Cara Mengutip Artikel Ilmiah dengan Benar Beserta Contoh Format APA dan IEEE

Artikel ilmiah merupakan salah satu sumber referensi yang paling banyak digunakan dalam penyusunan karya akademik, seperti skripsi, tesis, disertasi, artikel jurnal, proposal penelitian, hingga laporan ilmiah. Dibandingkan sumber informasi umum, artikel ilmiah umumnya telah melalui proses penelaahan (peer review) sehingga memiliki tingkat kredibilitas yang lebih tinggi. Namun, menggunakan artikel ilmiah sebagai referensi tidak cukup hanya dengan membacanya. Penulis juga harus memahami cara mengutip artikel ilmiah dengan benar agar tetap mematuhi etika akademik dan terhindar dari praktik plagiarisme.

Sayangnya, masih banyak mahasiswa maupun peneliti pemula yang mengalami kebingungan ketika harus menuliskan sitasi dari artikel ilmiah. Tidak sedikit yang salah menempatkan nama penulis, tahun publikasi, hingga format daftar pustaka. Bahkan, perbedaan gaya sitasi seperti APA Style dan IEEE sering kali membuat proses penulisan menjadi lebih rumit apabila belum dipahami sejak awal.

Padahal, memahami cara mengutip artikel ilmiah bukan sekadar memenuhi aturan penulisan akademik. Sitasi memiliki fungsi penting untuk memberikan penghargaan kepada penulis asli, memperkuat argumen penelitian, menunjukkan bahwa pembahasan didasarkan pada sumber yang kredibel, sekaligus memudahkan pembaca menemukan referensi yang digunakan.

Melalui artikel ini, Anda akan mempelajari cara mengutip artikel ilmiah secara lengkap mulai dari pengertian, alasan pentingnya sitasi, jenis-jenis kutipan, perbedaan format APA dan IEEE, contoh penerapan dalam teks, hingga berbagai kesalahan yang sering dilakukan beserta tips agar proses sitasi menjadi lebih mudah.

Cara mengutip artikel ilmiah

Apa yang Dimaksud dengan Mengutip Artikel Ilmiah?

Mengutip artikel ilmiah adalah proses mengambil informasi, gagasan, teori, hasil penelitian, data, maupun pendapat dari sebuah artikel yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah kemudian mencantumkan sumbernya sesuai dengan aturan sitasi tertentu. Informasi yang dikutip dapat berupa kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung, tergantung pada kebutuhan penulisan.

Dalam dunia akademik, setiap ide yang berasal dari karya orang lain harus diberikan atribusi yang jelas. Hal ini merupakan bagian dari integritas ilmiah yang wajib dipatuhi oleh mahasiswa, dosen, peneliti, maupun akademisi.

Sebagai contoh, apabila Anda menulis pembahasan mengenai pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumen berdasarkan hasil penelitian yang diterbitkan dalam sebuah jurnal, maka informasi tersebut harus disertai sitasi sehingga pembaca mengetahui asal data yang digunakan.

Dengan demikian, mengutip artikel ilmiah bukan sekadar formalitas penulisan, melainkan bentuk penghargaan terhadap karya intelektual orang lain.

Mengapa Mengutip Artikel Ilmiah Sangat Penting?

Banyak orang menganggap sitasi hanya diperlukan agar dosen atau editor jurnal menerima naskah yang ditulis. Padahal, manfaat sitasi jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi persyaratan administrasi.

Beberapa alasan mengapa sitasi artikel ilmiah sangat penting antara lain sebagai berikut.

Manfaat Penjelasan
Menghindari plagiarisme Menunjukkan bahwa ide berasal dari penulis lain.
Meningkatkan kredibilitas tulisan Argumen didukung oleh penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Memudahkan pembaca Pembaca dapat menemukan sumber asli dengan mudah.
Menunjukkan keluasan literatur Penulis terlihat telah melakukan kajian pustaka secara mendalam.
Memenuhi etika akademik Menjadi standar dalam penulisan karya ilmiah di berbagai institusi.

Selain manfaat di atas, sitasi juga membantu membangun jaringan pengetahuan. Penelitian pada dasarnya berkembang melalui hasil penelitian sebelumnya. Oleh karena itu, setiap kutipan menjadi penghubung antara penelitian lama dengan penelitian baru.

Jenis-Jenis Kutipan Artikel Ilmiah

Sebelum mempelajari format sitasi, penting untuk memahami jenis kutipan yang umum digunakan dalam karya ilmiah. Pemilihan jenis kutipan akan memengaruhi cara penulisannya di dalam naskah.

