Penyajian hasil skripsi kualitatif memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan skripsi kuantitatif. Hal ini karena skripsi kualitatif lebih berfokus pada narasi, deskripsi, dan pemahaman mendalam mengenai fenomena yang diteliti.
Baca juga : Apa itu Observasi dalam Penelitian Kualitatif ?
Berikut adalah cara penyajian hasil skripsi kualitatif secara rinci:
1. Pendahuluan Bab Hasil
- Gambaran Umum: Bab hasil skripsi dimulai dengan memberikan gambaran umum tentang tujuan penelitian, konteks, dan proses pengumpulan data. Tujuannya adalah untuk mengingatkan pembaca tentang fokus penelitian dan metode yang telah digunakan.
- Pemahaman Awal: Pendahuluan juga dapat menjelaskan metode analisis data yang digunakan, seperti analisis tematik, analisis naratif, atau grounded theory.
2. Penyajian Temuan Berdasarkan Tema atau Kategori
- Identifikasi Tema Utama: Hasil biasanya disajikan dengan mengelompokkan data berdasarkan tema atau kategori yang muncul dari analisis data. Misalnya, jika hasil penelitian terkait pengalaman mahasiswa dalam pembelajaran daring, tema-tema seperti “tantangan teknis,” “manajemen waktu,” atau “dukungan sosial” dapat menjadi sub-bab tersendiri.
- Penjelasan Tema Secara Terstruktur: Setiap tema atau kategori disajikan dalam sub-bab tersendiri dan diberi judul yang sesuai. Setiap sub-bab ini menjelaskan secara rinci bagaimana tema tersebut muncul, disertai dengan kutipan langsung dari partisipan untuk memperkuat temuan.
3. Penggunaan Kutipan untuk Memperkuat Temuan
- Kutipan Langsung: Penyajian hasil kualitatif sangat bergantung pada penggunaan kutipan langsung dari wawancara atau observasi. Kutipan digunakan untuk memperkuat temuan dan memberikan suara kepada partisipan, sehingga pembaca dapat memahami sudut pandang mereka.
- Pemilihan Kutipan yang Relevan: Kutipan harus dipilih secara selektif dan hanya menyajikan yang paling relevan dengan tema atau kategori yang sedang dibahas. Kutipan juga dapat membantu menggambarkan nuansa emosi atau pengalaman partisipan.
4. Interpretasi Data
- Interpretasi Naratif: Setiap bagian dari temuan dilengkapi dengan interpretasi dari peneliti. Interpretasi ini memberikan makna terhadap kutipan atau data yang disajikan dan menghubungkannya dengan literatur atau teori yang relevan.
- Hubungan Antar Tema: Jelaskan hubungan antar tema atau kategori yang telah diidentifikasi. Misalnya, bagaimana “tantangan teknis” terkait dengan “strategi coping” yang digunakan oleh partisipan.
5. Visualisasi Hasil (Jika Diperlukan)
- Penggunaan Tabel, Diagram, atau Matriks: Dalam beberapa kasus, hasil penelitian kualitatif dapat disajikan menggunakan tabel, diagram, atau matriks sederhana untuk menunjukkan hubungan antar tema atau kategori. Namun, visualisasi ini hanya digunakan sebagai pendukung, bukan sebagai alat utama penyajian hasil.
- Gambar atau Sketsa (Jika Relevan): Jika penelitian melibatkan observasi lingkungan atau artefak, gambar atau sketsa mungkin relevan untuk memperkuat deskripsi.
6. Narasi yang Koheren
- Alur Penyajian yang Jelas: Pastikan alur penyajian hasil kualitatif logis dan mudah diikuti oleh pembaca. Setiap tema atau kategori harus dijelaskan secara mendetail, dengan transisi yang jelas antar bagian.
- Cerita dari Data: Penyajian hasil kualitatif sering disamakan dengan menceritakan sebuah cerita berdasarkan data. Oleh karena itu, bab hasil harus dibangun dengan logika naratif yang menarik, dengan menjaga kesinambungan antar bagian.
7. Perbandingan dengan Literatur (Jika Diperlukan)
- Menyelipkan Pembahasan Ringkas: Di beberapa penelitian, peneliti menyisipkan pembahasan singkat terkait bagaimana temuan penelitian berhubungan dengan teori atau penelitian sebelumnya. Hal ini dapat memberikan konteks dan menunjukkan relevansi temuan.
8. Penjelasan Konteks (Jika Diperlukan)
- Penyajian Konteks Sosial atau Budaya: Jika penelitian kualitatif berhubungan erat dengan konteks sosial atau budaya tertentu, peneliti perlu memberikan penjelasan kontekstual untuk memperjelas pemahaman pembaca.
Penyajian hasil skripsi kualitatif tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga memberikan makna dan pemahaman yang kaya mengenai fenomena yang diteliti. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif dan interpretatif, dengan narasi yang mengalir serta penguatan data melalui kutipan langsung.
1 Contoh Penyajian Hasil Skripsi Kualitatif
Berikut adalah contoh penyajian hasil untuk skripsi kualitatif dengan tema “Pengalaman Mahasiswa dalam Pembelajaran Daring Selama Pandemi COVID-19”.
Bab IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1. Gambaran Umum Partisipan
Penelitian ini melibatkan 12 mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas X. Partisipan terdiri dari 5 mahasiswa laki-laki dan 7 mahasiswa perempuan, dengan usia antara 19 hingga 22 tahun. Mayoritas partisipan telah mengikuti pembelajaran daring selama lebih dari dua semester sejak pandemi dimulai.
