Penelitian fenomenologi digunakan untuk memahami pengalaman seseorang terhadap suatu fenomena secara mendalam. Pendekatan ini tidak sekadar ingin mengetahui apa yang dilakukan informan, tetapi berusaha memahami bagaimana suatu pengalaman dirasakan, dimaknai, dan dipahami oleh orang yang mengalaminya secara langsung. Karena itu, wawancara menjadi salah satu teknik pengumpulan data yang sangat penting dalam penelitian fenomenologi.
Data wawancara fenomenologi biasanya berupa cerita yang kaya akan pengalaman pribadi. Informan dapat menjelaskan perasaan, pemikiran, tantangan, perubahan, hingga makna yang muncul setelah mengalami suatu peristiwa. Data seperti ini tidak dapat dianalisis hanya dengan membaca jawaban secara sekilas. Peneliti perlu melakukan proses analisis secara sistematis agar pengalaman informan dapat dipahami tanpa kehilangan konteksnya.
Analisis wawancara dalam penelitian fenomenologi memiliki karakteristik yang berbeda dari analisis data pada penelitian kuantitatif maupun pendekatan kualitatif lainnya. Peneliti perlu memberikan perhatian pada pengalaman yang dialami secara langsung oleh informan dan berusaha memahami esensi dari pengalaman tersebut.
Misalnya, penelitian membahas pengalaman mahasiswa yang menjalani praktik kerja lapangan. Peneliti tidak hanya ingin mengetahui kegiatan apa yang dilakukan mahasiswa, tetapi juga bagaimana mahasiswa mengalami proses adaptasi, menghadapi kesulitan, menerima dukungan, dan memaknai perubahan dirinya selama kegiatan tersebut.

Pengertian Analisis Wawancara dalam Penelitian Fenomenologi
Analisis wawancara dalam penelitian fenomenologi adalah proses mengolah dan menafsirkan data wawancara untuk memahami pengalaman hidup informan terhadap suatu fenomena tertentu. Fokus analisis terletak pada pengalaman yang dirasakan dan makna yang diberikan informan terhadap pengalaman tersebut.
Fenomenologi memandang bahwa pengalaman manusia memiliki makna yang dapat dipahami melalui cerita dan refleksi dari orang yang mengalaminya. Oleh sebab itu, peneliti perlu memberikan ruang kepada informan untuk menceritakan pengalaman dengan bahasanya sendiri.
Data wawancara kemudian dianalisis untuk menemukan pernyataan penting, unit makna, tema, dan gambaran mengenai esensi pengalaman. Peneliti tidak sekadar mencari kata yang sering muncul, tetapi berusaha memahami apa yang sebenarnya dialami informan.
Analisis tersebut dapat menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai suatu fenomena. Hasil penelitian biasanya tidak hanya berbentuk daftar tema, tetapi juga uraian yang menggambarkan bagaimana pengalaman tersebut terjadi dan apa maknanya bagi informan.
Baca juga:Jasa Konsultasi Skripsi agar Cepat Lulus
Tujuan Analisis Wawancara Fenomenologi
Tujuan utama analisis wawancara fenomenologi adalah memahami pengalaman informan secara mendalam dari sudut pandang mereka. Peneliti berusaha melihat fenomena sebagaimana dialami dan dimaknai oleh individu yang menjadi sumber data.
Pendekatan ini cocok digunakan ketika penelitian ingin mengetahui pengalaman seseorang terhadap suatu kondisi, proses, peristiwa, atau situasi tertentu. Misalnya pengalaman guru menghadapi pembelajaran daring, pengalaman mahasiswa menjalani magang, pengalaman pekerja beradaptasi dengan lingkungan baru, atau pengalaman keluarga merawat anggota keluarga.
Beberapa tujuan analisis wawancara fenomenologi meliputi:
- Mengidentifikasi pengalaman penting yang dialami informan.
- Memahami makna yang diberikan informan terhadap pengalaman tersebut.
- Menemukan kesamaan dan variasi pengalaman antar informan.
- Mengidentifikasi tema yang menggambarkan pengalaman.
- Menjelaskan konteks yang memengaruhi pengalaman informan.
- Menggambarkan esensi dari fenomena yang diteliti.
