Anda bisa menyimak dan mengunduh abstrak judul skripsi di bagian bawah.
Abstrak
Proses Pembelajaran Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta Dari Perspektif Pedagogi Kritis
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah proses pembelajaran Sanggar
Anak Alam Yogyakarta yang dikatakan berupaya mewujudkan kemanusiaan. Perspektif yang digunakan dalam menelaah proses pembelajaran Sanggar Anak Alam Yogyakarta adalah pedagogi kritis.
Pedagogi kritis dipilih karena kemunculannya yang merupakan kritik dari
praktik-praktik pendidikan formal yang dirasa kurang menghargai kemanusiaan. Lebih lanjut jika ternyata proses pembelajaran di Sanggar Anak Alam Yogyakarta telah sesuai dengan perspektif pedagogi kritis, maka praktik-praktik pembelajaran tersebut dapat diketahui bersama dan dapat dijadikan sebagai alternatif dari praktik-praktik pembelajaran yang sudah ada. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan adalah kualitatif. Subjek penelitian ini adalah pebelajar dan fasilitator di Sanggar Anak Alam yogyakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah metode observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model Miles and Huberman, yaitu aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas sehingga data jenuh. Sumber data utama adalah kata-kata yang disampaikan informan dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pebelajar dan fasilitator. Instrumen penelitian dalam pendekatan kualitatif adalah peneliti sendiri. Peneliti sebagai human instrument berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya. Uji keabsahan data yang digunakan adalah menggunakan triangulasi sumber dan member check. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Sanggar Anak Alam tergolong sebagai sekolah alam yang menyelenggarakan pendidikan alternatif. Proses pembelajaran di Sanggar Anak Alam identik dengan proses pembelajaran
Pedagogi kritis. Hal tersebut tampak dari yang pertama yaitu Sanggar Anak Alam melakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip proses pembelajaran pedagogi kritis. Kedua, konsep pedagogi kritis seperti pembelajaran berbasis realitas dengan mengajak pebelajar untuk berperan aktif juga peneliti temukan dalam pembelajaran di Sanggar Anak Alam. Selain itu pembelajaran di Sanggar Anak Alam menekankan penggunaan dialog dan menghargai perbedaan individu. Namun Sanggar Anak Alam masih terbelenggu ideologi dominan karena masih mengacu pada kurikulum nasional dan mengupayakan ijasah formal. Kata kunci: pedagogi kritis, proses pembelajaran Sanggar Anak Alam
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Menurut Imam Barnadib, Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Manusia memerlukan usaha sadar agar mampu menyadari kondisi realitas secara objektif untuk menjadi manusia yang utuh. Manusia yang utuh menurut Paulo Freire (1984:4) adalah manusia sebagai subjek yang mampu berintegrasi dengan lingkungan, integrasi muncul dari kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan realitas, ditambah kemampuan kritis untuk mengubah realitas. Realitas yang sedemikian rumit menjadi tantangan manusia dalam menentukan arah gerak laju dunia. Hal tersebut dapat dilakukan jika manusia mampu memandang secara kritis realitas dunia. Pendidikan menjadi perangkat bagi manusia untuk menumbuhkan kesadaran kritis. Tilaar (2011:13) menyebutkan bahwa pendidikan mempunyai dua dimensi yang saling bertautan, yang pertama adalah pendidikan merupakan suatu hak asasi manusia, dan yang kedua adalah pendidikan merupakan suatu proses. Menurut