Secara umum terdapat dua jenis kutipan yang paling sering digunakan.

Kutipan Langsung

Kutipan langsung merupakan pengambilan kalimat dari sumber asli tanpa mengubah susunan kata maupun maknanya. Kutipan ini biasanya digunakan apabila penulis ingin mempertahankan redaksi asli karena dianggap memiliki makna yang sangat penting.

Contoh:

Menurut Andini (2023), “literasi digital merupakan kemampuan individu dalam mengakses, mengevaluasi, serta memanfaatkan informasi digital secara bertanggung jawab.”

Pada kutipan langsung, penulis wajib mencantumkan nomor halaman apabila gaya sitasi yang digunakan memang mensyaratkannya, seperti APA Style.

Kutipan Tidak Langsung

Kutipan tidak langsung dilakukan dengan menuliskan kembali gagasan penulis menggunakan kalimat sendiri tanpa mengubah makna aslinya.

Contoh:

Kemampuan literasi digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga kemampuan mengevaluasi informasi secara kritis (Andini, 2023).

Dalam praktik akademik, kutipan tidak langsung lebih sering digunakan karena membuat alur tulisan menjadi lebih alami sekaligus menunjukkan kemampuan penulis dalam memahami sumber referensi.

 

Mengenal Berbagai Gaya Sitasi

Tidak semua institusi menggunakan aturan sitasi yang sama. Setiap bidang ilmu memiliki standar penulisan yang berbeda.

Beberapa gaya sitasi yang paling populer antara lain:

Gaya Sitasi Bidang yang Umum Menggunakan
APA Style Pendidikan, psikologi, ekonomi, manajemen, ilmu sosial
IEEE Teknik, informatika, komputer, elektronika
Vancouver Kedokteran dan kesehatan
MLA Sastra dan humaniora
Chicago Sejarah dan ilmu sosial tertentu
Harvard Digunakan oleh berbagai perguruan tinggi

Di Indonesia, dua format yang paling banyak digunakan dalam penyusunan skripsi dan artikel jurnal adalah APA Style dan IEEE. Oleh karena itu, memahami kedua format tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa.

Cara Mengutip Artikel Ilmiah Menggunakan Format APA Style

APA (American Psychological Association) merupakan gaya sitasi yang paling banyak digunakan dalam bidang ilmu sosial. Ciri utama APA adalah penggunaan nama penulis dan tahun publikasi sebagai penanda sitasi di dalam teks.

Model ini memudahkan pembaca mengetahui kapan penelitian diterbitkan sekaligus siapa penulisnya.

Secara umum, format sitasi dalam teks menggunakan pola berikut.

Nama Penulis (Tahun)

atau

(Nama Penulis, Tahun)

Pemilihannya bergantung pada posisi nama penulis dalam kalimat.

Sebagai ilustrasi, apabila nama penulis menjadi bagian dari narasi, maka tahun dituliskan setelah nama penulis.

Contoh:

Suryani (2022) menjelaskan bahwa penggunaan media pembelajaran digital mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

Sementara itu, apabila nama penulis tidak menjadi bagian kalimat, maka sitasi ditempatkan di akhir pernyataan.

Contoh:

Media pembelajaran digital terbukti meningkatkan motivasi belajar siswa (Suryani, 2022).

Kedua bentuk tersebut sama-sama benar selama diterapkan secara konsisten.

Baca juga: Analisis Data SmartPLS: Fungsi, Tahapan, dan Interpretasi Hasil

Cara Menulis Sitasi APA Berdasarkan Jumlah Penulis

Jumlah penulis dalam artikel ilmiah akan memengaruhi bentuk sitasi yang digunakan.

Berikut beberapa aturan yang perlu diperhatikan.

Jumlah Penulis Bentuk Sitasi
1 penulis (Rahman, 2023)
2 penulis (Rahman & Putri, 2023)
3 penulis atau lebih (Rahman et al., 2023)

Aturan penggunaan et al. bertujuan agar sitasi tetap ringkas meskipun artikel memiliki banyak penulis.

Sebagai contoh:

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kecerdasan buatan mulai banyak dimanfaatkan dalam proses pembelajaran daring (Rahman et al., 2023).

Cara Menulis Daftar Pustaka Artikel Jurnal Format APA

Selain sitasi di dalam teks, penulis juga harus mencantumkan referensi lengkap pada daftar pustaka.