- Menghasilkan pemahaman yang mendalam mengenai pengalaman manusia.
Dengan tujuan tersebut, analisis fenomenologi membutuhkan perhatian yang besar terhadap narasi informan. Peneliti perlu berhati-hati agar interpretasi tidak terlalu jauh dari pengalaman yang benar-benar disampaikan.
Karakteristik Data Wawancara Fenomenologi
Data dalam penelitian fenomenologi biasanya memiliki karakteristik mendalam, reflektif, dan berorientasi pada pengalaman. Informan tidak hanya memberikan fakta, tetapi juga menceritakan bagaimana mereka merasakan dan memahami suatu peristiwa.
Jawaban informan dapat mencakup pengalaman sebelum suatu peristiwa, saat peristiwa berlangsung, dan setelah peristiwa tersebut terjadi. Informasi mengenai perubahan pemikiran atau perasaan juga dapat menjadi bagian penting dari data.
| Karakteristik data | Contoh informasi |
|---|---|
| Pengalaman langsung | Apa yang dialami informan |
| Perasaan | Takut, bingung, senang, lega, atau percaya diri |
| Persepsi | Cara informan melihat suatu kondisi |
| Makna | Arti pengalaman bagi informan |
| Konteks | Situasi atau lingkungan ketika pengalaman terjadi |
| Perubahan | Perubahan sikap atau pemahaman |
| Refleksi | Pembelajaran setelah mengalami peristiwa |
Karakteristik tersebut membuat transkrip wawancara fenomenologi biasanya cukup panjang. Peneliti perlu memiliki strategi analisis agar data yang banyak dapat dikelola tanpa menghilangkan makna penting di dalamnya.
Menentukan Fokus Fenomena yang Akan Dianalisis
Analisis wawancara perlu berangkat dari fenomena yang jelas. Peneliti harus memahami pengalaman seperti apa yang menjadi fokus penelitian sehingga tidak semua informasi dalam transkrip diperlakukan sebagai data utama.
Sebagai contoh, penelitian berjudul “Pengalaman Mahasiswa dalam Menjalani Praktik Kerja Lapangan” dapat berfokus pada pengalaman adaptasi, tantangan pekerjaan, hubungan dengan pembimbing, dan perubahan pemahaman mengenai dunia kerja.
Jika informan kemudian membicarakan hal yang tidak berkaitan dengan fenomena tersebut, peneliti perlu menentukan apakah informasi tersebut relevan atau hanya menjadi konteks tambahan.
Fokus yang jelas membantu proses analisis menjadi lebih terarah. Peneliti dapat menilai setiap bagian transkrip berdasarkan hubungannya dengan fenomena yang sedang dikaji.
Persiapan Transkrip Wawancara
Sebelum melakukan analisis, rekaman wawancara perlu ditranskripsikan. Transkrip merupakan bentuk tertulis dari percakapan antara peneliti dan informan.
Transkrip sebaiknya dibuat secara teliti. Peneliti perlu memperhatikan kalimat yang diucapkan informan, konteks percakapan, dan bagian tertentu yang memiliki arti penting.
Setelah transkrip selesai, peneliti dapat melakukan pemeriksaan ulang dengan mendengarkan rekaman sambil membaca dokumen. Langkah ini membantu mengurangi kesalahan penulisan dan memastikan bahwa isi transkrip sesuai dengan wawancara.
Identitas informan juga perlu dijaga. Peneliti dapat menggunakan kode seperti I1, I2, dan I3 atau nama samaran sesuai dengan ketentuan etika penelitian.
Membaca Transkrip Secara Menyeluruh
Pembacaan menyeluruh merupakan bagian penting sebelum peneliti memberikan kode atau menentukan tema. Peneliti perlu memahami keseluruhan cerita informan terlebih dahulu.
Ketika membaca, peneliti dapat membuat catatan mengenai kesan umum terhadap pengalaman informan. Misalnya, informan terlihat mengalami kesulitan pada masa awal tetapi kemudian merasa lebih percaya diri setelah mendapatkan dukungan.
Pembacaan berulang juga dapat membantu peneliti menemukan makna yang tidak langsung terlihat. Pernyataan yang tampak sederhana dapat memiliki arti penting ketika dikaitkan dengan bagian lain dalam cerita.