Tilaar (2011:13) sebagai suatu hak asasi manusia berarti bahwa tanpa pendidikan tidak dapat mewujudkan kemanusian dalam diri, sedangkan pendidikan sebagai suatu proses berarti bahwa menjadi manusia tidak terjadi dengan serta merta, tetapi merupakan suatu proses kemanusiaan dalam kebersamaan dengan sesama manusia. Pendidikan berarti merupakan suatu keharusan bagi manusia. Tidak hanya untuk mewujudkan kesadaran kritis, pendidikan bertujuan untuk mewujudkan kemanusiaan dalam diri 2 manusia itu sendiri. Di dalam pendidikan terkandung suatu proses kemanusiaan yang terjadi dalam interaksi antar sesama manusia. Idealita pendidikan yang bertujuan untuk mewujudkan kemanusiaan saat ini justru menjadi arus balik. Interaksi antar manusia dalam pendidikan yang sejatinya bertujuan untuk mewujudkan kemanusiaan saat ini digunakan untuk praktik penindasan. Praktik penindasan dalam pendidikan dapat dilihat dalam pemerintahan Orde baru di Indonesia. Darmaningtyas (2004:7-9) mengatakan bahwa pada masa orde lama atau pada masa pemerintahan Presiden Soekarno pendidikan fokus pada mengajarkan baca, tulis, dan berhitung, mengingat pada waktu itu sebagian besar masyarakat Indonesia buta huruf Latin sehingga dicanangkan pemberantasan buta huruf, Lalu setelah memasuki zaman orde baru, Presiden Soeharto menerapkan kebijakan pendidikan yang dikenal dengan “inpres” atau instruksi presiden dan pembangunan besar-besaran infrastruktur pendidikan, seiring diberlakukannya kebijakan tersebut, intervensi pemerintah di dalam pendidikan Indonesia semakin menajam, mulai dari pakaian sekolah yang diseragamkan hingga materi-materi pelajaran yang direkayasa untuk menghilangkan sikap kritis masyarakat. Praktik-praktik penindasan ternyata tidak hanya berupa regulasi atau kebijakan pemerintah terhadap sistem pendidikan. Praktik penindasan juga terjadi dalam pembelajaran. Pembelajaran merupakan praktik dari penyelenggaraan pendidikan. Pembelajaran didefinisikan sebagai upaya untuk membelajarkan pebelajar (Degeng, 1989:90). Sedangkan Nasution dalam 3 Sugihartono dkk (2007:80) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan pebelajar sehingga terjadi proses belajar. Dalam konteks tersebut dapat dilihat bahwa pebelajar sebagai orang yang belajar, harus benar-benar diperlakukan sebagai manusia yang mampu mengembangkan diri di dalam kegiatan pembelajaran. Pebelajar dibantu oleh guru untuk bersama-sama mengatur lingkungan agar terjadi kondisi yang memungkinkan pebelajar untuk belajar. Namun hubungan antara guru dan pebelajar saat ini justru menjadi pola hubungan penindas dan tertindas. Yang terjadi saat ini pebelajar dikondisikan untuk patuh terhadap materi-materi yang diberikan guru. Para guru memperlakukan pebelajar seolah-olah objek yang siap diberikan materi. Yang dilakukan pebelajar adalah mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru, lalu dicatat dan dihafalkan sebagai bahan belajar. Pada tahap evaluasi pun yang akan diujikan adalah seputar yang disampaikan oleh guru, sehingga tampak sekali bahwa guru adalah sumber ilmu dan pebelajar tidak akan mampu mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan ilmu pengetahuan secara optimal karena pebelajar hanya akan mendapatkan apa yang disampaikan oleh guru. Pola hubungan yang dibangun antara guru dan pebelajar adalah pola satu arah. Sejatinya seorang guru seperti yang dikutip dalam H.A.R Tilaar (2002:88) adalah menjadi fasilitator untuk membantu pebelajar mentransformasikan potensi yang dimiliki menjadi kemampuan serta keterampilan yang berkembang dan bermanfaat bagi kemanusian. 