Secara umum formatnya adalah:

Nama Belakang, Inisial Nama Depan. (Tahun). Judul artikel. Nama Jurnal, Volume(Nomor), Halaman. DOI

Contoh:

Rahman, A., & Putri, D. (2023). Digital literacy among university students. Journal of Educational Technology, 12(3), 120–135. https://doi.org/xxxxx

Beberapa perguruan tinggi juga mengharuskan penulisan DOI apabila tersedia karena memudahkan pembaca menemukan artikel asli secara langsung.

Cara Mengutip Artikel Ilmiah Menggunakan Format IEEE

Berbeda dengan APA Style yang menggunakan nama penulis dan tahun, IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) memakai sistem penomoran.

Setiap referensi diberi nomor sesuai urutan kemunculannya dalam naskah. Nomor tersebut kemudian digunakan kembali apabila sumber yang sama dikutip pada bagian lain.

Contohnya sebagai berikut.

Artificial intelligence mampu meningkatkan efisiensi analisis data penelitian [1].

Apabila sumber yang sama dikutip kembali beberapa halaman berikutnya, penulis tetap menggunakan nomor yang sama, yaitu [1], bukan membuat nomor baru.

Sistem ini membuat tulisan menjadi lebih ringkas sehingga sangat populer pada bidang teknik, informatika, dan ilmu komputer.

Pada bagian selanjutnya, akan dibahas secara lebih mendalam mengenai format daftar pustaka IEEE, perbandingan lengkap antara APA dan IEEE, contoh mengutip artikel ilmiah dari Google Scholar, jurnal nasional maupun internasional, penggunaan aplikasi seperti Mendeley, kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa, serta berbagai tips praktis agar sitasi menjadi lebih cepat, akurat, dan sesuai standar akademik.

Cara Menulis Daftar Pustaka Artikel Ilmiah Menggunakan Format IEEE

Selain sitasi dalam teks, gaya IEEE juga mengatur cara penulisan daftar pustaka secara khusus. Berbeda dengan APA Style yang mengurutkan referensi berdasarkan abjad nama penulis, IEEE mengurutkan daftar pustaka berdasarkan nomor sitasi yang muncul pertama kali dalam naskah.

Format umum referensi artikel jurnal dalam IEEE adalah sebagai berikut.

[Nomor] Nama Depan Inisial. Nama Belakang, “Judul artikel,” Nama Jurnal, vol. x, no. x, pp. xx–xx, Tahun.

Contoh:

[1] A. Rahman and D. Putri, “Digital literacy among university students,” Journal of Educational Technology, vol. 12, no. 3, pp. 120–135, 2023.

Apabila artikel memiliki DOI, beberapa penerbit maupun institusi juga menyarankan untuk mencantumkannya pada akhir referensi agar sumber lebih mudah dilacak.

Keunggulan sistem IEEE adalah tampilannya yang lebih ringkas ketika digunakan dalam artikel yang memiliki banyak referensi. Oleh karena itu, gaya ini banyak diterapkan pada bidang teknik, informatika, elektronika, sistem informasi, maupun ilmu komputer.

konsultasi skripsi

Perbedaan Format APA dan IEEE

Banyak mahasiswa masih bingung menentukan format sitasi yang tepat karena setiap kampus atau jurnal memiliki ketentuan masing-masing. Padahal, memahami karakteristik setiap gaya sitasi akan mempermudah proses penulisan sejak awal.

Berikut perbandingan singkat antara APA Style dan IEEE.

Aspek APA Style IEEE
Sistem sitasi Nama penulis dan tahun Nomor referensi
Contoh sitasi (Rahman, 2023) [1]
Urutan daftar pustaka Alfabet berdasarkan nama penulis Berdasarkan urutan kemunculan
Bidang ilmu Ilmu sosial, pendidikan, ekonomi Teknik, komputer, informatika
Fokus informasi Penulis dan tahun publikasi Nomor referensi

Tidak ada format yang lebih baik dibandingkan yang lain. Pemilihannya bergantung pada pedoman institusi, jurnal, atau konferensi tempat karya ilmiah akan dipublikasikan. Karena itu, selalu baca panduan penulisan sebelum mulai menyusun sitasi dan daftar pustaka.

Contoh Mengutip Artikel Ilmiah dari Google Scholar

Saat ini, banyak mahasiswa mencari referensi melalui Google Scholar karena menyediakan berbagai artikel ilmiah dari jurnal nasional maupun internasional. Namun, penting dipahami bahwa Google Scholar hanyalah mesin pencari, bukan sumber referensi itu sendiri.

Artinya, yang dikutip bukan Google Scholar, melainkan artikel jurnal yang ditemukan melalui platform tersebut.