Peneliti sebaiknya tidak terburu-buru memecah data menjadi kode. Pemahaman terhadap keseluruhan pengalaman akan membantu proses pengkodean menjadi lebih kontekstual.
Mengidentifikasi Pernyataan Signifikan
Setelah memahami transkrip, peneliti dapat menandai pernyataan yang secara langsung berkaitan dengan pengalaman fenomena yang diteliti. Pernyataan ini dapat disebut sebagai significant statements atau pernyataan signifikan.
Misalnya informan mengatakan:
“Awalnya saya merasa tidak yakin bisa mengerjakan tugas sendiri. Setelah beberapa kali dibimbing, saya mulai merasa mampu dan berani mengambil tugas tanpa harus selalu menunggu arahan.”
Pernyataan tersebut mengandung pengalaman penting mengenai perubahan rasa percaya diri dan kemandirian.
Peneliti kemudian dapat mencatat makna dari pernyataan tersebut tanpa langsung membuat kesimpulan yang terlalu luas.
Menentukan Unit Makna
Pernyataan signifikan dapat dikelompokkan menjadi unit-unit makna. Unit makna adalah bagian data yang memiliki gagasan atau pengalaman tertentu dan relevan dengan fokus penelitian.
Contohnya, dari pernyataan informan mengenai pengalaman magang, peneliti dapat menemukan unit makna seperti “merasa tidak yakin”, “mendapat bimbingan”, “mengembangkan kemampuan”, dan “menjadi lebih mandiri”.
Unit makna membantu peneliti bergerak dari data mentah menuju struktur analisis yang lebih terorganisasi.
| Kutipan informan | Unit makna | Interpretasi awal |
|---|---|---|
| Merasa tidak yakin mengerjakan tugas | Keraguan diri | Belum percaya pada kemampuan |
| Mendapat beberapa kali bimbingan | Dukungan pembimbing | Bantuan memengaruhi proses belajar |
| Mulai berani mengambil tugas | Peningkatan kepercayaan diri | Muncul keberanian |
| Tidak selalu menunggu arahan | Kemandirian | Kemampuan bekerja mulai berkembang |
Tabel tersebut bukan hasil akhir analisis. Peneliti masih perlu membandingkan unit makna dengan data lain sebelum menentukan tema yang lebih luas.
Memberikan Kode pada Data Wawancara
Koding dapat digunakan untuk memberikan label singkat pada unit data. Kode membantu peneliti mengorganisasi informasi dan menemukan hubungan antarbagian transkrip.
Contohnya, pernyataan mengenai rasa tidak yakin dapat diberi kode “keraguan diri”. Pernyataan mengenai bantuan pembimbing dapat diberi kode “dukungan pembimbing”, sedangkan perubahan menjadi lebih mandiri dapat diberi kode “peningkatan kemandirian”.
Kode sebaiknya dibuat konsisten. Jika dua pernyataan memiliki makna yang sama, peneliti dapat menggunakan kode yang sama atau membuat aturan yang jelas mengenai perbedaannya.
Dalam penelitian fenomenologi, kode bukan tujuan akhir. Kode digunakan sebagai alat untuk membantu peneliti memahami struktur pengalaman dan menemukan tema yang menggambarkan fenomena.
Mengelompokkan Kode Menjadi Tema
Setelah kode diperoleh, peneliti dapat mencari hubungan dan kesamaan makna. Beberapa kode kemudian dapat dikelompokkan menjadi tema.
Misalnya kode “keraguan diri”, “takut melakukan kesalahan”, dan “belum yakin dengan kemampuan” dapat dikelompokkan menjadi tema “ketidakpercayaan diri pada tahap awal”.
Kode “dukungan pembimbing”, “arahan pekerjaan”, dan “evaluasi tugas” dapat membentuk tema “peran dukungan dalam proses adaptasi”.
Pengelompokan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan makna, bukan hanya kesamaan kata.
| Kode | Kelompok makna | Tema |
|---|---|---|
| Keraguan diri | Kondisi emosional awal | Tantangan awal |
| Takut melakukan kesalahan | Kondisi emosional awal | Tantangan awal |
| Dukungan pembimbing | Dukungan eksternal | Proses adaptasi |
| Arahan pekerjaan | Dukungan eksternal | Proses adaptasi |
| Lebih mandiri | Perubahan diri | Transformasi pengalaman |
Tema yang terbentuk perlu memiliki hubungan dengan fokus fenomena. Peneliti juga perlu memastikan bahwa tema memiliki dukungan data yang cukup dari transkrip.