4 Guru-guru juga patuh untuk memberikan materi yang disiapkan oleh pemerintah. Produk dari pendidikan semacam itu adalah sebuah masyarakat yang mudah diombang-ambingkan dan digerakkan kesana-kemari bagaikan sebuah robot. Hal tersebut menyebabkan pendidikan akan kehilangan fungsi sebagai ruang pencerdasan bagi umat manusia. Seperti yang disebutkan Darmaningtyas (2004:10) bahwa permasalahan pendidikan di Indonesia saat ini bukan saja tentang rendahnya anggaran pemerintah atau kurangnya infrastruktur, namun beban ideologis dan politik yang dipikul oleh pendidikan nasional teramat berat dan semakin berkurangnya proses pencerdasan itu sendiri . Paulo Freire sebagai tokoh pendidikan kritis mengkritik penyelenggaraan pendidikan semacam itu, yaitu pendidikan yang tidak kritis, menjauhkan manusia dari realitas, bahkan menerapkan situasi-situasi yang menindas ke dalam proses pendidikan. Di dalam konsep pendidikan kritis Paulo Freire, individu ditempa dengan situasi yang menuntut kesadaran kritis, seperti konsep pendidikan “hadap-masalah” yang digagas oleh Paulo Freire. Pemahaman ditemukan dan dibangun sendiri oleh para pelaku atau dalam hal ini adalah pebelajar. Gagasan Paulo Freire yang tidak kalah penting yaitu menolak secara tegas pendidikan “gaya bank”. Pendidikan “gaya bank” merupakan pengejawantahan praktik penindasan ke dalam pendidikan karena relasi antara guru dan pebelajar yang menyalahi konsep humanisasi. Menurut Paulo Freire, pendidikan gaya bank menempatkan seolah-olah pebelajar adalah suatu objek, 5 yang siap diberi materi-materi oleh para guru. pebelajar mendapatkan peran yang pasif dan tidak diberi kesempatan untuk menerima peran lebih aktif. Guru menerapkan konsep bercerita kepada pebelajar, sehingga akan mengarahkan pebelajar untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Sekalipun yang dipaparkan guru mengenai nilai-nilai dan segisegi empiris dari realitas, namun dengan konsep bercerita tersebut akan menjadikan pebelajar menjadi pasif dan hal-hal yang disampaikan oleh guru hanya menjadi sesuatu yang abstrak. Jika konteks ini dianalogikan, maka pebelajar dapat disamakan dengan bejana-bejana kosong yang siap diisi oleh guru. Guru merasa lebih baik jika mampu mengisi materi yang banyak terhadap pebelajar. Pendidikan yang kritis atau yang membebaskan menurut Paulo Freire adalah yang menghadirkan sikap partisipatif dan aktif. Diwujudkan dengan terus menerus melakukan penggalian/pencarian ilmu pengetahuan dan bersifat dialektis. Saat ini Pedagogi Kritis sebagai kritik terhadap pembelajaran konvensional mulai berkembang dengan muncul berbagai nama-nama besar seperti Henry Giroux, Ivan Illich, Ira Shor, Michael W.Apple. Berbagai kritik terhadap praktik pendidikan tidak hanya dilakukan oleh para ahli Pedagogi Kritis di atas, namun juga terjadi di Indonesia. Saat ini di Indonesia telah muncul berbagai kritik terhadap praktik-praktik pendidikan yang menindas. Salah satu yang mengkritik pendidikan di Indonesia adalah Ibu Sri Wahyaningsih yang merupakan aktivis pendidikan. Sebagai seorang aktivis pendidikan yang pernah berjuang bersama salah satu tokoh 6 kemanusiaan Romo Mangunwijaya, Sri Wahyaningsih mengkritik pendidikan di Indonesia yang menjauhkan pebelajar dari realitas dan menciptakan manusia-manusia robot. Berdasarkan keresahan itulah lalu Sri Wahyaningsih bersama sang suami yang juga aktivis pendidikan yaitu Bapak Totok Rahardjo, merespon dengan mendirikan sebuah sekolah Alam yang bernama Sanggar Anak Alam atau akrab disebut SALAM. SALAM menyelenggarakan