Perceraian bukan hanya menjadi persoalan antara pasangan suami istri, namun juga berdampak besar bagi anak-anak mereka. Dalam konteks psikologi perkembangan, masa kanak-kanak merupakan periode kritis dalam pembentukan kepribadian dan pemahaman emosional. Ketika sebuah keluarga mengalami perpecahan, anak sering kali menjadi korban yang tidak terlihat secara langsung, namun merasakan dampak paling dalam secara psikologis.
Fenomena perceraian di Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun. Data dari Badan Peradilan Agama menunjukkan tren naik jumlah perceraian, terutama yang terjadi pada keluarga usia muda. Di tengah fenomena ini, anak-anak menjadi kelompok rentan yang perlu mendapat perhatian khusus dari segi psikologis. Oleh karena itu, skripsi yang mengkaji psikologi anak korban perceraian menjadi sangat relevan untuk dikembangkan oleh mahasiswa jurusan Psikologi.
Baca juga : Apa sih Skripsi Psikologi Olahraga?
Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah yang dapat dijadikan dasar dalam penelitian skripsi psikologi tentang anak korban perceraian antara lain:
- Bagaimana dampak psikologis yang dialami anak setelah perceraian orang tuanya?
- Apa bentuk mekanisme coping (strategi penyesuaian diri) yang dilakukan anak dalam menghadapi perceraian orang tua?
- Bagaimana peran lingkungan sekitar, seperti sekolah dan keluarga besar, dalam proses adaptasi psikologis anak?
- Adakah perbedaan dampak psikologis berdasarkan usia anak saat orang tua bercerai?
Tujuan Penelitian
Tujuan dari skripsi ini adalah:
- Mendeskripsikan dampak psikologis pada anak akibat perceraian orang tua.
- Menganalisis strategi coping yang dilakukan anak korban perceraian.
- Menjelaskan peran lingkungan sosial dalam membantu anak menghadapi kondisi pasca-perceraian.
- Memberikan rekomendasi untuk pendekatan psikologis yang tepat dalam menangani anak korban perceraian.
Kajian Teori
1. Teori Perkembangan Anak (Jean Piaget)
Menurut Piaget, anak-anak mengalami beberapa tahapan perkembangan kognitif, yaitu:
- Sensorimotor (0-2 tahun)
- Preoperasional (2-7 tahun)
- Operasional konkret (7-11 tahun)
- Operasional formal (12 tahun ke atas)
Ketika anak berada pada tahap preoperasional hingga operasional konkret, pemahaman mereka terhadap konflik keluarga belum sepenuhnya logis. Anak bisa merasa bersalah, bingung, bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas perceraian orang tua.
2. Teori Kebutuhan Dasar (Abraham Maslow)
Maslow menyatakan bahwa kebutuhan dasar anak mencakup keamanan, cinta, dan rasa memiliki. Perceraian dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan ini karena anak mungkin kehilangan rasa aman dan stabilitas emosional.
3. Teori Attachment (John Bowlby)
Bowlby menekankan pentingnya keterikatan (attachment) antara anak dengan orang tua. Perceraian dapat mengganggu keterikatan tersebut, terutama jika salah satu orang tua kehilangan akses dalam pengasuhan. Gangguan attachment ini dapat berdampak pada perkembangan emosi dan kepercayaan anak di masa depan.
4. Strategi Coping Anak (Lazarus & Folkman)
Anak-anak biasanya mengembangkan mekanisme coping untuk mengatasi stres akibat perceraian. Strategi ini bisa bersifat:
- Problem-focused coping: mencari solusi, seperti bicara dengan guru atau konselor.
- Emotion-focused coping: menghindar, menangis, atau melampiaskan emosi secara agresif.
Metode Penelitian
Penelitian skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan metode studi kasus pada beberapa anak yang menjadi korban perceraian. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi:
- Wawancara mendalam dengan anak dan orang tua yang bersangkutan.
- Observasi terhadap perilaku anak di rumah atau sekolah.
- Dokumentasi seperti catatan psikolog sekolah atau konselor.