Mengidentifikasi Makna Pengalaman Informan
Salah satu aspek penting dalam fenomenologi adalah memahami makna pengalaman. Peneliti tidak hanya bertanya “apa yang terjadi?”, tetapi juga “apa arti pengalaman tersebut bagi informan?”.
Misalnya, seorang informan mengatakan bahwa ia awalnya takut berbicara di depan banyak orang. Setelah mengikuti beberapa kegiatan organisasi, ia mulai lebih percaya diri. Bagi informan tersebut, pengalaman organisasi mungkin dimaknai sebagai proses membangun keberanian dan kemampuan komunikasi.
Makna seperti ini perlu dilihat berdasarkan cerita informan secara keseluruhan. Peneliti tidak seharusnya langsung memberikan makna berdasarkan asumsi pribadi.
Menyusun Deskripsi Tekstural dan Struktural
Dalam beberapa pendekatan fenomenologi, analisis dapat membedakan deskripsi tekstural dan struktural. Deskripsi tekstural berfokus pada apa yang dialami informan, sedangkan deskripsi struktural membantu menjelaskan bagaimana pengalaman tersebut terjadi dalam konteks tertentu.
Misalnya, deskripsi tekstural dapat menjelaskan bahwa mahasiswa merasa gugup ketika pertama kali bekerja karena belum mengenal lingkungan perusahaan.
Deskripsi struktural dapat menjelaskan kondisi yang melatarbelakangi pengalaman tersebut, seperti lingkungan baru, tuntutan pekerjaan, interaksi dengan orang yang belum dikenal, dan kurangnya pengalaman sebelumnya.
Kedua bentuk deskripsi tersebut dapat saling melengkapi untuk memberikan gambaran pengalaman yang lebih utuh.
Menyusun Esensi Pengalaman
Esensi pengalaman merupakan gambaran inti yang menjelaskan makna mendasar dari fenomena yang diteliti. Esensi bukan sekadar ringkasan seluruh jawaban informan, melainkan hasil pemaknaan terhadap pola pengalaman yang ditemukan.
Misalnya, penelitian mengenai pengalaman mahasiswa beradaptasi di tempat magang menemukan bahwa informan mengalami ketidakpastian pada awal kegiatan, memperoleh dukungan sosial, belajar menghadapi tuntutan kerja, dan akhirnya mengembangkan kemandirian.
Esensi pengalaman dapat menggambarkan bahwa proses adaptasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menjalankan tugas, tetapi juga perubahan cara informan melihat dirinya dalam lingkungan profesional.
Penyusunan esensi harus tetap didukung oleh data. Peneliti perlu menunjukkan bagaimana kesimpulan tersebut diperoleh dari berbagai pengalaman informan.
Contoh Analisis Wawancara Fenomenologi
Misalnya penelitian memiliki fokus:
“Bagaimana pengalaman mahasiswa dalam menghadapi proses adaptasi selama praktik kerja lapangan?”
Informan memberikan jawaban:
“Saya sempat merasa minder karena teman-teman di tempat magang terlihat lebih menguasai pekerjaan. Saya takut kalau hasil pekerjaan saya salah. Setelah pembimbing menjelaskan bahwa saya masih dalam tahap belajar, saya mulai berani bertanya. Lama-kelamaan saya bisa mengerjakan tugas sendiri.”
Data tersebut dapat dianalisis seperti berikut:
| Tahap analisis | Hasil |
|---|---|
| Pernyataan penting | Merasa minder, takut salah, berani bertanya, mampu bekerja sendiri |
| Kode | Minder, takut melakukan kesalahan, mencari bantuan, kemandirian |
| Kategori | Tantangan emosional dan proses pembelajaran |
| Tema | Adaptasi melalui dukungan dan pengalaman |
| Makna | Proses belajar membantu membangun kepercayaan diri |
Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pengalaman informan tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan. Ada proses emosional dan perubahan kemampuan yang terjadi selama menjalani fenomena tersebut.