kegiatan pendidikan di Ngestiharjo Kasihan Bantul Yogyakarta. Tri Wahyu Utami dalam jogja.solopos.com menyampaikan bahwa mula-mula Sri Wahyaningsih tinggal di daerah di suatu desa di Lawen Pandanarum Banjarnegara Jawa Tengah. Saat tinggal di daerah tersebut, Sri Wahyaningsih menemukan suatu realitas yang memilukan, yaitu kemiskinan di kalangan masyarakat sekitar. Padahal daerah tersebut memiliki sumber daya alam yang berupa ladang dan sawah dapat dijadikan sumber pendapatan. Serta angka putus sekolah yang tergolong tinggi di daerah tersebut semakin melengkapi keprihatinan Sri Wahyaningsih terhadap dunia Pendidikan. Atas keprihatinan tersebut, Sri Wahyaningsih mendirikan Sanggar Anak Alam di daerah Lawen Pandanarum Banjarnegara Jawa Tengah Sri Wahyaningsih lalu pindah ke Yogyakarta dan kembali mendirikan Sanggar Anak Alam di Ngestiharjo Kasihan Bantul Yogyakarta. Sri Wahyaningsih mulai konsen ke pendidikan non formal yang berbasis Alam/lingkungan dan ingin mewujudkan pendidikan yang memanusiakan pebelajar. Diharapkan dengan didirikan sekolah berbasis alam/lingkungan, 7 pebelajar tidak hanya belajar angka-angka maupun abjad-abjad, namun juga mampu membaca kondisi real lingkungan sekitar tempat mereka tinggal. Setelah peneliti mendapatkan gambaran tentang Sanggar Anak Alam, lalu dilakukan observasi awal untuk memperkuat asumsi peneliti tentang Sanggar Anak Alam. Pada observasi awal tersebut, peneliti melakukan wawancara terhadap pendiri Sanggar Anak Alam yaitu Sri Wahyaningsih. Berdasarkan wawancara tersebut diketahui bahwa tujuan utama dari Sanggar Anak Alam adalah terciptanya benang merah antara pendidikan dengan kehidupan sehari-hari pebelajar. Diketahui pula bahwa pembelajaran di Sanggar Anak Alam berangkat dari hal-hal nyata dan berupaya untuk mengintegrasikan pebelajar dengan lingkungan. Sanggar Anak Alam tidak sepenuhnya berkiblat dari kurikulum yang dirancang dan ditetapkan oleh pemerintah, oleh sebab itu perencanaan pembelajaran dibuat sendiri oleh pihak Sanggar Anak Alam dengan menggunakan istilah skema target dasar belajar yang disusun dua kali dalam satu tahun. Keilmuan Teknologi Pendidikan adalah salah satu keilmuan yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan proses pembelajaran. Baik itu sekolah Formal, Non Formal, maupun Informal. Pengembangan ilmu Teknologi Pendidikan juga terus-menerus dikembangkan dalam bentuk study/kajian sebagai bentuk komitmen terhadap penyelenggaraan pendidikan maupun pembelajaran. Hal tersebut dapat dilihat pada definisi terkini dari Teknologi Pendidikan tahun 2004 dalam Dewi Salma Prawiradigma (2012:5), yaitu : 8 “Study and ethical Practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropiate technological and recources”. Terdapat kata study atau kajian yang salah satu bentuknya adalah penelitian guna mengembangkan keilmuan Teknologi Pendidikan. Di dalam definisi tersebut juga terdapat kata “learning” atau belajar. Belajar sebagai kawasan Teknologi Pendidikan melingkupi kerja dan karya para teknolog pendidikan dan pembelajaran (Dewi Salma Prawiradilaga, 2012:56) Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap proses pembelajaran Sanggar Anak Alam atau “SALAM” karena memiliki proses pembelajaran yang anti mainstream. Peneliti menggunakan perspektif Pedagogi Kritis dalam menelaah proses pembelajaran yang berlangsung di Sanggar Anak Alam. Pedagogi Kritis merupakan konsep yang mengusung pendidikan sebagai upaya pembebasan dengan menumbuhkan kesadaran kritis untuk mewujudkan kemanusiaan. Sanggar Anak Alam sebagai penyedia proses pembelajaran juga menekankan terhadap upaya mewujudkan kemanusiaan dalam diri pebelajar. Fokus dalam penelitian ini adalah upaya Sanggar Anak Alam dalam mewujudkan kemanusiaan melalui praktik-praktik pembelajaran yang dilakukan. Hal tersebut disadari oleh peneliti sebagai seorang calon Teknolog Pendidikan guna mengimplementasikan dan mengembangkan keilmuan Teknologi Pendidikan. 