Kriteria subjek meliputi:
- Anak usia 7–15 tahun
- Mengalami perceraian orang tua dalam waktu 1–5 tahun terakhir
- Bersedia terlibat dalam wawancara
Hasil Penelitian (Simulasi)
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi terhadap 5 anak korban perceraian, ditemukan pola dampak psikologis sebagai berikut:
1. Gangguan Emosi
Anak menunjukkan gejala seperti kecemasan berlebihan, perasaan sedih mendalam, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Sebagian besar responden merasa kehilangan figur ayah atau ibu, tergantung siapa yang tidak tinggal bersamanya.
2. Penurunan Prestasi Akademik
Tiga dari lima responden mengalami penurunan nilai akademik sejak perceraian terjadi. Mereka menjadi kurang fokus di sekolah dan tidak memiliki motivasi belajar yang kuat.
3. Perubahan Perilaku
Beberapa anak menunjukkan perilaku agresif, mudah marah, atau menjadi sangat tertutup. Ada pula yang mengalami ketergantungan emosional berlebih pada salah satu orang tua.
4. Strategi Coping yang Beragam
Sebagian anak mampu mengatasi rasa kehilangan dengan bantuan lingkungan, seperti guru, sahabat, atau keluarga besar. Strategi yang berhasil di antaranya:
- Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk menyalurkan emosi.
- Konseling dengan psikolog sekolah.
- Dukungan dari saudara kandung atau kakek-nenek.
Namun, anak yang tidak mendapat dukungan sosial cenderung menunjukkan coping negatif, seperti menyendiri, bermain game secara berlebihan, atau mengalami gangguan tidur.
Diskusi
Hasil penelitian mengindikasikan bahwa perceraian memiliki dampak jangka pendek maupun jangka panjang terhadap kondisi psikologis anak. Tingkat keparahan dampak sangat dipengaruhi oleh:
- Usia anak saat perceraian terjadi: Anak yang lebih kecil lebih rentan mengalami kesulitan dalam memahami kondisi keluarga.
- Hubungan dengan kedua orang tua pasca-perceraian: Anak yang masih bisa berinteraksi dengan kedua orang tua cenderung lebih stabil emosinya.
- Dukungan sosial: Lingkungan yang suportif sangat membantu anak dalam proses adaptasi.
- Kualitas pengasuhan setelah perceraian: Jika orang tua tunggal tetap konsisten memberikan cinta dan perhatian, dampak negatif bisa diminimalkan.
Dengan demikian, intervensi psikologis menjadi penting, tidak hanya setelah perceraian terjadi, namun juga sebagai proses pendampingan yang berkelanjutan.
Rekomendasi
Berdasarkan temuan penelitian, rekomendasi yang dapat diberikan adalah:
-
Bagi Orang Tua
-
-
- Menjaga komunikasi terbuka dan positif dengan anak.
- Tidak melibatkan anak dalam konflik orang tua.
- Tetap berperan aktif dalam kehidupan anak, meskipun telah berpisah.
-
-
Bagi Sekolah dan Guru
-
-
- Menyediakan layanan konseling untuk siswa korban perceraian.
- Meningkatkan empati dan perhatian guru terhadap perubahan perilaku siswa.
-
-
Bagi Pemerintah atau Lembaga Sosial
-
-
- Membuat program khusus pendampingan psikologis bagi anak korban perceraian.
- Meningkatkan kesadaran orang tua tentang pentingnya kesehatan mental anak pasca-perceraian.
-
-
Bagi Mahasiswa Psikologi
-
- Menjadikan isu ini sebagai fokus penelitian yang berkelanjutan.
- Menyusun modul intervensi berbasis kasus nyata.
Baca juga : Persiapan Proposal Skripsi Mixed Methods dalam Kajian Psikologi Pendidikan
Anak korban perceraian merupakan kelompok yang sangat rentan secara psikologis. Perceraian memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak, mulai dari emosi, akademik, hingga perilaku sosial. Dengan pemahaman yang baik dan dukungan dari berbagai pihak, dampak negatif ini bisa diminimalkan. Oleh karena itu, skripsi yang mengangkat tema psikologi anak korban perceraian tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki nilai kemanusiaan dan sosial yang tinggi.
Terakhir, jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusun penelitian baik skripsi, tesis, maupun disertasi dan membutuhkan bimbingan bersama mentor yang kredibel. Segera konsultasikan kesulitanmu bersama jasa bimbingan skripsi Hubungi kami melalui whatsapp maupun instagram untuk tahu lebih banyak seputar layanan.