Membandingkan Pengalaman Antar Informan
Dalam penelitian fenomenologi dengan beberapa informan, peneliti dapat membandingkan pengalaman untuk menemukan kesamaan dan perbedaan. Perbandingan bukan berarti menghilangkan keunikan setiap informan.
Misalnya, seluruh informan mengalami rasa tidak percaya diri ketika memulai magang. Namun, penyebabnya dapat berbeda. Ada yang belum memiliki pengalaman, ada yang takut melakukan kesalahan, dan ada yang merasa kesulitan berkomunikasi.
| Aspek pengalaman | Informan A | Informan B | Informan C |
|---|---|---|---|
| Kondisi awal | Gugup | Minder | Takut salah |
| Tantangan | Tugas baru | Lingkungan kerja | Komunikasi |
| Dukungan | Pembimbing | Rekan kerja | Pembimbing |
| Perubahan | Lebih mandiri | Lebih percaya diri | Lebih komunikatif |
Perbandingan seperti ini dapat membantu peneliti menemukan struktur pengalaman yang memiliki kesamaan sekaligus variasi.
Peran Bracketing dalam Analisis Fenomenologi
Bracketing berkaitan dengan upaya peneliti untuk menyadari dan mengelola asumsi, pengalaman, serta pandangan pribadi yang dapat memengaruhi proses memahami data. Peneliti perlu menyadari bahwa dirinya memiliki latar belakang dan pengalaman tertentu yang dapat memengaruhi interpretasi.
Dalam praktik penelitian, peneliti dapat membuat catatan reflektif mengenai asumsi pribadi sebelum dan selama proses analisis. Catatan tersebut membantu peneliti menyadari kemungkinan bias ketika membaca cerita informan.
Bracketing bukan berarti peneliti dapat sepenuhnya menghilangkan semua pengalaman dan perspektif pribadi. Penerapannya lebih berkaitan dengan refleksivitas dan upaya menjaga agar interpretasi tetap berorientasi pada pengalaman informan.
Kesalahan yang Sering Dilakukan
Kesalahan yang sering terjadi adalah mengubah analisis fenomenologi menjadi sekadar ringkasan wawancara. Peneliti mungkin menuliskan apa yang dikatakan informan tanpa menjelaskan makna pengalaman yang ditemukan.
Kesalahan lain adalah memberikan kode tanpa memahami konteks. Pernyataan informan sebaiknya tidak dipisahkan dari cerita keseluruhannya karena makna suatu pernyataan dapat berubah ketika konteksnya berbeda.
Peneliti juga perlu menghindari terlalu cepat menggunakan teori untuk menjelaskan semua data. Dalam fenomenologi, pengalaman informan perlu dipahami terlebih dahulu sebelum dikaitkan dengan konsep atau teori yang relevan.
Kesalahan berikutnya adalah menganggap semua informan harus memiliki pengalaman yang sama. Fenomenologi dapat menemukan kesamaan pengalaman, tetapi variasi pengalaman juga merupakan bagian penting dari data.
Tips Praktis Analisis Wawancara Fenomenologi
Analisis fenomenologi membutuhkan ketelitian dan refleksi. Peneliti sebaiknya menyediakan waktu yang cukup untuk membaca transkrip dan tidak langsung mengambil kesimpulan setelah wawancara selesai.
Beberapa tips yang dapat diterapkan meliputi:
- Pastikan fenomena penelitian memiliki batas yang jelas.
- Baca transkrip secara berulang.
- Tandai pernyataan yang benar-benar berkaitan dengan pengalaman.
- Catat unit makna secara sistematis.
- Gunakan kode yang singkat dan konsisten.
- Kelompokkan kode berdasarkan kesamaan makna.
- Bandingkan tema dengan keseluruhan transkrip.
- Buat catatan reflektif selama analisis.
- Gunakan kutipan informan untuk mendukung temuan.
- Pastikan kesimpulan dapat ditelusuri kembali pada data.
Tips tersebut dapat membantu peneliti menjaga keseimbangan antara kedalaman interpretasi dan keterikatan terhadap data.
