekonomi secara terus-menerus. Oleh karena itu, peran pemerintah sangat vital dalam memberikan perlindungan sosial, akses pembiayaan, dan pelatihan adaptasi digital agar sektor informal bisa lebih tangguh dalam menghadapi gejolak ekonomi.
Sebagai penutup, skripsi ini diharapkan dapat menjadi kontribusi ilmiah yang mendorong perhatian lebih besar terhadap sektor informal dalam perumusan kebijakan ekonomi makro. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang diharapkan tidak hanya dinikmati oleh segelintir kalangan, tetapi juga oleh mereka yang selama ini bekerja keras di balik layar ekonomi nasional.
Terakhir, jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusun penelitian baik skripsi, tesis, maupun disertasi dan membutuhkan bimbingan bersama mentor yang kredibel. Segera konsultasikan kesulitanmu bersama jasa bimbingan skripsi Hubungi kami melalui whatsapp maupun instagram untuk tahu lebih banyak seputar layanan.