9 B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat identifikasi beberapa masalah yang ada yaitu sebagai berikut : 1. Pendidikan di Indonesia yang menjauhkan pebelajar dari realitas dan lingkungan, sehingga menciptakan manusia-manusia yang tidak peka dan mudah diombang-ambingkan. 2. Pola hubungan satu arah antara guru dan pebelajar dalam proses pembelajaran. Guru memperlakukan pebelajar sebagai objek kosong yang siap diisi oleh guru. Pebelajar tidak mampu mengembangkan potensi diri di dalam situasi yang demikian. 3. Jarang ditemukan praktik-praktik pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran kritis di Indonesia, sehingga masyarakat menjadi awam terhadap bentuk-bentuk pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran kritis. 4. Praktik pembelajaran yang berupaya mewujudkan kemanusiaan di Sanggar Anak Alam perlu ditelaah dengan menggunakan perspektif Pedagogi Kritis untuk mengetahui sejauh mana praktik-praktik tersebut telah berlangsung. 5. Penelitian terhadap bentuk-bentuk pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran kritis masih minim dilakukan dalam lingkup Teknologi Pendidikan. 10 C. Batasan Masalah Berdasarkan pokok-pokok masalah yang ada pada identifikasi masalah, peneliti membatasi masalah penelitian dengan memfokuskan pada proses pembelajaran yang diselenggarakan di Sanggar Anak Alam. D. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diajukan oleh peneliti adalah: Bagaimana proses pembelajaran di Sanggar Anak Alam dilihat dari pers-pektif Pedagogi Kritis? E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui proses pembelajaran yang terdapat di Sanggar Anak Alam Yogyakarta. 2. Mengetahui dan menganalisis proses pembelajaran di Sanggar Anak Alam dengan menggunakan perspektif Pedagogi Kritis. F. Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian yang dilakukan tentang Proses Pembelajaran yang ada di Sanggar Anak Alam dengan menggunakan pendekatan Pedagogi Kritis adalah: 1. Manfaat Teoritis Diharapkan mampu memberikan sumbangsih dalam membangun keilmuan Teknologi Pendidikan dengan perspektif kritis, karena kondisi pendidikan di Indonesia saat ini membuat pebelajar menjadi tidak kritis, 11 dan disiplin ilmu Teknologi Pendidikan merupakan salah satu yang mampu memecahkan kondisi tersebut. 2. Manfaat Praktis Secara umum diharapkan mampu memberikan gambaran tentang bagaimana implementasi Pedagogi Kritis di Indonesia secara lebih jelas, karena praktik-praktik Pedagogi Kritis di Indonesia yang jarang ditemui. G. Definisi Operasional 1. Pembelajaran Pembelajaran didefinisikan sebagai upaya untuk membelajarkan pebelajar (Degeng & Sudana, 1989:90) 2. Pedagogi Kritis Teori pendidikan dan praktik pembelajaran yang didesain untuk membangun kesadaran kritis mengenai kondisi sosial yang menindas. Pedagogi Kritis merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya menantang dominasi serta keyakinan dan praktik-praktik yang mendominasi (Monchinski, 2011:10) dalam Rakhmat Hidayat (2013:6).
Anda bisa mengunduh Proses Pembelajaran Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta Dari Perspektif Pedagogi Kritis atau memesan jasa skripsi serupa di skripsiyuk.com.