Rekomendasi Penerapan untuk Skripsi dan Tesis
Analisis wawancara fenomenologi sebaiknya diterapkan ketika fokus penelitian memang berkaitan dengan pengalaman hidup dan makna yang diberikan individu terhadap suatu fenomena. Rumusan masalah perlu menunjukkan kebutuhan untuk memahami pengalaman tersebut secara mendalam.
Instrumen wawancara juga perlu dirancang agar informan memiliki kesempatan untuk bercerita. Pertanyaan terbuka seperti “Bagaimana pengalaman Anda ketika…?” atau “Apa yang Anda rasakan ketika…?” dapat membantu menghasilkan data yang lebih kaya dibandingkan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”.
Pada bagian hasil penelitian, peneliti dapat menyajikan tema-tema utama yang ditemukan, kemudian memberikan uraian dan kutipan informan sebagai bukti. Pembahasan dapat menghubungkan temuan tersebut dengan teori dan penelitian terdahulu yang relevan.
Peneliti juga perlu menjaga konsistensi antara paradigma, desain fenomenologi, teknik pengumpulan data, teknik analisis, dan cara menyajikan hasil. Konsistensi metodologis penting agar penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Menjaga Kredibilitas Hasil Analisis
Kredibilitas analisis dapat diperkuat melalui dokumentasi proses penelitian yang sistematis. Peneliti sebaiknya menyimpan transkrip, kode, kategori, tema, catatan reflektif, dan keputusan analisis.
Triangulasi dapat digunakan apabila sesuai dengan rancangan penelitian. Peneliti juga dapat melakukan diskusi dengan pembimbing atau rekan peneliti untuk memperoleh sudut pandang terhadap proses interpretasi.
Member checking juga dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan penelitian. Peneliti perlu menjelaskan prosedur yang digunakan dan tidak menjadikan satu teknik sebagai jaminan otomatis terhadap kualitas penelitian.
Yang paling penting adalah memastikan bahwa hasil penelitian memiliki hubungan yang jelas dengan data wawancara. Setiap tema dan interpretasi perlu dapat ditelusuri kembali pada pengalaman yang disampaikan informan.
Baca juga: Cara Menganalisis Wawancara dalam Penelitian Fenomenologi
Kesimpulan
Analisis wawancara dalam penelitian fenomenologi digunakan untuk memahami pengalaman informan secara mendalam, termasuk perasaan, persepsi, konteks, perubahan, dan makna yang diberikan terhadap suatu fenomena. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada apa yang dikatakan informan, tetapi juga berusaha memahami inti pengalaman yang terdapat di balik cerita tersebut.
Proses analisis dapat dilakukan melalui pembacaan transkrip secara menyeluruh, identifikasi pernyataan signifikan, penentuan unit makna, pemberian kode, pengelompokan kode menjadi tema, pemaknaan pengalaman, hingga penyusunan esensi fenomena. Perbandingan antar informan dapat dilakukan untuk menemukan pola sekaligus mempertahankan variasi pengalaman.
Peneliti perlu menghindari analisis yang hanya berupa ringkasan wawancara, penggunaan kode tanpa konteks, interpretasi yang terlalu dipengaruhi asumsi pribadi, serta pemaksaan teori terhadap pengalaman informan. Refleksivitas, dokumentasi proses analisis, dan keterikatan pada data menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas penelitian.
Dengan analisis yang sistematis, wawancara fenomenologi dapat menghasilkan gambaran yang mendalam mengenai bagaimana seseorang mengalami, memahami, dan memberikan makna terhadap suatu fenomena. Pendekatan ini sangat relevan untuk penelitian yang ingin memahami pengalaman manusia secara utuh dan kontekstual.
SkripsiYuk! siap membantu Anda melalui layanan konsultasi akademik untuk penyusunan instrumen penelitian, operasionalisasi variabel, penyusunan kuesioner, pedoman wawancara, analisis data kualitatif, uji validitas dan reliabilitas, hingga pendampingan metodologi penelitian. Dengan bimbingan yang tepat, proses penyusunan skripsi, tesis, disertasi, maupun publikasi ilmiah dapat berjalan lebih efektif, sistematis, dan sesuai kaidah akademik. Segera konsultasikan kebutuhan Anda melalui WhatsApp atau Instagram untuk mendapatkan informasi program pendampingan yang sesuai.