4.2. Temuan Penelitian
Berdasarkan analisis data, ditemukan beberapa tema utama yang mencerminkan pengalaman mahasiswa dalam pembelajaran daring, yaitu: (1) Tantangan Teknis dan Konektivitas, (2) Manajemen Waktu dan Tugas, (3) Dukungan Sosial dan Emosional, dan (4) Strategi Coping yang Digunakan Mahasiswa.
4.2.1. Tantangan Teknis dan Konektivitas
Sebagian besar partisipan melaporkan bahwa tantangan teknis, seperti masalah jaringan internet dan perangkat yang kurang memadai, menjadi salah satu kendala utama dalam pembelajaran daring. Banyak dari mereka mengeluhkan koneksi internet yang tidak stabil, terutama saat menghadiri perkuliahan melalui platform video conference.
Kutipan dari Partisipan:
- P1: “Kadang-kadang koneksi internet saya tiba-tiba terputus di tengah perkuliahan, jadi saya ketinggalan materi yang disampaikan dosen. Ini cukup mengganggu, apalagi kalau mata kuliah itu sulit.”
- P3: “Selain jaringan internet, saya juga sempat kesulitan karena laptop saya sering hang. Akhirnya saya harus pinjam laptop kakak untuk bisa ikut kelas.”
Permasalahan konektivitas ini tidak hanya mempengaruhi proses pembelajaran, tetapi juga menimbulkan rasa cemas pada mahasiswa, terutama saat mengikuti ujian daring.
4.2.2. Manajemen Waktu dan Tugas
Mahasiswa mengungkapkan bahwa manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri selama pembelajaran daring. Banyak tugas yang diberikan tanpa adanya panduan waktu yang jelas, sehingga beberapa mahasiswa merasa kewalahan.
Kutipan dari Partisipan:
- P5: “Kadang dosen memberikan tugas secara mendadak, dan karena semuanya online, saya sering kali bingung mana yang harus dikerjakan lebih dulu.”
- P8: “Jadwal perkuliahan yang tumpang tindih juga jadi masalah. Terkadang, saya harus ikut kuliah sambil mengerjakan tugas dari mata kuliah lain.”
Kondisi ini menunjukkan bahwa adaptasi terhadap pembelajaran daring memerlukan kemampuan manajemen waktu yang baik, yang seringkali belum dimiliki oleh sebagian mahasiswa.
4.2.3. Dukungan Sosial dan Emosional
Selain tantangan teknis, mahasiswa juga merasakan keterbatasan dukungan sosial selama pembelajaran daring. Mereka merasa kehilangan interaksi langsung dengan teman-teman dan dosen, yang biasanya memberikan dukungan emosional.
Kutipan dari Partisipan:
- P6: “Biasanya, kalau di kelas saya bisa langsung tanya teman kalau ada materi yang tidak paham. Tapi sekarang, saya harus mengandalkan chat, dan kadang teman-teman juga sedang sibuk.”
- P10: “Rasanya kesepian karena tidak bisa bertemu dengan teman-teman. Jadi saya merasa stres lebih sering dari biasanya.”
Keterbatasan dukungan sosial ini turut memengaruhi kondisi emosional mahasiswa, terutama dalam hal stres dan kecemasan.
4.2.4. Strategi Coping yang Digunakan Mahasiswa
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, sebagian mahasiswa telah mengembangkan strategi coping untuk mengatasi kesulitan dalam pembelajaran daring. Mereka mulai mencari cara untuk mengatur waktu, meningkatkan motivasi, dan menjaga komunikasi dengan teman-teman.
Kutipan dari Partisipan:
- P9: “Saya coba buat jadwal harian supaya tidak keteteran. Biasanya saya atur jam belajar, jam istirahat, dan jam untuk diskusi dengan teman.”
- P12: “Saya juga sering melakukan video call dengan teman-teman di luar jam kuliah untuk sekedar ngobrol dan bertanya kalau ada tugas yang sulit.”
Strategi-strategi ini membantu mahasiswa untuk tetap termotivasi dan terhubung secara emosional meskipun dalam situasi yang menantang.
4.3. Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran daring selama pandemi menghadirkan berbagai tantangan bagi mahasiswa, baik dari segi teknis, manajemen waktu, dukungan sosial, maupun aspek emosional. Tantangan ini berdampak pada proses pembelajaran dan kesehatan mental mahasiswa. Namun, temuan ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengembangkan berbagai strategi coping yang efektif untuk menghadapi situasi tersebut.
Penelitian ini sejalan dengan teori coping dari Lazarus dan Folkman (1984), yang menyatakan bahwa individu akan mencari cara untuk mengatasi stres melalui berbagai strategi yang relevan. Temuan ini juga konsisten dengan penelitian sebelumnya oleh Jones (2021), yang menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas emosional mahasiswa selama masa pandemi.
Baca juga : Apa Saja Studi Kasus Kualitatif
Penyajian yang sistematis dan berbasis tema ini membantu peneliti untuk menarasikan temuan dengan jelas, menunjukkan hubungan antar tema, dan menjelaskan konteks di mana fenomena terjadi. Pendekatan ini mengutamakan pemahaman atas pengalaman dan perspektif partisipan, sehingga memungkinkan pembaca untuk mendapatkan gambaran utuh dan mendalam tentang fenomena yang diteliti.
Kamu bisa konsultasi atau kesulitan dalam pembuatan skripsi kamu bisa ke jasa bimbingan skripsi dan melalui whatshaap maupun instagram kami.