Sebagai contoh, apabila ditemukan artikel dengan data berikut:

  • Penulis: Andi Pratama
  • Tahun: 2022
  • Judul: The Effect of Digital Learning on Student Achievement
  • Jurnal: International Journal of Education

Maka sitasi menggunakan APA menjadi:

(Pratama, 2022)

Sedangkan pada daftar pustaka ditulis sesuai format APA.

Apabila menggunakan IEEE, artikel tersebut memperoleh nomor referensi, misalnya [3], sehingga setiap kali dikutip cukup menggunakan angka tersebut.

Memahami perbedaan ini penting karena masih banyak mahasiswa yang keliru menuliskan “Google Scholar” pada daftar pustaka, padahal yang harus dicantumkan adalah identitas artikel ilmiahnya.

Cara Mengutip Artikel Jurnal Nasional dan Internasional

Secara prinsip, tidak terdapat perbedaan mendasar antara cara mengutip artikel jurnal nasional dan jurnal internasional. Yang membedakan hanyalah informasi identitas jurnal, seperti bahasa, nama penerbit, atau DOI.

Pastikan setiap referensi memuat unsur-unsur berikut apabila tersedia:

  • Nama penulis.
  • Tahun terbit.
  • Judul artikel.
  • Nama jurnal.
  • Volume dan nomor jurnal.
  • Rentang halaman.
  • DOI atau tautan permanen.

Kelengkapan informasi tersebut akan memudahkan pembaca menelusuri sumber asli sekaligus meningkatkan kualitas karya ilmiah.

Menggunakan Mendeley untuk Mempermudah Sitasi

Menulis sitasi secara manual memang memungkinkan, tetapi akan menjadi cukup merepotkan ketika jumlah referensi mencapai puluhan hingga ratusan. Oleh sebab itu, banyak mahasiswa memanfaatkan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley.

Mendeley dapat membantu mengelola referensi sekaligus menghasilkan sitasi dan daftar pustaka secara otomatis sesuai gaya penulisan yang dipilih.

Beberapa manfaat menggunakan Mendeley antara lain:

  • Menyimpan artikel ilmiah dalam satu pustaka digital.
  • Menghasilkan sitasi secara otomatis.
  • Mengubah gaya sitasi hanya dengan beberapa klik.
  • Mengurangi risiko kesalahan penulisan referensi.
  • Mempermudah sinkronisasi referensi antarperangkat.

Meskipun demikian, hasil sitasi dari Mendeley tetap perlu diperiksa kembali. Kesalahan metadata pada artikel, seperti nama penulis yang tidak lengkap atau tahun publikasi yang keliru, dapat menyebabkan daftar pustaka ikut menjadi tidak akurat.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Mengutip Artikel Ilmiah

Kesalahan dalam sitasi masih sering ditemukan, terutama pada penulis yang baru pertama kali menyusun karya ilmiah. Padahal, kesalahan kecil dapat memengaruhi kredibilitas tulisan dan menyulitkan proses pemeriksaan oleh dosen pembimbing maupun editor jurnal.

Beberapa kesalahan yang paling sering terjadi adalah sebagai berikut.

  • Tidak mencantumkan sumber setelah mengambil ide dari penelitian lain.
  • Format sitasi dalam teks tidak sesuai dengan pedoman yang digunakan.
  • Sitasi dan daftar pustaka tidak saling sesuai.
  • Menuliskan referensi yang tidak pernah dikutip dalam pembahasan.
  • Mengutip artikel tanpa membaca isi secara menyeluruh.
  • Menggunakan informasi dari sumber yang tidak kredibel.
  • Menyalin kalimat secara utuh tanpa tanda kutip pada kutipan langsung.
  • Mencampurkan beberapa gaya sitasi dalam satu dokumen.

Menghindari kesalahan tersebut sejak awal akan membuat proses revisi menjadi lebih ringan sekaligus meningkatkan kualitas karya ilmiah secara keseluruhan.

Tips Praktis Agar Sitasi Lebih Rapi dan Konsisten

Menyusun sitasi tidak perlu menjadi pekerjaan yang rumit apabila dilakukan secara sistematis. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu menjaga konsistensi penulisan referensi.

