Stres adalah hal yang relatable banget buat pelajar. Dari tugas yang numpuk, tenggat waktu yang tiba-tiba kencan bareng, sampe dosen yang balas email kayak mantan nggak pasti. Tapi pertanyaannya: emang bener stres bisa bikin nilai jeblok? Atau itu cuma alasan klasik biar gak disalahin pas IPK turun?
Baca Juga : SPSS untuk Penelitian: Teknik Analisis Data yang Wajib Diketahui
Untuk menjawabnya, kita tidak bisa hanya menggunakan asumsi. Kita butuh data. Kita perlu bukti. Dan tentu saja, kita membutuhkan alat statistik keren yang bisa menganalisis bantunya—ya, kita ngomongin SPSS .
Rumus Masalah
- Apakah terdapat hubungan antara tingkat stres dan nilai akademik siswa?
- Seberapa kuat pengaruh stres terhadap prestasi belajar?
- Apakah faktor-faktor lain ikut berperan dalam memperkuat atau memperlemah pengaruh stres terhadap nilai?
Metode Penelitian
1. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif semester 4 hingga 8 di salah satu universitas negeri di Indonesia. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling , dengan kriteria:
- Mahasiswa aktif
- Pernah mengalami stres akademik (pasti sih, ya…)
- Persediaan mengisi kuesioner dengan jujur
Total sampel yang diambil: 100 siswa
2. Instrumen Penelitian
Kita menggunakan dua jenis data:
- Data stres akademik diukur dengan Skala Stres Akademik (SSA) yang terdiri dari 20 item (skala Likert 1–5).
- Nilai akademik , diterjemahkan dengan IPK terakhir yang disampaikan langsung oleh responden.
3. Prosedur Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui Google Form karena:
- Praktis
- Efisien
- Gak perlu nungguin orang ngisi di kantin
Setelah data terkumpul, langsung diolah ke SPSS v25.
Teknik Analisis Data dengan SPSS
1. Uji Validitas dan Reliabilitas
Sebelum masuk ke analisis utama, penting banget ngecek apakah kuesioner yang kita pakai valid dan reliabel. Caranya?
- Uji Validitas : menggunakan korelasi Pearson, dengan kriteria valid jika r > 0,3.
- Uji Reliabilitas : Pakai Cronbach’s Alpha. Minimal 0,7 supaya bisa dibilang konsisten.
2. Uji Normalitas
Digunakan Kolmogorov-Smirnov Test buat ngecek apakah data terdistribusi normal. Kenapa penting? Karena itu menentukan uji lanjut yang akan dipakai.
3. Analisis Korelasi
Nah, ini bagian serunya. Kita pakai Pearson Correlation untuk mengukur hubungan antara stres dan nilai.
- Nilai korelasi (r) antara -1 sampai +1
- Kalau negatif = makin stres, makin turun nilai
- Kalau positif = makin stres, makin rajin belajar? (eh…)
4. Analisis Regresi Linier Sederhana
Buat tahu seberapa besar pengaruh stres terhadap nilai. Rumus umumnya: Y = a + bX
Di mana:
- Y = Nilai (IPK)
- X = Tingkat tegangan
- a = konstanta
- b = koefisien regresi (pengaruh stress terhadap nilai)
Hasil Penelitian
1. Uji Validitas dan Reliabilitas
- Semua item kuesioner mempunyai nilai r hitung > 0,3 → valid
- Cronbach’s Alpha = 0,84 → reliabel banget, kayak sahabat dari kecil
2. Uji Normalitas
Hasil uji Kolmogorov-Smirnov: Sig. = 0,200 > 0,05 → Data normal, lanjut!
3. Analisis Korelasi
- Nilai korelasi (r) = -0.532
- Signifikansi = 0,000
Interpretasi: Ada hubungan negatif yang signifikan antara stres dan nilai. Artinya, semakin tinggi tingkat stres siswa, semakin rendah nilai yang mereka dapatkan.
4. Analisis Regresi
- Koefisien regresi (b) = -0,421
- Signifikansi = 0,000
- R Kuadrat = 0,283
Interpretasi:
- Nilai negatif pada b = stres mempunyai pengaruh negatif terhadap nilai
- R Square = 28,3% → 28,3% variasi nilai siswa dipengaruhi oleh tingkat stres . Sisanya? Bisa jadi karena faktor lain seperti motivasi, manajemen waktu, atau drama organisasi kampus.
Pembahasan
Emang Stres Bikin Nilai Jelek?
Yup, dari analisis hasil SPSS, penjelasannya jelas: iya . Dan ini bukan sekedar perasaan atau asumsi, tapi berdasarkan data nyata dari 100 siswa.
Nilai korelasi -0.532 itu sudah termasuk kuat , dan signifikan secara statistik. Jadi, bukan sekedar efek plasebo atau alasan klasik ala pelajar yang lagi laki-laki belajar.
Kenapa Bisa Gitu?
Stres bisa bikin:
- Fokus menurun
- Fokus pembeli
- Tidur berantakan
- Motivasi ngedrop
- Jadi sering overthinking ketimbang overlearning
Semua ini berdampak langsung pada kinerja akademik. Mau belajar, tapi otak udah burnout duluan.
Tapi, Apakah Semua Mahasiswa Sama?
Enggak juga. Ada juga pelajar yang justru jadi lebih produktif saat stres . Mereka kepepet = semangat. Tipe-tipe “deadliner adalah nama tengah saya”. Tapi sayangnya, ini minoritas.
Implikasi Penelitian
Penelitian ini penting banget buat:
- Dosen dan kampus → lebih sadar terhadap kondisi psikologis siswa
- Mahasiswa → sadar kalau stres itu bukan cuma gangguan mood, tapi juga IPK
- Biro kemahasiswaan → bisa membuat program dasar penanganan stres, kayak konseling gratis, seminar manajemen waktu, atau ruang kuliah kampus
Keterbatasan Penelitian
- Data IPK dari siswa sendiri, bisa aja ada yang “di bagus-bagusin”
- Skala stres bersifat subjektif, tergantung persepsi individu
- Belum melibatkan faktor lain seperti jam tidur, konsumsi kafein, atau jumlah tugas tiap minggu (yang terkadang bisa ngalahin kerjaan pegawai full-time)
Baca Juga : Teknik Sampling dalam Penelitian: Jenis, Contoh, dan Penerapannya
Kesimpulan
Stres bukan hanya masalah mental, tapi juga akademik. Dari hasil analisis SPSS:
- Ada hubungan negatif yang signifikan antara stres dan nilai akademik
- Semakin stres, semakin turun nilai (secara umum)
- SPSS berhasil membantu ngegali wawasan ini secara data-driven
Terakhir, jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusun penelitian baik skripsi, tesis, maupun disertasi dan membutuhkan bimbingan bersama mentor yang kredibel. Segera konsultasikan kesulitanmu bersama jasa bimbingan skripsi Hubungi kami melalui whatsapp maupun instagram untuk mengetahui lebih banyak seputar layanan.