  1. Simpan seluruh artikel ilmiah yang digunakan dalam satu folder khusus sehingga mudah ditemukan kembali saat proses revisi.
  2. Catat identitas artikel sejak pertama kali membaca, meliputi nama penulis, tahun, judul, nama jurnal, volume, nomor, halaman, serta DOI jika tersedia. Langkah ini akan menghemat waktu ketika menyusun daftar pustaka.
  3. Gunakan satu gaya sitasi secara konsisten sejak awal penulisan. Mengubah format ketika naskah hampir selesai sering kali membutuhkan waktu yang cukup lama, terutama apabila seluruh sitasi dibuat secara manual.
  4. Manfaatkan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley, Zotero, atau EndNote untuk membantu mengelola sumber pustaka secara lebih efisien.
  5. Lakukan pengecekan akhir sebelum naskah dikumpulkan. Pastikan setiap sitasi dalam teks memiliki pasangan pada daftar pustaka dan setiap referensi dalam daftar pustaka benar-benar digunakan dalam pembahasan.

Rekomendasi Penerapan dalam Penulisan Skripsi dan Artikel Ilmiah

Menguasai teknik mengutip artikel ilmiah merupakan salah satu keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh setiap mahasiswa dan peneliti. Kemampuan ini tidak hanya berguna saat menyusun skripsi, tetapi juga ketika menulis proposal penelitian, tesis, disertasi, artikel jurnal, maupun laporan penelitian.

Sebagai langkah awal, tentukan terlebih dahulu pedoman sitasi yang diwajibkan oleh institusi atau penerbit. Setelah itu, gunakan referensi yang relevan, mutakhir, dan berasal dari sumber yang kredibel. Semakin baik kualitas referensi yang digunakan, semakin kuat pula landasan teori dan argumentasi dalam karya ilmiah.

Selain itu, biasakan membaca artikel secara menyeluruh sebelum mengutipnya. Hindari mengambil informasi hanya berdasarkan abstrak karena dapat menyebabkan kesalahan dalam memahami konteks penelitian.

Dengan penerapan yang konsisten, proses penulisan akan menjadi lebih sistematis, profesional, dan sesuai dengan standar akademik.

Baca juga: Cara Membuat Daftar Pustaka Otomatis di Word untuk Skripsi

Kesimpulan

Memahami cara mengutip artikel ilmiah dengan benar merupakan bagian penting dalam penyusunan karya akademik yang berkualitas. Sitasi bukan sekadar memenuhi aturan penulisan, melainkan bentuk penghargaan terhadap karya intelektual peneliti lain sekaligus upaya menjaga integritas akademik.

Baik menggunakan format APA maupun IEEE, setiap gaya sitasi memiliki karakteristik dan aturan tersendiri. APA lebih menonjolkan nama penulis dan tahun publikasi sehingga banyak digunakan dalam bidang ilmu sosial, sedangkan IEEE menggunakan sistem penomoran yang lebih ringkas dan umum diterapkan pada bidang teknik serta informatika.

Dengan memahami jenis kutipan, cara menulis sitasi dalam teks, penyusunan daftar pustaka, hingga memanfaatkan aplikasi seperti Mendeley, mahasiswa dapat menghasilkan karya ilmiah yang lebih rapi, kredibel, dan mudah dipertanggungjawabkan. Yang tidak kalah penting, selalu gunakan referensi yang relevan dan ikuti pedoman penulisan dari institusi atau jurnal tujuan agar proses penyusunan naskah berjalan lebih lancar.

Apabila Anda sedang menyusun skripsi, tesis, disertasi, artikel jurnal, maupun proposal penelitian dan membutuhkan pendampingan akademik, SkripsiYuk! siap membantu melalui layanan konsultasi yang profesional dan berorientasi pada kebutuhan penulis. Pendampingan dapat mencakup penyusunan sitasi, pengelolaan referensi menggunakan Mendeley, perbaikan daftar pustaka, penyuntingan naskah, hingga konsultasi metodologi penelitian.

Jika Anda mengalami kesulitan dalam menyusun skripsi, tesis, atau disertasi, pendampingan akademik dapat menjadi solusi untuk membantu proses penelitian berjalan lebih terarah. Banyak mahasiswa menghadapi kendala seperti menentukan topik penelitian, menyusun metodologi, mencari referensi jurnal, hingga revisi berulang dari dosen pembimbing. Melalui layanan konsultasi dan pendampingan penelitian dari mentor berpengalaman, proses penyusunan karya ilmiah dapat menjadi lebih sistematis, efektif, dan mudah dipahami. Anda dapat berkonsultasi mengenai kebutuhan akademik melalui WhatsApp  atau Instagram untuk memperoleh informasi lengkap seputar program pendampingan skripsi, tesis, dan disertasi yang sesuai dengan kebutuhan penelitian Anda.